Islamsantun. org. Jangan sampai nama kita hanya tercatat di batu nisan saja setelah kita meninggal dunia nanti. Ini serius!

Apa gunanya kita hidup berpuluh-puluh tahun di dunia ini, jika ada dan tidanya kita sama saja (wujuduhu ka ‘adamihi). Apa perlunya kita hidup berlama-lama di muka bumi ini, kalau cuma sekadar menambah penuh dan sesak bumi yang sudah sangat padat penduduk ini. Untuk apa kita hadir ke alam ini, kalau tidak ada manfaat apa pun yang dapat kita berikan kepada sesama, kepada alam, kepada makhluk Allah yang ada di jagat raya ini. Buat apa kita ada di di bawah kolong langit ini dalam rentang waktu yang lama, jika tidak ada kontribusi sedikit pun yang dapat kita berikan sebagai investasi akhirat kita kelak.

Tuhan yang Mahahebat, Tuhan yang Mahaluarbiasa, tidak mungkin menciptakan makhluk-Nya biasa-biasa saja. Tuhan yang Mahasempurna, tidak mungkin menciptakan makhluk-Nya asal-asalan. “Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi, yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya).” Demikian bunyi salah satu firman-Nya. Dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.”

Dari beberapa keterangan tersebut, jelaslah bahwa kita semua, umat manusia, yang merupakan salah satu makhluk ciptaan-Nya, adalah makhluk yang diciptakan dengan sempurna, lengkap dengan segala kemampuan yang melekat dalam diri kita.
Jika sudah jelas bahwa Tuhan yang Mahasempurna menciptakan makhluk-Nya dengan sempurna, mengapa kemudian sebagian besar manusia tidak memaksimalkan kesempurnaan yang telah Tuhan berikan? Sebagian besar kita merasa bahwa kita adalah makhluk biasa tanpa kelebihan apa pun yang kita miliki.

Hal ini terbukti dengan banyaknya jumlah orang-orang gagal dibandingkan dengan jumlah orang-orang sukses. Lebih banyak para pecundang daripada para pemenang. Lebih banyak orang miskin daripada orang-orang kaya. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, jauh lebih banyak orang yang meninggal tanpa memberi makna sedikit pun kepada orang-orang yang ditinggalkannya, sehingga namanya terkubur bersama jasadnya, dibandingkan orang-orang yang mampu memberi warisan nilai-nilai kebaikan, sehingga namanya dicatat dalam panggung sejarah kehidupan, dan terus dikenang meski jasadnya sudah berkalang tanah ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.

So, pelajaran yang dapat kita petik dari kenyataan ini adalah,
mumpung masih diberi umur, mumpung jasad belum terbujur, mumpung masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini, lakukan aktivitas terbaik setiap saat, setiap waktu. Berikan kontribusi kepada sesama, tanamkan nilai-nilai kebaikan kepada orang lain di sekeliling kita, ciptakan karya yang akan mengabadikan nama kita, tidak hanya di dunia ini, tetapi di akhirat nanti. Bekerjalah dengan penuh semangat. Niatkan berkhidmat kepada manusia untuk meraih ridla Tuhan. Jangan sia-siakan sedetik pun kehidupan kita untuk hal yang tidak berguna. Maksimalkan potensi yang kita miliki. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Jika seluruh aset yang kita miliki, berupa potensi, materi, serta ilmu pengetahuan kita khidmatkan untuk kemanusiaan, niscaya pada saatnya nanti kita akan menuai nilai-nilai kebaikan dari apa yang sudah kita lakukan selama ini.

Harta kita yang sudah berwujud fisik bangunan tempat ibadah, lembaga pendidikan, ataupun yayasan sosial akan menjadi monumen hidup kita, setelah kita wafat nanti.

Ilmu pengetahuan yang kita miliki dan sudah tertuang dalam sejumlah karya berupa buku akan menjadi warisan intelektual yang sangat berharga bagi generasi setelah kita.

Sejumlah warisan kebaikan tersebut ibarat benih yang kita tanam di dunia, dan akan kita tuai panen raya kebaikan tidak saja ketika kita masih ada di dunia ini, tetapi juga kelak ketika kita sudah ada di akhirat. Nama kita akan dikenang sepanjang masa karena nilai-nilai kebaikan yang telah kita tanam. Karya-karya kita akan terus dinikmati dan memberi manfaat kepada orang lain, serta menjadi ladang pahala bagi kita, meski raga kita telah berkalang tanah.

Inilah kebahagiaan tertinggi bagi seorang anak manusia. Meski umurnya di dunia hanya berbilang puluhan tahun, tetapi usianya tak pernah lekang dimakan zaman dan tak pernah lapuk ditelan waktu.

So, catatkan namamu dalam panggung sejarah!

* Ruang Inspirasi, Kamis, 6 Januari 2022.