“Banyak orang berpuasa, selain hanya mendapat lapar dan dahaga, juga mendapatkan sariawan, radang tenggorokan dan dehidrasi. Mereka adalah kaum kemrutuk (چاعكمان)

Syamsul Bakri & M. Agus Wahyudi

Tulisan ini menjadi bahan refleksi dan intropeksi diri. Mengingatkan dengan hadis Rasulullah SAW., “Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali lapar. Banyak orang yang bangun malam, tetapi tidak mendapatkan apapun dari bangun malamnya kecuali keletihan berjaga malam”. (HR. Ibnu Majah)

Tentu hadis ini tidak dapat dipahami secara teks. Sebab dalam hadis tersebut terdapat kaidah dan hikmah yang mendalam. Memahami hadis hanya sampai teks merupakan bentuk kedangkalan beragama. Islam selalu berkembang sesuai perkembangan zaman, begitu juga penafsiran ayat-ayat dan hadis akan berkembang sesuai konteks zaman. Meskipun tidak semuanya.

Dalam memahami hadis di atas, Syekh Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dalam kitabnya Fadhilah Amal menerangkan tiga penafsiran yang berbeda tentang hadits di atas.

Pertama, hadis ini menyatakan tentang orang-orang yang berpuasa pada siang hari lalu berbuka dengan makanan haram. Semua pahala puasanya hilang karena dosa memakan yang haram lebih besar. Kendati, puasa tidak hanya sekadar menahan makan dan minum dari mulainya waktu berpuasa sampai waktu berbuka.

Perilaku pasca berbuka puasa juga perlu diperhatian, misal menjaga mulut pun harus dijaga supaya tidak memproduksi perkataan-perkataan “kotor” seperti mengumpat, membual, berbohong sampai tradisi sejuta umat yakni “ghibah”.

Hal semacam itu jika tidak terkendali dapat mengurangi kualitas dari ibadah puasa itu sendiri. Begitu juga nafsu harus ikut dipuasakan tanpa berkesudahan, supaya tidak menguasai diri manusia. Sebab yang boleh menguasai diri manusia adalah hati. Hati sebuah tempat berlabuhnya cahaya Ilahi. Sabagaimana sabda Rasulullah SAW.:

“Jika cahaya masuk ke dalam hati maka hatinya menjadi bahagia, tenang dan berlapang dada. Ia akan berjiwa besar (tidak kanak-kanak) dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Dan orang yang bingung, pusing, takut dengan urusan-urusan dunia disebabkan hatinya tidak disinari cahaya Allah”.

Dalam diri manusia terdapat nafsu yang berjenis binatang ternak dan binatang buas yang memiliki kecenderung memakan, memangsa, bringas, sampai budak seks. Jangan sampai momen berbuka puasa dijadikan pelampiasan dan media nafsu keji untuk bergerilya, dengan menyantap makanan secara berlebihan apalagi tanpa mempertimbangkan apakah yang dimakan itu halal atau haram. Jika hal itu tidak dilakukan maka puasa tersebut tak ubahnya, bersusah payah mengepel lantai rumah supaya bersih dan suci, lalu ditaburi lagi dengan kotoran anjing dan babi.

Sebagaimana quote di atas, “puasa yang tanpa mempuasakan batin hanya akan mendatang lapar dan dahaga bukan pahala”. Puasa yang hanya sekadar menahan makan dan minum hanya dilakukan oleh “debutan” sebagai bentuk latihan ibadah berpuasa. Puasa lahir dapat dipaksakan, bahkan mahluk selain manusia pun dapat melakukannya. Namun puasa batin butuh pemahaman, kesadaran dan penghayatan. Ibadah puasa tanpa ada penghayatan batin bagaikan bunga mawar layu yang wanginya sudah memudar.

Mereka yang sudah balig akalnya, maka perlu melakukan trasformasi pemahaman soal ibadah puasa supaya ibadahnya lebih baik lagi dan berkualitas. Puasa lahir dapat dipaksakan, bahkan kepada makhluk selain manusia pun dapat melakukannya. Namun puasa batin butuh pemahaman, kesadaran dan penghayatan. Ibadah puasa tanpa ada penghayatan batin bagaikan bunga mawar layu yang wanginya sudah memudar.

Kedua, hadis di atas menyatakan tentang orang-orang yang berpuasa namun mereka terjerumus dalam fitnah gibah (membicarakan keburukan orang lain). Ini mungkin serupa dengan apa yang sering saya sebut kemrutuk. Sebuah ucapan yang tidak memiliki manfaat. Tidak hanya perkataan kotor namun perkataan baik yang belebihan pun termasuk kategori kemrutuk. Berbicara yang tidak pada tempatnya, seperti berceramah kepada orang yang berpuasa di saat sudah waktunya berbuka puasa.

Banyak yang dapat mengendalikan perutnya tetap merasa lapar, namun tidak jarang yang dapat mengendalikan mulutnya untuk tidak berbicara kotor dan tidak bermanfaat. Di era digital ini, mengendalikan mulut juga dapat diartikan mendalikan jempol tangan. Jika ucapan bagaikan pedang maka tulisan pun juga diibaratkan samurai, harus digunakan secara hati-hati agar tidak menebas leher orang lain dan juga tidak menusuk dadanya sendiri.

Ketiga, hadis di atas menyatakan orang yang berpuasa tetapi tidak menjauhkan diri dari maksiat dan dosa. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa puasa sebuah upaya memproduksi amal-amal kebaikan. Tentu dalam memproduksi amal kebaikan harus pula men-stop atau setidaknya mengurangi perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat.

Jika rajin melakukan kebaikan namun tetap memproduksi perbuatan-perbuatan buruk, tak ubahnya membuang kotoran sampah di dalam rumah. Seharusnya sampah di dalam rumah dibuang di tong sampah bukan malah disimpan dalam rumah. Atau dapat dikatakan bagaikan memakan kotorannya sendiri. Kita semua berlindung kepada Allah SWT., semoga terhindar dari perbuatan yang sedemikian rupa.

Sampai di sini, makin sempurnalah syair Rumi itu:“Ketika makan dan minum memenuhi dirimu, iblis akan duduk di singgasana, Puasa adalah cincin Nabi Sulaiman, Jangan melepasya demi segelintir kepalsuan, hingga kau hilang kekuasaan”.