Ketika menjalankan proses belajar-mengajar dan diskusi dengan mahasiswa, saya selalu menyinggung persoalan-persoalan aktual yang sedang menjadi trending topik di tengah-tengah masyarakat.

Seperti biasa, saya meminta respons mahasiswa terlebih dahulu tentang berbagai persoalan yang sedang ramai dibicarakan. Setelah itu, saya baru memberikan mereka ‘pencerahan’ dengan menyajikan data-data yang valid. Terkadang dengan membuka selubung berita-berita hoax, yang tidak jarang ditelan mentah-mentah oleh mahasiswa dan menyajikan argumentasi yang reasonable dengan menunjukkan kepada mereka rujukan-rujukan yang representatif-otoritatif.

Tidak jarang juga saya membuka sedikit banyak wawasan geopolitik di Timur Tengah, agar mereka benar-benar memahami peta politik yang sebenarnya. Setelah mendapat sedikit pencerahan, kadangkala ada beberapa orang di antara mereka yang bertanya:

“Pak, mungkin kami di sini sedikit banyak sudah mendapatkan gambaran yang sebenarnya, sehingga dapat menyikapi dengan benar. Tapi bagaimana Pak, ketika masyarakat awam di desa kami menanyakan persoalan-persoalan ini? Kepada siapa kami menunjukkan mereka sebagai rujukan yang bisa dijadikan pegangan keilmuannya?”

“Sudahlah Anda tunjukan saja kepada mereka untuk merujuk kepada tokoh-tokoh ini”, kata saya.
Lalu saya tulis di white board: K.H. Said Aqil Siraj.
“Anda kenalkan dengan tokoh ini?” tanya saya kepada mereka.

Yang mengagetkan, mereka menjawab serentak: “Tidak!!!…”

Ditengah-tengah kekagetan, saya merespons: “Lho beliau ini Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, masak gak kenal?”

Jawabnya kembali sama-sama: “Tidak!!!…”

Lalu saya tulis lagi sebuah nama: K.H. Haedar Nashir.
“Kenal dengan tokoh ini?” tanya saya.

Jawaban serentak kembali: “Tidak!!!…”
“Beliau ini Ketua Umum PP Muhammadiyah, masak gak kenal?” tanya saya.
“Tidak!!!…” jawab mereka.

“Kalau dengan tokoh ini: K.H. Mustofa Bisri atau Gus Mus?” tanya saya.
Jawaban sama: “Tidak!!!…”

“Kalau dengan tokoh ini: Buya Ahmad Syafii Maarif” tanya saya.
“Tidak!!!…” jawab mereka.

Kalau dengan tokoh ini: K.H. Hasyim Muzadi?
“Tidak!!!…”
“Kalau dengan tokoh ini: Habib Luthfi bin Yahya” tanya saya.
“Tidak!!!…” jawab mereka.

Mendengar jawaban-jawaban yang sama yang bersifat negatif, saya kehabisan kata-kata.
“Mereka bukan hanya tokoh-tokoh yang sangat terkenal dengan kualifikasi keilmuannya; tapi juga sangat otoritatif untuk dijadikan rujukan secara moral, ketika kita masyarakat awam kebingungan dengan persoalan-persoalan sosial-politik dan keagamaan” jelas saya.

Lalu saya bertanya kembali lagi kepada mereka:
“Bukankah Anda semua secara kultural berafiliasi kepada NU atau Muhammadiyah?”

“Ya!!..” jawab sebagian besar mereka.

“Lalu bagaimana Anda semua tidak kenal dengan tokoh-tokoh otoritatif NU dan Muhammadiyah ini?” tanya saya

Mereka hanya terdiam, sambil tersenyum kecut.

Semua ini sebenarnya hanya menggambarkan bagaimana sebagian masyarakat yang meskipun secara kultural menganggap bagian dari NU dan Muhammadiyah, tapi sudah tidak memahami lagi ke-NU-an dan ke-Muhammadiyah-an itu sendiri; Mereka juga tidak lagi mengenal pemimpin-pemimpin otoritatif organisasi mereka. Fakta ini juga menggambarkan telah terjadi fragmentasi otoritas keagamaan: banyak masyarakat yang lebih tertarik kepada mubalig pop culture, celebrity preachers, atau low-brow ulama.

Tidak sedikit orang-orang yang secara kultural berasal dari NU dan Muhammadiyah, tapi mereka sesungguhnya telah tercerabut dari akar teologis ke-NU-an dan ke-Muhamadiyah-annya, meskipun secara sosiologis mereka merasa sebagai warga NU dan Muhammadiyah.

Salah satu penyebabnya juga adalah banyak di antara mereka yang sudah diindoktrinasi oleh berbagai gerakan transnasional, sementara sebagian pengurus NU dan Muhammadiyah tidak menjangkau, membimbing, dan merawat mereka. Sebagian mereka malah sibuk berpolitik praktis, sehingga umatnya diambil ormas lain.