Masjid itu dua macamnya

Satu ruh, lainnya badan

Satu di atas tanah berdiri

Lainnya bersemayam di hati

Tak boleh hilang salah satunya

Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu

Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu

(Emha Ainun Najib)

Pada dasarnya, tempat ibadah merupakan ruang khusus yang digunakan seorang manusia (baca: hamba) dalam rangka mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Seperti misalnya: masjid, pura, gereja, vihara dan klenteng. Di mana masing-masing merupakan tempat yang digunakan untuk melakukan ritual peribadatan syarat spiritualitas.

Khusus untuk umat Islam agaknya lebih “longgar” perkenaan dan per“wujud”annya, sehingga tiap-tiap tempat bisa dijadikan untuk menjalin interaksi dan komunikasi dengan Tuhannya, asalkan tempat itu suci. Maka tidak heran jika di setiap rumah mereka-mereka yang muslim pastilah terdapat semacam “mihrab” sebagai ruang khusus untuk sesuatu yang sangat “intim” dengan Tuhannya tersebut.

Dalam soal lain, juga bisa dilihat pula bahwa sekarang ini jumlah dan keberadaan masjid sudah demikian beranak pinak di tiap-tiap tempat. Kita bisa melihat “fenomena” demikian dimana-mana. Lantaran masyarakat kita sebagian besar adalah seorang muslim, maka tidak heran apabila hal itu terjadi. Tak masalah juga, yang terpenting ialah toleransi dan sikap saling mengamankan satu sama lain harus sedemikian rupa tetap terjaga.

Pun, soal merebaknya bangunan-bangunan masjid didirikan tak usah pula kita risaukan secara “politis”, cukup kita ambil saja maksud dan iktikad baiknya sembari kita do’akan semoga Allah senantiasa memberkahi dan meridhai. Amiiin. Karena, toh, di daerah desa tempat tinggal saya sendiri yang masyarakat menyebutnya sebagai “kampung santri” fenomena merebaknya bangunan tempat ibadah memang sudah masif terjadi, bahkan sejak dahulu kala. Bayangkan saja, setiap Anda selesai berjalan melewati dua rumah di “kampung santri” itu, maka Anda akan segera menemui bangunan-bangunan mushola (masyarakat menyebutnya: Langgar) terbangun berdiri di samping atau depan rumah tersebut.

Kondisi semacam itu bisa diambil sebuah asumsi yang mengindikasikan bahwasannya sejak dahulu kala memang semangat keberagamaan kita sudah sedemikian berkobar. Sehingga pada saat ini pula, semangat itu termanifestasikan juga ke dalam hal yang sama. Yakni, dengan banyak berdirinya tempat-tempat ibadah, terkhusus berdirinya masjid-masjid di setiap tempat atau daerah. Bahkan kemegahan bangunan masjidnya sungguh luar biasa nian. Di setiap titik-titik tempat, Anda akan mendapati kemegahan bangunan itu.

Tetapi, kemudian, apakah semangat merebaknya masjid-masjid berdiri semacam itu juga dibarengi dengan semangat “ruh”-nya umat Islam sendiri dalam beribadah secara tulus-ikhlas? Soal itu, nanti saja perihal menjawab dan mengkajinya. Meskipun tetap ada rasa was-was, semacam rasa khawatir di dalam hati kita kalau saja berdirinya masjid dimana-mana itu hanya sekadar “simbolisasi” Islam secara administratif-formalistis. Yakni dengan tidak dibarengi kesadaran secara ruhaniah-ilahiyah.

Memang keadaan was-was semacam itu adalah sesuatu yang wajar, apalagi di tengah gelombang zaman yang memang sudah banyak menggiring mindset dan kesadaran manusia untuk hanyut atau juga tenggelam masuk ke dalam teluk “materialistik”. Maka kemegahan apa pun saja sekarang ini hanya dilihat dan sebatas layak dinilai dari bangunan “luar”nya saja, sedangkan keindahan “dalam”nya diabaikan. Padahal, dahulu kita ini amat meng-“amin”-i bahwasannya: ‘kecantikan batin jauh lebih indah dan menyelematkan ketimbang kecantikan fisik’. Namun itu dahulu, saat sebelum “negara-negara api” pemegang kendali zaman menyerang, yang kemudian membakar hangus isi kepala para manusia.

