lBencana Alam di Sumatra mengingatkan pengalaman dan kenyataan pahit. Sebagian manusia telah menjadi korban dan menjadi sengsara karenanya. Pulau Sumatra dalam catatan darurat ekologis. BMKG menyatakan bahwa akhir November 2025 terjadi siklon tropis KOTO dan bibit siklon 95B yang telah membawa hujan lebat dan ekstrim di Aceh, Sumatra Utara, sebagian wilayah bagian dan sebagian wilayah Riau. Angin kencang terjadi di daerah sebagian besar willayah Sumatra bagian utara.

Siklon tropis tersebut bertemu dengan tanah kritis, hulu yang berubah, bukit yang teriris, dan tutupan hutan yang terpecah menjadikan Sungai kehilangan akal sehatnya. Air yang mengalir bukan hanya keruh, tetapi juga membawa bubur lumpur yang pekat dan membawa gelondongan kayu. Di Dataran Tinggi Gayo di Aceh tanah telah rapuh runtuh bersama harapan warganya. Lalu melihat ke Batang Toru di Sumatra Utara, Lanskap megah atau tempat yang indah bagi orangutan Tapanuli menyimpan duka yang tidak diberi ruang dalam dialog publik. Tesso Nilo di Riau telah sebagai saksi sunyi atas apa yang terjadi ketika hutan gambut dan Kawasan konservasi dibiarkan terus menyempit. Sumatra Barat dalam beberapa tahun terakhir berkali-kali tersungkur oleh badai bandang dan longsor.

Berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2018 lahan kritis dan lahan sangat kritis di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah mencapai 2,3 jutahektar dan jumlah ini tentu bertambah hingga pada tahun 2025. Pada tahun 1985 luas hutan Indonesia 120 juta hektar. Kementerian kehutanan mencatat bahwa tahun 2024 luas hutan di Indonesia hanya 95,5 juta hektar dan tahun 2024 kehilangan hutan 175,4 ribu hektar. Indonesia mengalami penurunan luas hutan hingga 20,41% selama jangka waktu 40 tahun. Hutan berkurang disebabkan beberapa hal, antara lain karena penebangan secara illegal dan sebagian lainnya diganti dengan pohon sawit. Kelapa sawit tidak sama dengan pohon karena koefisian limpasannya berbeda. Koefisen limpasan disebut juga dengan runoff coefficient (c) yaitu perbandingan antara air yang mengalir di permukaan tanah dengan curah hujan total di area tertentu dengan periode waktu tertentu.

Hutan memiliki runoff coefficient sebesar 0,05% dan pohon sawit sebesar 0,6. Tanah dikawasan hutan dapat menyerap air sebesar 95%. Tanah disekitar pohon sawit dapat menyerap hanya sebesar 40% air. Curah hujan pada pesisir barat Sumatra mencapai 160-226 mm/hari pada tanggal 23-24 November 2025. Padahal, rata rata hujan bulanan biasanya hanya 150 mm/bulan. Aceh ketika tanggal tersebut memiliki rata rata hujan 300 mm/hari, Tapanuli Tengah rata rata hujan 800 mm dalan waktu empat hari. Hujan yang terjadi selama dua hari tersebut setara dengan hujan yang idealnya terjadi dalam waktu dua bulan di Aceh. Sungai Batang Toru di Sumatra Utara memiliki daerah aliran sungai 3.300 km2.

Jika menggunakan rumus koefisien limpasan maka ada 130 juta meter kubik yang tidak terserap jika tanah berada disekitar hutan. Namun, jika hutan diganti menjadi hutan sawit maka akan ada 1500 juta meter kubik yang tidak terserap. Air yang tidak diserap hutan selama 24 jam hanya sebesar 1.504 meterkubik/detik dan perkebunan sawit selama 24 jam tidak dapat menyerap 17.361 meter/kubik. Padahal, Batang Toru debit rata rata hanya 52,6 meter kubik/ detik. Maka, terlihat jelas bahwadampak dari banjir tersebut sangat luar biasa dari jembatan yang putus, rumah yang hanyut, dan ribuan orang tak punya tempat tinggal.

Alam Melawan Manusia?

Alam (kosmos) tidak bisa terpisah dengan manusia. Manusia adalah bagian dari alam dengan segala ekosistemnya yang harus seimbang. Kehidupan dunia selalu dengan model “living with the enemy”. Manusia selalu berhadapan dengan alam yang penuh resiko. Kehidupan dunia tidak ada yang sempurna, maka manusia harus menyikapi ketidaksempurnaan itu dengan bijak dan tidak berbuat yang lebih buruk. Virus, bakteri, sungai, laut, gunung berapi, dan lainnya adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan manusia. Virus dan bakteri selalu mengancam kesehatan manusia, banjir bisa datang dari sungai, laut bisa terjadi tsunami, gunung berapi mengeluarkan larva panas, dan lainnya. Alam bukan musuh kita, alam juga bukan sumber bencana tetapi manusialah yang harus merespon agar alam tetap baik dan bersahabat dengan manusia.

