Islamsantun.org. Kata santri semakin akrab di telinga kita, terlebih setelah ditetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo. Pro dan kontra terkait penetapan tersebut tentu tak dapat dihindarkan. Hanya saja, tulisan singkat ini tak akan mengulas perdebatan tersebut. Ada yang lebih esensial lagi, yaitu apa makna santri sebenarnya?

Setidaknya ada dua makna santri yang dapat digali, yaitu secara khusus (khashsh) dan secara umum (‘amm). Secara khusus, kata santri berasal dari tradisi Hindu, “shastri” yang dalam bahasa Sansakerta berarti orang yang mempelajari shastra (kitab suci), sedangkan tempatnya disebut pe-shastri-an dan diserap menjadi pesantren.

Dari definisi awal tersebut, kata santri dimaknai “orang yang mendalami agama Islam” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sehingga secara khusus, kata santri dapat dipahami sebagai orang yang mendalami Al-Quran dan ajaran Islam.

Tentu proses pembelajarannya bisa beragam. Hanya saja, secara umum kata santri kemudian dilekatkan dengan orang-orang yang belajar agama di pesantren. Lantas, mengapa belajar agama perlu di pesantren?

Sebab agama tidak hanya dipelajari secara tekstual, membaca Al-Quran atau hadis saja, tetapi juga perlu laku dan praktek keseharian yang melahirkan ritual dan tradisi keagamaan. Dalam konteks inilah pesantren menghadirkan lingkungan yang kondusif untuk belajar agama.

Namun, pertanyaan kembali muncul, apakah pesantren satu-satunya tempat untuk belajar agama? Tentu saja tidak. Dalam tataran kecil, di rumah tangga, keluarga dapat menjadi wahana untuk saling belajar seputar ajaran agama.

Poin yang perlu kita garisbawahi adalah belajar agama itu perlu dihayati dan diinternalisasikan ke dalam diri pribadi. Sebab puncak tertinggi dari keberagamaan adalah tatkala bisa berakhlak sesuai dengan akhlak Allah, takhallaquu bi akhlaaqillah, demikian sabda Nabi.

Puncak dari akhlak Allah kepada makhluk-Nya terpancar dari sifat rahman dan rahim-Nya. Karenanya kita pun harus mengaplikasikan welas asih tersebut kepada sesama manusia dan seluruh makhluk.

Saya masih ingat nasihat Pak Kyai dahulu yang sering diulang-ulang dalam setiap ceramah, “di mana pun kamu berada, kamu adalah santri”. Akhlak sebagai santri tidak hanya dilakukan ketika di pondok, tetapi juga ketika sudah boyong, di rumah, di masyarakat, di mana pun dan kapan pun.

Pada saat yang bersamaan, kita bisa belajar dari ungkapan kata “santri” yang berasal dari tradisi Hindu tersebut. Bahwa santri tidak sebatas mereka yang belajar di pesantren, tetapi santri ada di setiap tradisi agama, bahkan lebih luas lagi, setiap dari kita adalah santri.

Santri bermakna para pelajar yang haus pengetahuan sekaligus peziarah spiritual. Dalam tradisi Katolik misalnya, ada laku spiritual yang dilalui oleh para frater dan suster di seminari dan biara agar bisa benar-benar menginternalisasikan ajaran Yesus.

Memahami santri pada tataran ini akan membawa kita pada definisi santri yang lebih umum. Santri adalah murid, pembelajar, traveller, yang selalu menimba ilmu darimana pun ilmu tersebut berasal. Setiap dari kita adalah santri dan pada saat yang sama juga sebagai kiai, atau bahasa kerennya, semua murid, semua guru.

Satu sosok inspiratif yang dapat kita jadikan teladan, sebagai santri sekaligus seorang kiai besar adalah KH. Abdurrahman Wahid atau sering disapa Gus Dur. Istilah “Gus” di sini sudah menandakan bahwa beliau adalah putra Kiai. Tidak tanggung-tanggung, beliau adalah cucu dari Hadratusysyekh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

Apa yang dilakukan Gus Dur sepenuhnya mencerminkan filosofi santri yang mau belajar kepada siapa saja. Beliau belajar dengan tokoh agama mana pun, bahkan membangun jembatan dan ruang perjumpaan dengan mereka yang selama ini termarjinalkan.

Sayangnya kemajuan teknologi membuat banyak dari kita menjadi “kiai” atau “guru” dadakan, tetapi tidak melewati tahapan menjadi santri. Kita menyampaikan semua hal yang diketahui dan menganggap bahwa itu adalah pemahaman yang benar, padahal apa yang kita sampaikan boleh jadi baru satu puzel kecil dari rangkaian kebenaran universal.

Karenanya dalam tradisi di pesantren, biasanya santri akan diajarkan perbandingan mazhab, misalnya melalui kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Ibn Rusyd. Kitab tersebut akan membawa kita pada kekayaan ulama mazhab fikih, perbedaan pendapat di kalangan mereka adalah rahmat. Lha, kok sampai pada kita, perbedaan justru membawa laknat?

Jauh sebelum belajar kitab-kitab lainnya, seorang santri akan diberikan bekal ilmu “alat” atau ilmu untuk memahami bahasa Arab, seperti nahwu, sharaf, balaghah, dll. Dengan perangkat keilmuan itu, santri dapat memahami ajaran agama secara komprehensif. Tidak sekadar membaca satu kitab, tapi banyak kitab.

Selain seputar kemauan untuk belajar, hal lain yang menarik dari keberadaan santri adalah komunalitas mereka dalam satu kawasan. Mereka berasal dari beragam suku tapi bisa hidup bersama. Tentu ada penyesuaian budaya dan tradisi yang dilalui. Konflik pun sering terjadi di kalangan santri. Beberapa aspek juga perlu dikritisi sekaligus dibenahi, sepertinya terjadinya kekerasan baik secara verbal (bullying) fisik, seksual di lingkungan pesantren.

Tanpa mengabaikan beberapa catatan kelam tersebut, kehidupan santri akan melahirkan banyak perjumpaan, mulai dari perjumpaan tradisi, strata sosial dan ekonomi, dll. Dari perjumpaan antar budaya itu pun melahirkan semangat kebersamaan. Konflik pasti akan terjadi di kalangan santri, namun itu semakin mendewasakan mereka.

Jika mau ditarik ke ranah yang lebih luas, santri seharusnya juga tidak “kagetan” dengan keberagaman lainnya. Sebab pesantren adalah miniatur kecil dari keberagaman, meskipun secara agama masih seragam.

Laku santri yang terus mencari ilmu dan berinteraksi dengan orang yang beragam perlu dihayati kembali. Siapa pun yang dengan rendah hati mau belajar, terbuka dengan perbedaan pendapat dan mau merayakan keberagaman, pada hakikatnya adalah santri.

Karenanya kalau Anda suatu saat ditanya, “kamu santri mana? Dulu mondok di mana?”, cukup dijawab saja, “saya santri di Pondok Pesantren Kehidupan dan belajar langsung dari pengalaman dan perjumpaan dengan orang yang beragam”. Keren bukan kalau kita semua menyadari bahwa kita adalah santri dengan jalan kehidupan masing-masing. Wallahu a’lam bish showwab.