Selama bulan ramadan ini kita sudah menempuh fase di mana perjalan ibadah puasanya panjang mengingat ada sekitar 30 hari dalam 1 bulan. Melalui hambatan, rintangan yang sudah dihadapi, puasa akan terasa mudah bila tidak lengkap budaya buka bersama. Budaya yang selalu ditunggu-tunggu dari tahun ke tahun. Oleh sebabnya fenomena buka bersama juga harus kita bahas sampai tahun 2022 ini.

Dulu budaya buka bersama selalu menjadi bagian terpenting dalam sejarah umat islam dunia. Pasalnya, semua orang dapat kemudahan ketika zaman perang digencarkan. Tapi sekarang budaya buka bersama mempunyai ciri khas berbeda-beda mulai dari  buka bersama teman-teman, keluarga, kerabat, dan sebagainya.

Pertanyaan yang selalu dibayang-bayang adalah mengapa budaya buka bersama tak pernah punah?. Lalu bagaimana cara melestarikan budaya buka bersama kepada siapa saja?. Ternyata kita pikir-pikir fenomena buka bersama sudah pernah dilakukan oleh Rasulullah saw bersama sahabat-sahabatnya.

Salah satu sabdannya yang diriwayatkan Abu Dawuh “ Sahabat bertanya ” wahai Rasulullah saw mengapa makan ? kemudian Rasulullah menjawab ”Apa kalian makan sendiri?, lalu sahabat menjawab “iya, kemudian Rasulullah saw menjawabnya lagi “ makanlah kalian bersama-sama, kemudian bacalah basmallah, maka Allah swt akan memberikan berkah kalian semua “ ( HR. Abu Dawud).

Dengan kata lain, kebersamaan membawa dampak positif bagi seluruh umat islam. Juga mendatangkan manfaat luar biasa kepada orang yang menjalankan ibadah puasa. Selain kita dapat pahala, kita bisa menjalankannya dengan nikmat. Karena falsafah kebersamaan dalam berbuka puasa adalah sebuah kunci menuju kesuksesan akhirat.

Tetapi sebenarnya yang perlu kita garis bawahi di atas bukan terletak pada kekenyangan makan seolah-olah kalau tidak makan nasi belum sempurnan buka bersama. Namun berbuka dengan sedikit bersama-sama itu lebih baik daripada kenyang bersama-sama. Sehingga kita akan mudah terburu-buru jika langsung melaksanakan sholat maghrib. fenomena buka bersama tidak pernah punah dalam ajaran rasulullah yang memudahkan bagi semua umatnya.

Oleh karena itu, pentingnya rasa kebersamaan yang tidak berlebihan juga mengajarkan kita bahwa rasa berlebihan bisa mendatangkan kemudhorotan bagi individu masing-masing. Dan juga sudah diajarkan Allah swt dalam surat Al-A’raf ayat 31 tentang bencinya Allah swt kepada orang-orang yang berlebih-lebihan. Untuk itu, mari kita sebagai umat islam harus selalu mengingatkan satu sama lain demi mencerminkan kehidupan islami. Kehidupan islami tidak hanya terletak cara berpakaian sopan, menutup aurat, tetapi mengingatkan yang salah menjadi benar, yang melenceng menjadi lurus.

Begitu juga mengajarkan arti kebersamaan dalam berbuka puasa sesuai porsi orang muslim sekitar. Jika kita memberi paksaan sesuai tuntutan nabi Muhammad saw tidak mungkin bisa dilakukan secara sempurna. Tidak perlu sempurna selayaknya sunnah nabi Muhammad adalah bagian kebenaran dalam menjalankan. Itu sama halnya berbohong kepada nabi bahwa  dia adalah umatnya yang terbaik di sisinya. Cukup kita ingatkan “wes nggak sah akeh-akeh bukone, ben supayane awakdewe isoh ngibadah sholat magrhib secara khusuk” . (“sudah tidak usah banyak-banyak bukannya, supaya kita bisa beribadah sholat magrhib secara khusuk “).

Mari kita bangun kebaikan-kebaikan mengingatkan sebagai teguran untuk tetap menjalankan kebaikan. Belajar dari kesalahan yang ada dalam diri kita. Lebih baik mempunyai kesahalan di banding tidak memiliki kesalahan sedikit pun. Supaya saling mengingat juga sebagai langkah kemudahan dalam urusan kebersamaan. Kebersamaan bukan milik kita sendiri, melainkan kebersamaan milik kita semua. Supaya semua sama-sama berintropeksi diri agar termotivasi setiap harinya.

Tulisan ini merupakan bentuk kerja sama antara UKM LPM Dinamika dengan islamsantun.org