“Kijang berlari lebih cepat daripada harimau, tapi toh ia tetap menjadi mangsa. Selain ini alasan takdir alam, kita tentu bisa merasionalisasinya, mengapa hubungan mangsa-pemangsa itu menjadi permanen? Dalam evolusinya yang panjang, inferioritas kijang menjadi alamiah dan seolah-olah takdir alam. Kompleks inferioritas itulah yang menjadikan relasi mangsa-pemangsa menjadi abadi. Itulah juga yang berlangsung dalam kebudayaan manusia. Bangsa yang mudah dimangsa dan dijajah oleh bangsa lain, pastilah bermula dari situasi mental kompleks inferioritas. Hanya bila suatu bangsa pulih kepercayaan dirinya, akan mampu keluar dari hukum rimba itu. Bangsa yang terbebas dari kompleks inferioritas akan berpeluang membalik keadaan mengalahkan yang lebih besar dan lebih kuat. Wallahu Al’am” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Beberapa poin dapat kita ambil sebagai pelajaran berharga dari quote Pak Rektor kali ini:

Pertama, untuk menjadi pemenang dalam sebuah persaingan, kita tidak cukup mengandalkan ketangkasan fisik semata. Kerja keras yang banyak mengandalkan kekuatan otot saja belum tentu mengantarkan kita menjadi pemenang di ujung laga. Kijang berlari lebih cepat dari harimau. Tapi mengapa selalu saja kijang yang dikejar harimau; kijang selalu jadi mangsa dan harimau pemangsanya? Kecepatan saja tidak bisa menolong kijang dari kebinasaan. Kecepatan saja tidak membuat kijang menang atas harimau, alih-alih selalu jadi mangsanya.

Setidaknya dua hal menjadikan harimau selalu jadi pemenang atas kijang. Satu, harimau memang lari cukup cepat, tapi kijang ternyata lebih cepat. Sadar hal itu, harimau bermain strategi. Pergerakan diatur, pernafasan ditata agar tidak kehabisan, kerja tim dibangun demi satu sasaran bersama.

Di sini harimau beralih dari kerja keras ke kerja cerdas, dari seorang hard worker menjadi smart worker, dari single fighter menjadi team-work, dari keinginan menjadi super-man menjadi super team. Dua, harimau mampu membangun mentalitas diri sebagai binatang paling superior di hutan, sanggup mencitrakan diri sebagai raja di rimba raya.

Mentalitas dan citra diri ini kemudian disematkan pada dirinya, dipancangkan tegak di kepalanya ke mana pun harimau pergi. Gabungan dari dua hal itulah, saya kira, yang menjadikan harimau menjadi pemangsa ulung di tengah belantara.

Kedua, mereka yang kalah kadangkala penyebab kekahannya bukan karena lemah, bukan karena tak mampu, bukan karena kecil, bukan karena bodoh, dan seterusnya. Mereka kalah acapkali karena kekeliruan dalam menata pikiran. Lawan yang kita hadapi bisa jadi memang kuat, tapi akan terlihat dan terasa lebih kuat jika kita memandang diri sendiri lemah. Secara fisik harimau memang kuat dibanding kijang.

Tapi harimau akan terlihat lebih kuat dari yang sesungguhnya di mata kijang manakala sejak awal kijang memandang dirinya kalah jauh dibanding harimau. Ubahlah pandangan kita tentang diri. Di arena kehidupan, semua manusia sama dan setara belaka.

Ketiga, dalam konteks bangsa, soal kalah-menang; mangsa-pemangsa ini, juga relevan. “Bangsa yang mudah dimangsa dan dijajah oleh bangsa lain, pastilah bermula dari situasi mental kompleks inferioritas. Hanya bila suatu bangsa pulih kepercayaan dirinya, akan mampu keluar dari hukum rimba itu. Bangsa yang terbebas dari kompleks inferioritas akan berpeluang membalik keadaan mengalahkan yang lebih besar dan lebih kuat.”

Saya pikir memang salah satu belenggu bangsa kita dalam mengejar kemajuan dan kesetaraan dengan bangsa-bangsa yang maju adalah inferioritas. Tidak penting menjawab: Apakah kita ini jadi bangsa yang inferior karena terlalu lama dijajah, ataukah kita jadi bangsa yang lama dijajah karena kita adalah bangsa yang inferior? Yang jelas, inferioritas sudah kita sepakati sebagai salah satu belenggu kemajuan bangsa. Maka yang harus kita lakukan adalah sekuat tenaga mengenyahkan belenggu itu.

Keempat, “strata” kekuatan dan kemampuan itu nyata ada. Entah itu hasil perjalanan panjang evolusi atau memang sejak awal diciptakan berbeda, nyatanya harimau lebih unggul atas kijang dalam hampir segala hal kecuali kecepatan berlari. Kenyataan ini seharusnya tidak menjadikan kita merasa inferior di hadapan orang yang “strata”-nya lebih tinggi.

Jika kita tak cukup berharta, tidak seharusnya kita jadi minder dan kehilangan kendali diri di hadapan orang berpunya. Jika kita tak cukup berilmu, tidak sepatutnya menjadikan kita merasa tak berharga di depan kaum alim cerdik-cendekia. Jika kita tergolong rakyat biasa dalam “hierarki” sosial, tak seharusnya menjadikan kita merasa rendah diri di tengah-tengah kaum terpandang dalam tatanan masyarakat di mana kita tinggal.

Terhadap kenyataan adanya “strata” seperti dicontohkan di atas, satu hal yang diminta dari kita adalah: Kesadaran! Yakni kesadaran bahwa semua itu merupakan arena kehidupan di mana yang seharusnya terjadi bukan melulu tentang persaingan di mana kehormatan diukur hanya dengan kemenangan dan kedigdayaan.

Kini dunia semakin mengglobal, di saat sama semakin “mengecil”. Pola relasi lama antar-manusia yang penggambarannya seperti hubungan kijang-harimau, kini tak lagi selalu relevan. Kerja-kerja kolaboratif lintas negara, lintas sektoral, lintas budaya, lintas kekuatan, kini saya rasa sedang menemukan momentumnya. Hal-hal yang dituntut dari kita dalam kerja-kerja kolaboratif itu antara lain: keterbukaan, kedewasaan, kesadaran tentang potensi diri; apa yang tidak kita punya maka diisi oleh orang lain, apa yang kita punya kita sumbangkan pada orang lain.