“Tuhan, alam, dan manusia adalah ketakberhinggaan. Pada dirinya sendiri, ketiganya merupakan pengetahuan tak terbatas. Pikiran manusia membatasinya karena menempatkan apa yang tak berhingga dalam kepastian pikiran yang berhingga. Secara substansi, apa yang dsebut sebagai metafisika lahir karena pikiran gagal menghadirkan yang tak terhingga. Subyek manusia justru harus menyingkapkan fakta yang tak terhingga itu menghadirkan dirinya sendiri. Proses ini bersifat regorus seperti gravitasi bumi hadir pada Newton melalui apel. Tugas utama ilmuan adalah menyingkap kenyataan tak terbatas itu demi peradaban. Besarnya peradaban suatu bangsa, ditentukan oleh kemampuan mengartikulasikan ketakberhinggaan kenyataan menjadi pengetahuan. ‘Doctrine cum scientific’. Wallahu a’lam” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Tuhan, alam, dan manusia. Saya akan memulai “syarah” ini dengan yang kedua dan ketiga. Adapun tentang Tuhan, biar Dia tetap dalam ketakberhinggaan-Nya. Kita mengimani-Nya justru antara lain karena ketakberhinggaan-Nya. Kita mengakui kelemahan diri justru karena kekuatan-Nya. Kita mengakui keterbatasan diri karena kita kecil belaka di hadapan ketakterbatasan-Nya. Kita mengakui kedaifan kita karena kita kerdil semata di dalam keagungan-Nya.

Meski demikian, oleh karena alam dan manusia hakikatnya adalah “bayangan” Tuhan, maka dengan segala keterbatasan yang ada, kita dapat “mendekati”-Nya melalui alam dan manusia itu sendiri. Dalam QS Fushilat: 52 misalnya disinggung bahwa tanda-tanda tentang wujud dan keagungan serta kebenaran-Nya dapat ditangkap dengan memperhatikan semesta dan diri manusia sendiri secara saksama.

Di kalangan para sufi juga masyhur hadis yang menyatakan, “Barangsiapa mengenal dengan baik dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.” Surat Qaf: 16 bahkan dengan jelas mengatakan bahwa, meski Tuhan Maha Tak Terhingga, sejatinya Dia amat dekat dengan manusia; lebih dekat dengan manusia daripada urat leher mereka.

Dari sini dapat dikatakan, alam-semesta dan manusia keduanya merupakan jalan untuk mengenal Tuhan. Tentu saja alam-semesta dan manusia dengan segala keterbatasannya dan Tuhan dengan segala ketakterhinggaan-Nya. Alam dan manusia sejatinya keduanya adalah semesta (cosmos); alam adalah semesta besar (macro-cosmos), sedang manusia adalah semesta kecil (micro-cosmos).

Alam adalah gambaran besar dari manusia, dan manusia adalah gambaran kecil dari alam. Pemahaman-pemahaman manusia tentang dirinya akan membantu memudahkan mereka memahami alam-semesta. Pun pemahaman-pemahaman manusia tentang alam-semesta akan memudahkan mereka memahami diri mereka sendiri.

Dalam hemat saya, dengan renungannya kali ini, Pak Rektor hendak mengatakan bahwa betapa pun masing-masing dari Tuhan, alam dan manusia memiliki sisi ketakterhinggaan, terlebih pada Tuhan yang memang Maha Tak Terhingga, namun kenyataan itu tidak boleh menjadi penghalang bagi manusia untuk melakukan upaya-upaya penggalian, penelurusan, dan penelitian terutama tentang rahasia semesta (hukum alam).

Secara fostur, manusia memang kecil belaka di tengah hamparan semesta yang tak berujung. Tapi berbekal karunia Tuhan berupa akal-budi dan nalar-pemahaman, manusia didorong untuk menyingkap rahasia-rahasia semesta, sepenuhnya untuk kemaslahatan mereka. Saya kira QS Ibrahim: 32-33, al-Nahl: 12, dan al-Jatsiyah: 13 mengisyaratkan apa yang baru saja saya katakan. Yakni alam-semesta memang “disediakan” untuk “melayani” manusia.

Hingga di sini perlu juga ditegaskan bahwa kemampuan menyingkap rahasia-rahasia alam-semesta yang tak terbatas itu tidak mengenal sekat apa pun. Ia terbuka bagi siapa saja, terlepas dari sekat ras, bangsa, atau pun agama. Seperti saya katakan pada “syarah” renungan Pak Rektor sebelumnya, peradaban adalah milik bersama.

Maka siapa pun memiliki kesempatan yang sama, dan dalam perkembangannya peradaban juga merupakan hasil andil bersama. Yang diminta dari siapa pun dalam hal penggalian dan penyingkapan rahasia-rahasia semesta ini adalah keseriusan tekad, ketekunan, dan keyakinan bahwa setiap usaha tidak akan berujung sia-sia; hanya masalah waktu dan kadar keberhasilannya saja.

Tapi memang, dalam konteks kebijakan negara, keseriusan serta ketekunan meneliti dan menyingkap rahasia semesta itu perlu didukung pula oleh iklim yang kondusif; iklim kebijakan yang memihak, iklim kebudayaan, iklim pembiayaan, dan piranti-piranti lainnya yang menjadikan setiap upaya penelitian, penyingkapan, dan pengembangan berjalan sehat dan melaju ke arah pembangunan peradaban manusia untuk kemanusiaan.

Bukan peradaban yang memunggungi kemanusiaan, bukan pula peradaban yang hanya berorintasi pada materi dengan motif eksploitatif sebagai motor penggeraknya. Al-Qur`an menyebut hubungan manusia dan alam-semesta dengan istilah taskhir (pendayagunaan), bukan istighlal (eksploitasi). Yang pertama mensyaratkan adanya keseimbangan dan kelestarian, sedang yang kedua hanya berorientasi pada kelimpahan-kelimpahan materil (sesaat) tanpa memerhatikan keseimbangan dan kelestarian alam.

Terakhir, dalam pandangan al-Qur`an, setinggi apa pun pencapaian peradaban manusia, tetap harus mempedomani sekurangnya dua hal: Pertama, sepenuhnya harus diperuntukkan bagi keluhuran martabat manusia dan kemanusiaan serta tercapainya kemaslahatan umum. Kedua, ketinggian ilmu dan kemegahan peradaban tidak boleh menjadikan manusia jumawa dan menepuk dada angkuh dengan segala pencapaiannya. Di mata Tuhan, manusia tetaplah manusia, salah satu makhluk-Nya yang dalam keluasan ilmu-Nya sesungguhnya mereka hanya diberi ilmu sedikit saja. Demikian QS al-Isra`: 85 menggariskan.