Sehingga dalam banyak hal, dalam setiap segmen dan segi kehidupan kita semakin kehilangan kepekaan terhadap hal-hal yang sifatnya ruhaniah. Alhasil, budaya kita menjadi agak bergeser ke arah budaya yang amat superfisial.

Memang demikian kompleks permasalahan yang ada. Dan, membahas secara dalam soal masjid itu tadi, membuat saya jadi teringat bait puisi berbunyi:

Masjid itu dua macamnya

Satu ruh, lainnya badan

Satu di atas tanah berdiri

Lainnya bersemayam di hati

Tak boleh hilang salah satunya

Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu

Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu

Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

(Sajak: “Seribu Masjid Satu Jumlahnya”)

Memang masjid itu macamnya ada dua. Pertama, adalah masjid sebagai bangunan yang tegak berdiri di atas tanah. Kedua, masjid “ruh”. Yakni, masjid sebagai kesadaran yang tinggal dalam batin kita. Masjid secara lughawi-arabiyah, bermakna ‘suatu tempat yang dijadikan untuk bersujud’. Alhasil, secara luas, makna masjid adalah sebagai pemantik kesadaran dalam jiwa siapa pun saja yang melihatnya (khususnya mereka yang muslim) untuk senantiasa men-“sujud”-kan tubuhnya, akalnya dan terutama hatinya kepada Sang Pencipta—setiap saat, kapanpun dan dimanapun itu.

Maka kedua macam masjid itu tetap harus ada. Sebab kalau “ruh” dari bangunan masjid itu tertindas atau malah ditindas, maka masjid tersebut hanya berposisi sekadar layaknya tumpakan batu—atau sebatas batu-batu yang ditumpuk rapi. Ia kehilangan “magi”-nya, dalam arti ruhaniah-ilahiyah. Hanya kosong belaka. Pun, kalau bangunan sebagai badan masjid tersebut tak dibangun dan didirikan secara wujud jasadiyah, maka keberadaan masjid hanya sebagaimana hantu. Sebab “ruh”-nya kehilangan atau tak memiliki wadah. Manakala “ruh” tak menempati jasad, berarti ia bisa disebut layaknya hantu. Oleh karenanya, kelengkapan dan sinergisitas antara “jasad” dan “ruh” harus senantiasa tetap kita jaga selama kita masih hidup dalam tatanan kosmos alam semesta—lebih-lebih di dunia ini.

Toh, kita juga sebenarnya tak mau apabila harus kehilangan kenikmatan—atau semacam tak mendapatkan sentuhan-sentuhan—ruhani tatkala sedang melakukan sesuatu yang sifatnya memang ruhaniah-ilahiyah, bukan? Juga kiranya kita sama sekali tidak menginginkan diri kita sendiri menjadi sesosok hantu—sekaligus tak berkenan pula untuk meng“hantu”kan sesuatu dengan cara menghilangkan bentuk “jasadiyah”-nya.

Tinggal segalanya kembali pada kualitas dan kapasitas intelektual pelakunya, sekaligus bergantung pada tingkat seberapa bening dan jernih intensitas determinasi hati nurani pelakunya tersebut. Mau memposisikan masjid sebagai hanya sekadar onggokan batu bata yang didirikan secara megah, atau memposisikan masjid lebih dari sekadar itu.

Lanjutan puisinya:

Masjid batu bata

Berdiri di mana-mana

Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya

Timbul tenggelam antara ada dan tiada

Terakhir sekali, saya tanyakan kepada Anda, adakah bangunan “masjid” di dalam dadamu, di dalam hati dan kesadaranmu?