Salah satu keterangan penting dalam kitab Misykat yang kita baca semalam adalah soal tingkatan pengetahuan atau ilmu, terutama ilmu rohani. Imam al-Ghazali mengemukakan, ada dua tingkatan pengetahuan: pertama “khabar” alias berita; kedua “jadzwah” alias arang yang menyala. Dalam bahasa Jawa ada istilah yang bagus: mawa (dibaca “mowo”).

Pengetahuan yang masih pada tingkat permukaan, belum dipahami, atau bahkan dihayati hingga ke intinya, dia adalah mirip sebuah kabar atau berita saja. Sebagaimana setiap kabar, pengetahuan semacam itu kita dengar atau baca, dan tidak masuk ke dalam “diri” kita; tidak menimbulkan semacam api panas yang menyala di dalam jiwa atau pikiran kita. Inilah pengetahuan atau pemahaman pada tingkat “khabar”.

Al-Ghazali menggambarkan: seseorang yang pengetahuannya masih pada tingkat “khabar,” dia biasanya hanya “manut” saja, taqlid. Dia belum memahami benar apa yang dia “manuti” itu. Dia tidak paham “juntrungan” atau duduk soal dari pengetahuan itu. Dia belum “dong.”

Pengetahuan pada tingkat “jadzwah” lain lagi. Inilah pengetahuan yang sudah berhasil dicerna sebaik-baiknya, dipahami, dan bahkan dihayati, sehingga masuk, meresap, menyusup, dan menjadi bagian dari diri kita. Pengetahuan ini adalah mirip dengan “jadzwah” atau “mawa” yang menyala-nyala dalam diri kita. Jika pengetahuan sudah sampai ke tingkat ini, ia biasanya bersifat transformatif: akan mengubah cara pandang dan hidup seseorang. Inilah sebenar-benar ilmu yang bersifat rohani.

Saya ingat penggambaran yang pernah dibuat oleh almarhum Soedjatmoko, salah satu intelektual besar kita yang hidup pada dekade 70an dan 80an. Dalam sebuah wawancara dengan Aswab Mahasin, dia berkata kira-kira begini: ada suatu tahap dalam hidup saya, ketika ilmu yang aku serap berubah jadi “ngelmu”; ibarat sarung tangan yang sudah terasa seperti tangan saya sendiri.

Perlambang sarung tangan dari Soedjatmoko ini amat membantu sekali. Pengetahuan yang masih pada tingkat “khabar” ialah seperti sarung tangan yang masih kita rasakan sebagai barang asing; barang yang eksternal, yang masih di luar tubuh kita. Sementara, pengetahuan yang sudah menjadi “jadzwah” adalah seperti sarung tangan yang sudah terasa seperti tangan sendiri. Ibarat gergaji yang oleh seorang tukang kayu sudah dirasakan seperti tangan sendiri, bukan alat yang bersifat eksternal.

Di era digital sekarang, banyak pengetahuan bertebaran tak berhingga di internet, tentang apa saja. Tapi sebagian besar adalah hanyalah sebatas pemgetahuan “khabar,” bukan “jadzwah.” Seorang manusia rohani harus bisa mengubah setiap pengetahuan yang diperolehnya (terutama pengetahuan kerohanian) dari sekedar “khabar” menjadi “jadzwah,” hingga pengetahuan itu menjadi “sarung tangan” yang sudah seperti tangan sendiri.

Sekian.