Ada tamu santri yang silaturrahim ke rumah. Wajahnya bermasker dan mengucapkan salam sambil menundukkan sedikit kepalanya, tidak bersalaman. Ditengah ngobrol dia bertanya :

Apa bedanya muballig atau dai atau penceramah publik dengan ilmuwan, intelektual atau pemikir?.

Aku menjawab dengan mengira-ngira saja.

Muballigh atau penceramah umum itu bicaranya tegas, meyakinkan, memastikan atau menjamin keberhasilan. Misalnya dia bilang : “jika saudara-saudara begini maka pasti akan begini”. Misalnya lagi : “siapa yang mengamalkan bacaan ini sebanyak 41 x maka pasti berhasil, sukses”. Atau “jika ditanya hukum suatu masalah, maka dia jawab : masalah itu hukumnya begini. Kalau ada pendapat yang lain itu salah dan sesat,

Kata-katanya atau pendapatnya satu, tidak macam-macam, meyakinkan, tidak membingungkan, tetapi dalsm waktu yang sama membatasi pikiran publik.

Kelompok ini umumnya digemari oleh orang-orang awam atau mereka yang hidup pragmatis. Tentu saja jumlah mereka besar atau mayoritas.

Sedangkan intelektual atau pemikir, bicaranya tidak memastikan. Kalau ditanya bagaimana hukum atau pendapat anda mengenai masalah ini?. Dia akan menjawab : “saya kira begini”. Atau “ada banyak pendapat “. Atau “menurut profesor Anu atau ulama Anu, begini”. Atau kata-kata: jika kamu melakukan hal ini mudah-mudahan atau insya Allah berhasil.

Kata-kata dan pendapatnya tidak pasti, bisa membingungkan sebagian besar orang, tetapi membebaskan dan memberikan alternatif jalan dan mencerdaskan.

Audiensnya pada umumnya kaum intelektual juga atau yang senang berpikir atau katakanlah kaum kelas menengah yang cenderung rasional. Jumlah mereka tidak banyak, sedang-sedang saja.

Mungkin demikian.

02.08.21
HM