Islamsantun.org. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Alhamdulillah, rasa syukur tiada tara kita panjatkan kehadirat Allah Swt. Sebab, karena limpahan karunia-Nya, kita dapat melaksanakan ibadah salat Iduladha secara berjamaah di rumah, sebagai cerminan pesan Nabi untuk mewujudkan rumah sebagai surga, baitii jannatii.

Jamaah Salat Iduladha rahimakumullah

Kata qurban secara bahasa berarti dekat atau mendekatkan diri. Dalam arti yang lebih luas, qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui penyembelihan hewan ternak. Namun, apakah pengorbanan itu telah berakhir dengan digantinya manusia dengan hewan ternak?

Tidak hadirin, pengorbanan belum berakhir, justru di situlah permulaan manusia untuk berjuang dan mengorbankan sifat-sifat kebinatangan yang ada di dalam diri kita. Sifat rakus dan tamak yang menjadi karakter kebinatangan seharusnya kita pangkas, kita ganti dengan sifat qona’ah dan ta’awun. Namun, nyatanya saat ini, kita justru lebih sering memupuk sifat kebinatangan daripada kemanusiaan.

Kita dapat menyaksikan fenomena menumpuk obat-obatan, masker dan sebagainya demi keuntungan pribadi di tengah kesedihan yang melanda negeri ini.

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Salah satu ibadah yang disyariatkan pada hari raya Iduladha ini adalah menyembelih hewan kurban. Syariat ini merupakan kelanjutan dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail As. Betapa Nabi Ibrahim dengan kerelaan mengorbankan putra tercintanya demi ketaatan kepada Allah. Alhasil, Allah Swt mengganti putra yang dicinta dengan seekor hewan ternak. Kisah keluarga Ibrahim ini diabadikan dalam Al-Quran Surat al-Shaffat ayat 100-109 sebagai berikut:

رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٠٠ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ١٠١ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ١٠٣ وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ ١٠٤ قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٠٥ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ١٠٦ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ ١٠٧ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ١٠٨ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ١٠٩
100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. 101. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. 102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. 103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). 104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, 105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. 107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 109. (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.

Melalui keluarga Ibrahim, setidaknya ada tiga poin yang dapat kita renungkan dalam momentum Iduladha kali ini.

Pertama, penting untuk mengutamakan musyawarah dalam setiap urusan. Jika kita memahami kisah tersebut, meskipun Nabi Ibrahim telah yakin bahwa mimpi tsb adalah perintah Allah, tetapi beliau tetap bertanya kesediaan sang putra untuk melakukannya. Bahkan tutur kata yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim penuh dengan kelembutan, yaa bunayya innii araa fil manaam..wahai anakku sesungguhnya aku melihatmu dalam mimpi..

Pesan yang tersirat dari kisah tersebut bahwa sebagai orang tua tidak boleh semena-mena pada anak, begitu pun sebagai seorang anak, Nabi Ismail telah memberikan teladan untuk patuh terhadap perintah orang tua. Intinya adalah mengedepankan dialog, saling mendengarkan, antara ayah dan anak, anak dan ibu, suami dan istri, perlu diupayakan.

Terlebih, penguatan fungsi keluarga di tengah pandemi saat ini perlu digalakkan kembali. Ketika anak-anak belajar dan lebih banyak waktu di rumah, maka inilah momentum orang tua untuk lebih dekat dengan anak. Jangan sampai semuanya disibukkan dengan teknologi, hingga mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Keluarga sebagai benteng pertahanan negara yang paling pertama, harus dikuatkan di situasi yang ada saat ini.

Jamaah Salat Iduladha rahimakumullah

Pesan yang kedua yang dapat kita petik adalah kesadaran dan kesiapan mendapatkan ujian. Dalam kisah tersebut, Allah Swt menegaskan:
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ
Sesungguhnya ini adalah benar-benar ujian yang nyata.