Pandangan “back to nature” tidak bisa disamakan dengan sebutan wahabi dalam narasi keagamaan yang mengajak kembali ke teks tanpa konteks. Justru pandangan ini sebenarnya kurang tepat karena manusia adalah bagian dari alam dan tidak perlu manusia kembali ke alam. Manusia hendaknya merespon dan menyatu bersama alam. Pandangan bahwa manusia dianggap sebagai tolak ukur semuanya (homo mensura) atau lebih popular dengan istilah antroposentrisme. Ketika manusia menganggap dirinya sebagai salah satu makhluk yang “berkesadaran” di semesta ini maka diluar dirinya adalah objek dan pelengkap kehidupannya. Pohon, hewan, dan alam yang tidak memiliki kekuatan “kesadaran” dianggap sebagai objek dan dianggap sebagai pelengkap hidup manusia. Pola pikir ini menyebabkan sikap manusia yang sewenang-wenang terhadap berbagai entitas yang di luar dirinya. Hewan yang seharusnya dihutan harus dimasukan di jeruji besi dan menjadi alat komuditas. Hutan yang harus dijaga pohonya tetapi ditebangi pohonnyatanpa ada izin dan tanpa reboisasi serta alih lahan hutan dengan berbagai kepentingan manusia (deforestasi).

Bencana yang melanda manusia bisa jadi membantah bahwa manusia bukanlah subjek. Alam dapat menjadi subjek untuk melawan bahkan menyerang balik manusia. Hewan buas, kera, dan hewan di hutan akan turun ke pemukiman warga jika ekosistem hutan tidak seimbang dan akan mengancam jiwa manusia. Alam yang tampak diam, pasrah kepada manusia dapat sewaktu-waktu membahayakan manusia dengan segala bentuknya. Bencana telah menunjukkan alam sebagai objek eksploitasi manusia saja dapat menampakan subjektifitasnya sendiri. Jika manusia bebas melakukan tindakan kepada alam, maka begitulah alam juga akan menentukan kehidupan dan kematian kepada manusia. Alam menunjukan superioritasnya di tengah kerapuhan peradaban manusia dan membuktikan bahwa manusia adalah bagian dari makrokosmos. Neil deGrasse Tyson menyatakan dalam bukunya Astrophysics for People in a Hurrymengatakan:

“Even with all our technology and the inventions that make modern life so much easier than it once was, it takes just one big natural disaster to wipe all that away and remind us that, here on Earth, we’re still at the mercy of nature.” 

Jangan Salahkan Tuhan karena Teguran Alam

Musibah adalah ketetapan Tuhan, dan segala sesuatu yang dari Tuhan selalu ada hikmahnya. Tidak ada satu alasan yang tepat untuk memaknai sebuah bencana karena setiap individu memiliki alasan rasional. Bencana yang dipahami sebagai azab dari Tuhan dapat dimaknai ekstrem menyalahkan mereka yang menjadi korban (blaming the victims). Sebaliknya, Tuhan dapat disalahkan (blaming God) jika bencana dipahami secara ekstrem sebagai takdir atau ujian Tuhan. Tetapi, pada setiap manusia memiliki alasan yang khusus untuk memaknai sebuah bencana pada titik realitas puncak. Manusia tidak memiliki tafsir tunggal atas makna bencana, maka makna bencana beragam dan dapat beririsan antara manusia satu dengan yang lainnya. Makna bencana tidak selalu negatif, ada teguran dari Tuhan, ada kemurkaan Tuhan, namun selalu ada hikmah sehingga harus berterima kasih kepada Tuhan di setiap musibah.

Hubungan timbal balik manusia dan alam harus interaksi yang terbaik. Kesadaran manusia harus menempatkan bahwa manusia adalah bagian dari alam (makrokosmos). Manusia yang merusak alam hakikatnya merusak manusia itu sendiri. Kondisi alam dan kesadaran manusia terhadap alam selalu ada interaksi. Bencana yang terjadi adalah respon alam terhadap kesadaran manusia disekitarnya.

Manusia tidak boleh berhenti dengan separuh hati, tidak setengah langkah untuk menjaga alam. Pemerintah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat harus berani moratorium penebangan hutan alam secara total di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan Penggunungan Bukit Barisan. Jika tahun ini adalah teguran alam, maka semoga tidak ada lagi penyesalan di masa mendatang karena ada perbaikan dari hulunya. Sumatra selalu ada harapan gemilang dan tanpa takut setiap langit gelap.

Komentar