Islamsantun.org. Mungkin, tak terbayang oleh kita andaikan dunia ini tanpa api. Sejak lama kita telah mengenal api sebagai salah satu unsur dalam kehidupan selain udara, tanah, dan air. Betapa kesulitan akan ditemui saat manusia sulit menemukan api. Api kerap diimajinasikan sebagai sebuah hal dengan penuh tanda tanya. Mulai dari pengorbanan, semangat, dan heroisme. Padahal, di sisi lain, kita menginsyafi bahwa api tak ubahnya satu materi berwajah dua. Di satu sisi menenangkan, di sisi lain melahirkan ketegangan luar biasa.

Api yang menenangkan misalnya saat banyak ibu rumah tangga dengan khidmat menggunakannya untuk menanak nasi, mendidihkan air, hingga membakar berbagai jenis makanan. Api menyulut ketegangan saat wujud keberadaan api berlebihan. Misalkan terjadi dalam peristiwa kebakaran, ledakan pabrik, gunung berapi meletus, hingga percikan dari kendaraan bermotor yang menyebabkan si pengguna mendapati kesakitan. Betapa berharganya keberadaan api dengan dalih agar seimbang supaya keberadaannya tak menyebabkan hal membahayakan bagi manusia itu sendiri.

Kita membaca buku karya Barbara Ward dan René Dubos, diterjemahkan S. Supomo dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada 1974. Buku tersebut berjudul Hanya Satu Bumi: Perawatan dan Pemeliharaan sebuah Planit Kecil. Di salah satu bagian dalam buku tersebut, kita akan diajak menelusur salah satu mitologi yang ada di dalam Yunani, keberadaan Promotheus pencuri api Dewa Zeus. Untuk menggambarkannya, penulis menggunakan istilah “Api Promotheus”. Agaknya, penulis dengan sadar ingin membangun ingatan kita terkait keberadaan api. Kebaeradaan api sebenarnya sangatlah kompleks.

Penjelasan tersebut misalkan dituliskan dalam  kalimat berikut: “Membangkitkan tenaga atom itu di bumi berarti – hampir secara hurufiah – mencuri api dari kahyangan seperti yang dilakukan oleh Promotheus. Dan dengan kegelisahan yang timbul karena rasa berdosa, kita akan selalu ingat bahwa penggunaan pertama api Promotheus itu adalah untuk menyapu habis dua buah kota, tanpa mempedulikan salah tidaknya masing-masing individu, baik laki-laki maupun  perempuan, muda belia atau tua renta” (hlm. 185). Pernyatan itu agaknya membawa pada renungan salah satu momentum yang terjadi pada Perang Dunia kedua. Saat dimana masa itu ada kompromi dari kalangan ilmuwan yang kemudian menghasilkan senjata pemunah massal.

Kita kemudian mendapati kalimat selanjutnya, “Sesungguhnya, seandainya perang tidak memaksa untuk mempercepat penelitian atom dan seandainya tak ada kekhawatiran sesudah perang  akan kehabisan bahan bakar fosil, mungkin negara-negara maju tidak akan demikian cepatnya memulai proses yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan bahaya yang masih serba  baru, terlebih-lebih karena proses itu menimbulkan bahaya kerusakan yang tak dapat diperbaiki lagi terhadap warisan genetis manusia” (hlm. 185).

Kita diajak merenung lebih dalam akan keberadaan api, bagaimana negara yang kemudian melibatkan para saintis—khususnya pada momentum perang dunia kedua membuat sebuah kecerobohan dengan merenggut banyak korban jiwa. Di sana hikmah itu muncul. Ilmu pengetahuan perlu dibangun dan dikompromikan dengan perkara etika. Agar kemajuan dari ilmu pengetahuan tidak membuat manusia bertindak semena-mena. Ilmu pengetahuan maupun teknologi tak boleh jauh dari rasa kemanusiaan itu sendiri.

Pada bentang alam semesta, manusia terus menggali pengetahuan dan menemukan kegunaan benda untuk dimanfaatkan dalam kehidupannya. Satu hal tak terpisah dari kehdiupan manusia akan keberadaan hutan sebagai paru-paru kehidupan di bumi. Sejauh ini kita masih mendapati masalah serius berkaitan dengan hutan. Peter Farb dengan cerdik mengisahkan seluk-beluk akan hutan dalam buku The Forest, dimana pada tahun 1979 diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan Judul Hutan dan diterbitkan oleh Tira Pustaka. Kisah demi kisah disajikan olehnya dari lanskap kesejarahan hutan hingga hutan dalam masa depan.

Pada halaman 156 Farb menuliskan, “Api selalu merupakan unsur menonjol dalam kehidupan hutan – apakah itu disebabkan petir, kebakaran sampah hutan yang kering atau manusia. Penjelajah awal Amerika Utara pernah berjalan berhari-hari menembuas asap dari kebakaran yang jauh. Kebakaran yang melanda seluruh hutan biasanya tidak merusak banyak pohon; kebanyakan pulih kembali meski batangnya hangus. Dengan mengamati tunggulm kerap kali mungkinlah mengetahui kebakaran masa lalu.”

Kita kemudian menginsyafi bahwa pola seperti itu bisa jadi alamiah dan menjadi bagian penting dalam tata ekologi hutan. Tak lain menjadi wujud bagi hutan dalam pelestarian bagi habitat dan ekosistem di sana. Itu juga merupakan bagian dari sarana dalam kesinambungan hidup bagi hutan itu sendiri. Hutan menjadi lanskap pengetahuan yang barangkali mulai dilupakan oleh banyak manusia. Apalagi saat beragam kepentingan khususnya eksploitasi sumber daya yang ada. Manusia memiliki watak culas dan kerap ceroboh dalam banyak hal.

Kemudian terjadi, penyulutan api di lapis demi lapis dalam hutan tidak lain adalah unsur kesengajaan dengan berlatar belakang motif tertentu, utamanya ekonomi maupun bisnis. Mereka menggunakan api untuk tujuan pembukaan lahan, pendirian pabrik dan industri, hingga eksploitasi seluas-luasnya akan sumber daya alam. Tak mempedulikan keseimbangan alam. Oh, kita terlalu payah menghargai mulianya peran api dan kandungan di dalam keberadaan hutan. Api bukan sebagai sumber pengetahuan perlu terus digali dan menjadikan manusia bertindak bijaksana, namun sebaliknya api adalah dimaknai sebagai tindakan kesengajaan yang merusak unsur kehidupan lainnya.[]