Bulan Ramadan merupakan bulan mulia yang paling ditunggu-tunggu oleh segenap kalangan umat muslim di seluruh jagat raya. Pada bulan tersebut, manusia berbondong-bondong memburu pahala dan keberkahan dengan keambiusan melakukan berbagai ibadah di bulan tersebut. Ibadah puasa Ramadan, merupakan sebuah ikhtiar dalam menemukan pencarian akan keberkahan yang dijanjikan oleh Allah kepada umatnya yang senantiasa ikhlas dan patuh.

Puasa bukanlah sebuah sifat lahiriyah yang tertanam dalam jiwa manusia, akan tetapi sifat batiniyah yang harus disadari oleh manusia yang menjalani ibadah tersebut. Perlu adanya kesadaran dalam diri manusia untuk memaknai esensi dari puasa yang dijalaninya. Bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus seketika, akan tetapi harus menemukan dan menyadari pentingnya dari makna berpuasa di bulan yang mulia tersebut.

Berapa tahun kita menjalani ibadah puasa Ramadan selama hidup kita? Mungkin ada yang sudah puluhan tahun. Jika seumur hidup, saya rasa hal tersebut sangat mustahil bagi manusia zaman gila seperti sekarang ini. Lantas, adakah kesadaran yang mendasari diri kita untuk menemukan makna dari puasa? Atau hanya sekadar formalitas belaka untuk menahan lapar dan haus selama satu bulan penuh?

Begitu naif jika diri kita yang lemah dan renta ini menganggap sudah melampaui ideal puasa. Perlu adanya gerak otentik untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman akan makna dari puasa Ramadan. Jujur saja deh, bisa engga seharian berpuasa tanpa melakukan ocehan mulut tak berkualitas, mengalihkan pandangan terhadap postingan media sosial yang membangkitkan hasrat juga menahan nafsu dari iklan sirup Marjan yang kental sirupnya menggoda iman untuk segera mencicipinya?

Perlu adanya pemahaman untuk memaknai esensi dari puasa tersebut. Tak hanya menahan lapar dan haus, akan tetapi puasa Ramadan dimaknai bulan ibadah bermakna luas. Manusia yang mampu memahami makna tersebut, mereka akan menemukan berbagai manfaat dari menjalankan puasa, bukan hanya formalitas untuk segera menuntaskan peribadahan tersebut.

Ketika azan magrib berkumandang, beriringan dengan pukulan bedug yang menggelegar, senantiasa membangkitkan rasa syukur dalam jiwa manusia. Alhamdulillah, seteguk sirup Marjan, sebutir kurma basah dan kemudian sebatang rokok Surya sangat membuat perut kenyang. Itulah gambaran manusia yang mendapatkan nikmat dan rasa syukur, berbuka dengan menu sederhana tetapi membawa nikmat yang luar biasa. Berbeda dengan yang puasa hanya menganggap sebuah penantian akan suara bedug magrib, baru saja satu pukulan bedug sudah menghabiskan tiga gelas sirup Marjan dan sepuluh butir kurma basah.

Dalam sebuah perjalanan menuju negeri seberang, puasa diibaratkan sebuah kapal yang berlabuh untuk menelusuri perjalanan dan menemukan pencapaian tujuan. Maka dari itu, dalam waktu menjalankannya perlu diwarnai dengan berbagai kegiatan untuk memaknai perjalanan puasa tersebut. Misalnya mendalami khazanah keislaman, bersedekah kepada yang membutuhkan atau mungkin mempelajari dan membaca kitab suci Al-Qur’an untuk mendapatkan ketenangan hati.

Ketika kehampaan akan kesadaran makna puasa, manusia perlu mengingat tujuan dari puasa yang mereka jalani agar tercapainya sebuah makna lahiriyah dan batiniyah.

Manusia yang hari-harinya menjalankan puasa hanya untuk sebuah formalitas agar terlihat melakukan kewajiban, ia tidak akan pernah mendapatkan kenikmatan melainkan hanya mendapatkan rasa lapar dan haus seketika.

Sudah waktunya kita menyadari hal tersebut, jadikan puasa Ramadan tahun ini sebagai ikhtiar akan kewajiban kita sebagai umat muslim untuk mendalami pelbagai hal. Tidak hanya sekadar menahan jasmani untuk tidak makan dan minum, tetapi juga menahan dan mengontrol hati dari segala perbuatan dan pikiran kotor yang meracuni.

Pemuatan tulisan ini merupakan kerja sama antara UKM LPM Dinamika dengan Islam Santun.