“Manusia dikaruniai tiga instrumen berpikir: rasio, indera, dan akal budi (al-‘aqlu al-hayyulah/nazhariyah, al-‘aqlu al-hissiyah/tathbiqiyah, al-‘aqlu al-dzauqiyah/qalbiyah). Inilah modal yang menjadikan manusia sebagai makhluk istimewa. Selalu berkembang secara dinamis. Bermodal tiga instrumen itu manusia mampu memproduksi pengetahuan yang beragam. Bila kekuatan rasio yang menonjol, maka lahirlah pengetahuan intelektual. Kekuatan indera memunginkan manusia memproduksi pengetahuan praktis-teknologis. Begitu pula, bila akal-budi yang dominan, maka lahirlah pengetahuan spiritual. Ketiganya adalah anugerah Tuhan. Agama membimbing manusia agar mampu mengolah tiga potensi itu ke arah yang dikehendaki-Nya. Maka kenalilah instrumen berpikir yang paling dominan dalam diri kita. Dan beragamalah sesuai dengan kapasitas instrumen yang dikaruniakan Tuhan”(Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Di antara kasih-sayang dan perhatian Tuhan kepada manusia adalah bahwa Dia menganugerahi mereka tiga piranti berpikir. Ketiganya satu sama lain saling mendukung, saling melengkapi, saling menyempurnakan, alih-alih saling menafikan atau menyalahkan. Hanya saja, pada diri tiap orang, satu dengan lainnya berbeda-beda mana dari ketiganya yang paling menonjol. Ada yang lebih menonjol kekuatan rasionya, ada yang lebih dominan kekuatan inderanya, dan ada yang lebih kuat potensi akal-budinya. Tidak masalah mana dari ketiganya yang lebih berperan dalam diri kita. Yang menjadi masalah justru adalah tidak ada satu pun dari ketiganya yang bekerja dalam diri kita.

Pak Rektor lewat renungannya kali ini dengan fasih memetakan potensi dan kekuatan masing-masing dari tiga piranti berpikir yang Tuhan anugerahkan pada manusia itu. Dari kekuatan rasio lahir pengetahuan intelektual. Mereka yang merasa yakin memiliki kekuatan menonjol pada instrumen berpikir rasio ini, gunakanlah sebaik mungkin untuk menggali dan melahirkan pengetahuan intelektual. Tentu saja dua instrumen lainnya (indera dan akal-budi) tidak untuk dikebiri potensi dan kemampuannya. Justru keduanya dimanfaatkan sebagai penguat atau pun pelapis bagi pengetahuan intelektual yang dilahirkan oleh kekuatan rasionya. Hanya saja, rasio dengan capaian-capaian pengetahuan intelektualnya berada di baris depan untuk mengawal dan “menaungi” kekuatan-kekuatan inderawi dan akal-budi. Mereka yang merasa yakin memiliki kekuatan menonjol pada instrumen berpikir inderawi, gunakanlah sebaik mungkin untuk menggali dan melahirkan pengetahuan-pengetahuan praktis-teknologis. Tentu saja dua instrumen lainnya (rasio dan akal-budi) tidak untuk dinafikan kemampuannya. Justru keduanya dimanfaatkan sebagai penguat atau pun pelapis bagi pengetahuan praktis-teknologis yang dilahirkan oleh kekuatan inderawinya. Pun seperti itu mereka yang merasa yakin memiliki kekuatan menonjol pada instrumen berpikir akal-budi, gunakanlah sebaik mungkin untuk menggali dan melahirkan pengetahuan-pengetahuan spiritual.

Menegaskan apa yang sudah jelas, ketiga piranti itu tidak untuk saling bertabrakan atau merasa paling akurat dalam menemukan pengetahuan, tidak untuk merasa paling sahih dalam mengungkap kebenaran. Semua merupakan karunia Tuhan. Selama semuanya berasal dari-Nya, pastilah satu sama lain tidak akan saling membelakangi, tidak akan saling membuang muka, tidak akan saling meniadakan. Justru sebaliknya; saling mendukung dan menguatkan. Lalu apa yang dapat lebih merekatkan ketiganya, meski jelas semuanya karunia Allah? Pak Rektor menjawabnya: “Agama membimbing manusia agar mampu mengolah tiga potensi itu ke arah yang dikehendaki-Nya.”

Sebagaimana telah disitir, masing-masing kita memiliki ketiga instrumen itu, hanya saja satu sama lainnya berbeda dalam hal mana dari ketiganya yang paling menonjol potensinya atau dominan kekuatannya. Tugas kita, seperti dikatakan Pak Rektor, adalah menjadikan agama sebagai pengolah dan peramu tiga potensi itu ke arah yang dikehendaki-Nya. Sembari agama mengolah dan meramu ketiganya, masing-masing kita diharapkan mampu mengenali “instrumen berpikir yang paling dominan dalam diri kita.” Lalu “beragamalah sesuai dengan kapasitas instrumen yang dikaruniakan Tuhan.”

Maksudnya, orang yang menonjol aspek rasionya, jadikan ia bukan hanya untuk melahirkan pengetahuan intelektual, tapi juga arahkan ia untuk menghayati dan mengkhidmat agama. Tunjukkan bahwa agama bukan hanya dapat “dinikmati” sisi spiritualitasnya tapi juga dapat “diterima” kebenaran-kebenaran rasionalitasnya. Orang yang dominan aspek inderawinya, jadikan ia bukan hanya untuk memproduksi pengetahuan praktis-teknologis, tapi juga arahkan ia untuk menghayati dan mengkhidmat agama. Tunjukkan bahwa agama bukan cuma berkecimpung di alam metafisika, tapi juga peduli persoalan-persoalan praktis-teknologis. Pun orang yang kuat sisi akal-budinya, berdayakan ia bukan hanya untuk melahirkan pengetahuan spiritual, melainkan juga arahkan ia untuk memberi sentuhan-sentuhan atau celupan-celupan spiritulitas pada setiap pengetahuan intelektual dan temuan-temuan pengetahuan praktis-teknologis.

Hemat saya, renungan Pak Rektor kali ini, dalam beberapa sisinya relevan dengan kata-kata Paus John Paul II berikut:

“Science can purify religion from error and superstition; religion can purify science from idolatry and false absolutes. Each can draw the other into a wider world, a world in which both can flourish…We need each other to be what we must be, what we are called to be.”