Akhir-akhir ini, banyak kita temukan fenomena kegagalan masyarakat memahami tentang Al-Qur’an dan tafsir. Dua istilah ini memang sangat erat kaitannya dan pada saat tertentu tidak bisa dipisahkan, karena yang satu membutuhkan yang lain. Tetapi karena kegagalan memahami keduanya, sering terjadi tindakan yang merugikan orang lain, misalnya orang yang menolak suatu tafsiran, dianggap menolak Al-Qur’an atau orang yang memilih tafsiran yang berbeda dengan dirinya dianggap menistakan Al-Qur’an.

Mari kita perhatikan terlebih dahulu tentang dua istilah Al-Qur’an dan tafsir ini. Al-Qur’an adalah kalâmullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril dengan berbasaha Arab dan beribadah bagi yang membacanya. Sedangkan tafsir menurut Al-Zarkasyi adalah ilmu untuk memahami Al-Qur’an dengan menjelaskan makna-maknanya, serta menggali hukum-hukum dan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Al-Zarqani dalam Manâhil Irfân menambahkan bahwa tafsir adalah ilmu yang menjelaskan tentang maksud Alquran sesuai dengan kehendak Allah dengan “(batas) kemampuan manusia”.

Dari kedua definisi tentang Al-Qur’an dan tafsir ini, ada perbedaan yang sangat mencolok antara keduanya semisal; Al-Qur’an adalah kalâmullah, sedangkan tafsir adalah pemahaman manusia terhadap kalâmullah; Al-Qur’an bersifat mutlak kebenarannya sedangkan tafsir tidak mutlak kebenarannya; teks yang ada dalam Al-Qur’an itu statis, sedangkan tafsir konteksnya sangat dinamis dan berkembang; Alquran adalah shâlih likulli zaman, sedangkan tafsir boleh jadi hanya berlaku dalam konteks yang dihadapi oleh mufassir dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Dari berbagai perbedaan ini, seharusnya seseorang paham bahwa tafsir tidak sepenuhnya sama dengan Al-Qur’an. Jadi sangat tidak arif jika seseorang ulama atau cendikiawan dicap munafik atau bahkan kafir hanya karena mengambil penafsiran yang berbeda dengan penafsiran mainstream. Kita tidak pernah tahu tafsir yang mana yang sebenarnya sama persis dengan yang dikehendaki oleh Tuhan.

Selain itu, tafsir juga merupakan ijtihad para ulama yang jika ia benar maka ia dapat dua pahala. Dan jikapun salah maka tetap ada nilainya, begitu kira-kira pesan Nabi dalam sebuah hadis. Jika memang betul seorang muslim, kita tidak usah meragukan kepercayaannya terhadap Al-Qur’an,  tetapi jika yang ditanya adalah persoalan tafsir Al-Qur’an, maka akan lain dan panjang jawabannya.

Keragaman Tafsir Al-Qur’an

Kenapa pemahaman manusia terhadap Al-Qur’an beragam? Ada beberapa faktor kenapa Al-Qur’an dipahami dengan sangat beragam oleh para mufassir. Di antaranya adalah tidak adanya sosok yang memiliki otoritas penuh dalam menentukan mana tafsir yang benar-benar sama dengan maksud Tuhan. Pada zaman Nabi, para sahabat kalau kesulitan mengenai makna Al-Qur’an bisa langsung konfirmasi ke Nabi. Di zaman yang jauh dengan Nabi ini, persoalan yang dihadapi umat semakin kompleks dan terkadang tidak ada penjelasan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, sehingga ulama berusaha menggali dan mencari secara mandiri makna-makna Alquran.

Selain itu,  Al-Qur’an memang memiliki keistimewaan dalam segi lafadz dan maknanya. Banyak kata-kata dalam Al-Qur’an memiliki makna yang mustarak (beragam makna) sehingga sangat memungkinkan untuk dipahami secara berbeda oleh pembacanya. Ditambah dengan kenyataan bahwa perbedaan pemahaman itu adalah sunnatullah yang memang diciptakan Tuhan dalam alam semesta ini. Ada banyak ayat bertebaran dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah memang menciptakan perbedaan baik dari suku, budaya, Bahasa dan karakter. Dari berbagai perbedaan ini sudah barang tentu masing-masing kelompok masyarakat memiliki perbedaan dalam memahami Al-Qur’an yang kita sebut dengan tafsir.

Menyikapi Tafsir yang Beragam

Bagaimana jika kita dihadapkan dengan ragam tafsir yang bertentangan?. Ada beberapa sikap yang bisa kita ambil agar tidak jatuh pada tindakan yang kontra-produktif. Pertama, jika kita mampu, kita dianjurkan untuk menelusuri berbagai dalil yang diajukan oleh para mufassir yang berbeda dan memilih pendapat yang paling kuat dan banyak mengandung maslahat.

Hal semacam ini dicontohkan oleh Imam Ali Ash-Shabuni dalam karya tafsirnya Rawâiul Bayân . Ketika beliau menemukan dalil-dalil yang bertentangan, maka beliau mengkaji dan meneliti mana dalil yang paling kuat. Kemudian memilih atau mengunggulkan salah satu pendapat ulama yang dikaji dengan argumennya sendiri.

Kedua, jika tidak mampu, maka pilihlah ulama yang kita kenal dan kita percaya argumen, pendapat dan kebijaksanaannya. Dengan memilih sikap ini kita berada dalam posisi aman karena ada orang yang bertanggungjawab secara keilmuan tentang pendapat yang kita anut. Ketiga, jangan pernah menyalahkan apalagi merendahkan orang lain yang memilih pendapat ulama atau tafsir yang lain.

Tidak sepakat dengan satu penafsiran bukan berarti tidak patuh terhadap Al-Qur’an tetapi mematuhi Alquran dengan jalan lain yang boleh jadi juga memiliki nilai kebenaran. Dengan sikap semacam ini, kiranya kita bisa lebih bijaksana dalam memandang perbedaan yang sering terjadi dalam masyarakat kita.

Tulisan ini penulis akhiri dengan untaian kalimat indah dari Abdullah Darraz yang sering dikutip oleh M. Quraish Shihab, mengenai keragaman makna dan penafsiran Alquran, dalam kitab An-Naba’ul Azdîm beliau berujar,

“AYAT-AYAT ALQURAN BAGAIKAN INTAN, SETIAP SUDUTNYA MEMANCARKAN CAHAYA YANG BERBEDA DENGAN APA YANG TERPANCAR DARI SUDUT-SUDUT LAINNYA. DAN TIDAK MUSTAHIL JIKA KITA MEMPERSILAHKAN ORANG LAIN MEMANDANGNYA, MAKA IA AKAN MELIHAT LEBIH BANYAK DIBANDINGKAN DENGAN APA YANG KITA LIHAT”.

Kalimat indah ini sebenarnya merupakan nasehat bagi kita bahwa Alquran memiliki keragaman dan keluasan makna. Penafsiran yang bisa diambil sisi manfaatnya oleh para pembaca dari berbagai macam sudut pandang, karena Alquran adalah cahaya ilahi untuk manusia, sedangkan kita mencoba menangkap cahaya itu salah satunya dengan tafsir. Wallahu A’lam.

Terbit di: https://harakatuna.com/bedakan-antara-alquran-dan-tafsir.html