Alhamdulillah puji syukur atas segala nikmat dan karunianya yang terbaik dan terindah kita rasakan hari ini. Semoga menjadi bekal kita meraih kemuliaan hidup.

Salawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW atas segala ajaran dan teladannya dalam rangka membangun sumber daya Insani yang tercerahkah secara rohaniah dan tersejahterakan secara lahiriah tercukupi pangan sandang dan papan, sehingga dapat meningkatkan kualitas kehidupan manusia dengan perilaku akhlakul karimah.

Melalui mimbar tulisan ini penulis berwasiat kepada diri sendiri dan umumnya Jamaah semua. Marilah kita tingkatkan kuantitas dan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Kuantitas amal sholeh yang bermutu tinggi dan kualitas penghayatan nilai-nilai luhur ajaran Islam yang bersumber pada Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Fakta di lapangan masih banyak orang yang beriman, namun keimanannya masih belum sepenuh jiwa raga, masih mudah terombang ambing oleh fatamorgana kehidupan ini. Bila dalam pandangan pertama kali baik akan diikuti, namun Istiqomah masih belum bisa maksimal.

Sementara beragama semestinya membawa penganutnya mencapai puncak kesempurnaan pribadi karena keluhuran nilai-nilai suci ajaran Islam. Artikel ini menjawab pertanyaan. Bagaimana beragama yang menyejahterakan, mencerahkan?

Berapa dekade akhir-akhir ini dunia dakwah sering dikeluhkan dengan ujaran ujaran kebencian ujaran-ujaran yang yang keras, saling sindir dan provokasi terhadap kelompok yang berbeda. Sehingga terjadi ketegangan di tengah-tengah masyarakat yang diakibatkan dari ujaran atau ungkapan baik melalui media sosial maupun kontak fisik antar kelompok yang berbeda aliran atau pemahaman keagamaan bahkan antar agama yang berbeda di tengah masyarakat.

Kondisi ini menjadi keprihatinan kita yang menyebabkan munculnya islamophobia atau anti Islam atau yang menyudutkan syiar Islam yang yang terkesan ditangkap oleh masyarakat lain dengan kesan yang keras sekarang dan menakutkan Dedek padahal sejatinya ajaran Islam jam-tangan telah menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran Budi, toleransi, saling tolong-menolong dan menghormati perbedaan yang ada di tengah masyarakat. Karena polaritas adalah kenyataan sosiologis dari kondisi masyarakat yang ada. Justru keragaman menjadi motivasi tersendiri di dalam keberagamaan dan dan spiritualitas.

Kekerasan dan intoleran biasanya muncul seiring dengan dinamika politik nasional atau politik internasional yang tidak imbang dalam perebutan pengaruh serta membangun opini publik untuk menunjukkan dan mengangkat kelompok tertentu dalam masyarakat sebagai representasi kekuatan politik yang sedang diperjuangkan.

Saat ini kita membutuhkan pengembangan ajaran Islam yang lebih ramah dalam melakukan dakwah atau siar di tengah-tengah masyarakat. Kearifan dan keluhuran budi dalam pengembangan syiar Islam menjadi daya tawar yang menarik di tengah kebuntuan politik yang ada. Satu sisi kita mempunyai fungsi-fungsi amar ma’ruf nahi mungkar mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dalam masalah amar ma’ruf mengajak kepada kebaikan dan tidak terlalu problematis dalam masyarakat karena tantangan amar ma’ruf tidak tergantung kepada objek dan subjek dalam dakwah. Namun dalam konteks nahi mungkar sering yang menjadi di di objek sasaran adalah kelompok-kelompok masyarakat yang mendukung adanya kemaksiatan dilegalkan sehingga meresahkan masyarakat.

Pada kondisi tersebut menjadi kepedulian tokoh-tokoh dampak dari kegiatan masyarakat yang melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan maupun syariat sehingga dakwah dalam hal ini adalah memperbaiki kondisi melakukan kritik sosial terhadap segala bentuk perilaku yang menyimpang dan mengancam harmoni sosial. Karena biasanya kelompok-kelompok yang mendukung adanya kemaksiatan dalam masyarakat bersekongkol dengan kekuasaan dan memanfaatkan kekuasaan sebagai tameng melindungi bisnis mereka, sementara masyarakat muslim luas merasa terusik hati nurani dan kejernihan pikiran hatinya untuk mengatasi masalah tersebut dengan berbagai upaya dan dari yang yuridis formal hingga pada tataran yang praktis.

Islam mengajarkan nilai-nilai yang menjunjung Harmoni kedamaian ketentraman termasuk di dalam lapangan medan dakwah ajaran Islam bersifat defensif untuk mempertahankan dan melindungi harkat dan martabat manusia menjaga jiwa menjaga agama menjaga keturunan menjaga harta dan menjaga akal akar terus Lestari.

Nabi Muhammad sendiri menggambarkan Islam sangat ramah sehingga menjadi rahmat bagi manusia dan alam semesta. Contoh itu dapat kita lihat dari hijrah nabi ke Madinah. Kota yang beragam suku dan agama didalamnya dapat dikelola oleh nabi Muhammad Saw melalui Piagam Madinah, tidak ada kata satupun yang menuliskan Islam di dalam Piagam Madinah. Kehidupan yang rukun, saling menghormati antar satu suku dengan suku lain, antar keyakinan satu dengan keyakinan lain.

Piagam Madinah adalah konstitusi pertama dalam Islam untuk membentuk sebuah komunitas masyarakat yang rukun dan damai. (https://www.nu.or.id/post/read/83708/islam-itu-ramah-bukan-marah-marah. Akses, 19/3/2021). Islam adalah ajaran yang menyebarkan kedamaian ke seluruh dunia. Apresiasi yang berbeda ketika diimplementasikan karena keterbatasan akses sosial politik budaya hukum penganutnya. Dakwah yang menebar kesantunan, membawa pencerahan dan membebaskan pemahaman sempit.

Muhammad Julijanto, S.Ag., M.Ag  dosen Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta, mahasiswa Program Doktor Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.