10 Maret 2014, saat di Bandung, aku menulis ini.

Dulu, kira-kira 43 tahun lalu, ketika mahasiswa, aku tertarik pada seorang perempuan, mahasiswi. Menurutku dia cantik, baik dan cerdas. Tiap malam minggu aku menemui dia di asramanya. Sekedar ngobrol ngalor-ngidul dan bercandaria. “Wakuncar”, wajib kunjung pacar, istilah teman-temanku. Enam bulan berlalu. Persahabatan itu menyelinapkan “rasa damai” di jantungku. Aku merasa dia juga punya “rasa” itu. Pandangan matanya seperti menyiratkan rasa itu. Suatu saat, aku memberanikan diri menyatakan kepadanya : “Aku senang bersamamu”, sebuah kata lain dari “I Love You”.

Aku melihat dia diam saja, tanpa ekspresi. Wajahnya tak seperti biasanya, datar saja. Lalu dia bilang : “Aku pulang ya?”. Tanpa kata-kata yang lain. Aku kecewa berat. Aku menyimpulkan : Dia menolak cintaku. Untung aku tak semaput.

Setahun kemudian ingatanku kepadanya dan rasa damai itu bersamanya berangsur hilang. Persahabatanku tetap berjalan baik. Tak ada dendam. Candaria berjalan normal. Tak lama sesudah itu, aku bertemu mahasiswi lagi. Dia aktifis kampus, seperti aku. Cantik, cerdas, lembut dan baik hati. Kami sering bertemu dalam diskusi-diskusi di kampus atau di tempat lain. Mataku sering bertemu matanya. Dan membuat dadaku berdetak. Pikiranku sering sejalan dengan pikirannya.

Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan kami lalui bersama dalam debat intelektual yang cerdas, canda ria yang menawan dan hati yang berbunga2. Aku kembali punya “rasa damai” ditambah “rasa indah”.

Singkat cerita. Suatu hari yang mendebarkan terjadi lagi, seperti tahun lalu. Aku kembali memberanikan diri mengatakan kepadanya: “kamu cantik. Aku senang bersamamu”. Suara kata-kata itu hampir tak terdengar. Lirih, bergetar, dan seperti tersekat. Mataku menyampaikan isyarat. Aku melihat dia tertunduk. Seperti ada anak panah menancap di pusat jantungnya. Dia seperti hampir lunglai. Tak lama dia bangkit dan menatapku sambil tersenyum. Wajahnya berpendar cahaya. Aku menahan teriak girang. Kami berpisah. Aku melambai sambil senyum. Dia membalas lambaianku juga dengan senyum sejuta makna.

Aku kembali ke asrama, lalu merebahkan tubuh sambil senyum-senyum sendiri. Meski mataku memandang ke langit-langit kamar, tapi aku tak melihat langit-langit itu. Aku termenung dan berefleksi: “Dua kalimat yang sama : “Aku senang bersamamu”, direspon dengan reaksi dan ekspresi tubuh yang berbeda. Apakah sesuatu yang membuatnya berbeda?. “Ketulusan” kah?. Apakah ia …?. Aku sungguh tak paham. Aku pikir yang membuat wajahnya redup dan bercahaya atau yang membikin ekspresi tubuhnya tampak dingin dan berdebar-debar bukanlah huruf-huruf atau kata-kata. Dan aku masih tak paham sesuatu itu, sampai suatu hari aku membaca buku “Fihi Ma Fihi”, karya Maulana Rumi.
Di dalamnya ia bilang

ان الذى يجذب انسانا الى انسان اخر هو ذلك العنصر من التناسب وليس الكلام

Yang membuat orang tertarik kepada orang lain adalah unsur kesesuaian hati, bukan kata-kata”.

Ya. Kata-kata atau huruf-huruf hanyalah simbol, kode atau indikator saja dari isi hati. Kalau begitu tak ada yang tahu secara pasti isi hati, kecuali diri dan Tuhan, seperti juga keimanan.

Akhirnya aku bergumam sendiri “Cinta” itu misteri ya?

Sesudah begini jangan tanya lagi ya gaes?.

Bandung, 10 Maret 2014
Repos, 25.05.21