Mari kita renungkan, selevel Nabi Ibrahim dan Ismail saja, beliau diuji dengan ujian yang begitu berat. Harus mengorbankan orang yang dicintai adalah pengorbanan yang amat sulit. Apatah lagi kita sebagai manusia biasa, tentu juga tidak akan luput dari ujian. Karenanya kita perlu mempersiapkan diri menghadapi ujian. Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 155 Allah Swt menegaskan:
وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Dalam ayat tersebut, Allah Swt memberikan kisi-kisi beberapa ujian yang diberikan, yaitu sedikit ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta. Semua hal ini tengah kita rasakan di kala pandemi. Ketakutan penyebaran virus dengan beragam variannya. Kelaparan, kesakitan dan kekurangan harta akibat terbatasnya ruang gerak, bekerja dan mencari nafkah. Hal ini adalah ujian dan jika mengikuti teladan Nabi Ibrahim, yang dibutuhkan adalah kesiapan mental menghadapi ujian. Seringkali kita siap untuk mendapatkan pujian, tapi tak berdaya menghadapi ujian.

Jamaah Salat Iduladha rahimakumulah

Pesan yang ketiga adalah meningkatkan empati dan kepekaan sosial. Perlu kita ingat bahwa ibadah kurban mencerminkan pesan Islam bahwa Anda hanya dapat dekat dengan Tuhan bila Anda mendekati saudara-saudara Anda yang kekurangan. Jika ibadah puasa mengajarkan kita betapa sakit menahan lapar dan dahaga, maka ibadah kurban mengajak orang lain yang terbiasa lapar untuk bisa kenyang menikmati daging kurban.

Dalam hadis qudsi diriwayatkan bahwa nanti pada hari kiamat, Allah mendakwa hamba-hamba-Nya:
“’Hai hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar dan kalian tidak memberi-Ku makanan. Dahulu Aku telanjang dan kalian tidak memberi-Ku busana. Dahulu Aku sakit dan kalian tidak memberi-Ku obat’. Saat itu yang didakwa berkata, ‘Ya Allah, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makanan, pakaian dan obat, padahal Engkau Rabb al-alamiin.’ Tuhan bersabda: ‘Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, telanjang dan sakit. Sekiranya kamu mendatangi mereka, mengenyangkan perut mereka yang lapar, menutup tubuh mereka yang telanjang, mengobati sakit mereka, maka kamu akan mendapatkan Aku di situ’”.

Saat ini, banyak saudara-saudara kita yang terbaring melakukan isolasi karena pandemi, maka cara yang terbaik yang dapat dilakukan bukanlah dengan mengucilkan mereka, apalagi menjauhi dan mengusir mereka dari lingkungan kita. Sebab, pada orang-orang yang demikianlah Allah bersama mereka. Ketika Nabi Musa bertanya di mana aku dapat menemukan-Mu ya Allah, maka Allah menjawab, “Aku berada di hati orang-orang yang lemah tak berdaya”.

Oleh karena itu, sebagai penutup, khatib mengajak kita untuk memperluas makna qurban, tak perlu menunggu untuk bisa menyembelih hewan kurban, kita bisa berkurban dengan apapun. Bahkan berkurban untuk tidak berkorban tahun ini, namun alokasinya digunakan untuk membantu penanganan pandemi juga adalah bagian dari pengorbanan.

Mari kita putus sifat-sifat kebinatangan, kita sembelih sifat tamak dan rakus, seraya memupuk sifat-sifat kesederhanaan dan saling tolong menolong. Melalui pandemi ini pula kemanusiaan kita diuji, apakah kita akan berkorban untuk membantu sesama, atau hanya mau menang sendiri.

Semoga Allah Swt mengangkat pandemi ini, menyembuhkan orang-orang yang terbaring sakit, menerima amal ibadah bagi mereka yang telah berpulang, dan bagi kita yang masih hidup diberikan kekuatan, kesehatan dan keimanan untuk senantiasa beribadah kepada Allah Swt.

Marilah mengakhiri khutbah Iduladha ini, kita angkat tangan kita, berdoa kepada Allah Swt dengan penuh ketundukan dan kekhusyuan.