Saat Gus Dur diadili para kiyai di pesantren Dar al Tauhid, beliau dengan tenang, tetapi serius menjawab dan menjelaskan pandangan-pandangannya yang dinilai kontroversial. Beberapa di antaranya adalah mengganti Assalamu’alaikum dengan Selamat pagi/siang) malam, kunjungannya ke Israel, Jadi ketua DKJ. dll. Dan para hadirin diam dengan wajah amat serius.dengan konsentrasi penuh. Ruangan itu sepi, hanya ada suara Gus Dur.

Sesudah Gus Dur meninggalkan tempat, aku melihat wajah hadirin berubah cerah. Aku ditanya seorang Kiyai bagaimana para Kiyai tiba-tiba berubah sikapnya terhadap Gus Dur dari mengkritik tajam dan sinis, menjadi kagum dan penuh hormat kepada beliau. Malahan ada yang berbisik Gus Dur itu wali ya?. Aku tersenyum saja.

Aku mencoba menjawab dengan denmengutip kitab yang dikagumi Gus Dur .dan dikenal baik oleh para kiyai. Yaitu kitab ‘Al-Hikam” Karya Ibnu Athaillah al-Sakandari :

تسبق انوار الحكماء اقوالهم
فحيث صار التنوير وصل التعبير

“Cahaya para Bijak bestari mendahului kata-katanya. Manakala telah tercerahkan, makna kata-kata itu sampai (dapat dipahami). ”

Dalam sebuah syarh (penjelasan) atas kitab ini disebutksn :

أن العارفين بالله تعالى المعبر عنهم بالحكماء إذا أرادوا إرشاد عباد الله توجهوا إلى الله بقلوبهم في هدايتهم واستعدادهم لقبول ما يرد عليهم من أقوالهم فيجيبهم لذلك فيخرج حينئذ من قلوبهم أنوار ناشئة من نور سرائرهم تسبق أقوالهم

فحيث صار أي حصل التنوير في قلوب السامعين وصل التعبير فينتفعون بأقوالهم أتم انتفاع

“Para Arifin atau yang dikenal dengan sebutan “hukama”, para bijak bestari, atau sebagian menerjemahkannya para sufi atau para filsuf, bila akan menyampaikan pemikirannya, mereka memohon kepada Allah dengan seluruh hatinya agar para audiens dibukakan pikiran dan hatinya untuk menerima isi hati dan pikirannya itu. Lalu Allah mengabulkan. Maka hati mereka berpendar cahaya yang merasuk ke hati dan pikiran audiens. Kemudian, manakala hati mereka tercerahkan, kata-kata yang disampaikan para bijakbestari itu pun sampai (dimengerti).

Kiyai itu memelukku sambil menciumiku.