Sedih rasanya setiap buka FB terlihat ucapan inna li-llahi. Kita memang milik Allah. Kaum beragama mengenal istilah “ajal,” yang tak bisa ditunda atau dimajukan. Tapi, tak ada orang tahu kapan ajalnya tiba.

Karena itulah ikhtiar wajib dilakukan. Secara keilmuan, banyak orang meninggal, padahal sebenarnya bisa diselamatkan. Sudah menjadi konsensus umum, cara paling efektif menghadapi pandemi covid ialah vaksinasi. Para ilmuwan sudah berhasil menemukan vaksin yg efektif dalam waktu begitu cepat, yang tak terbayangkan sebelumnya.

Pertanyannya, bagaimana supaya vaksin itu sampai ke dalam tubuh orang? Ini persoalan rumit karena jumlah mereka yang tak percaya vaksin sangat tinggi. Di Amerika yang masyarakatnya relatif terpelajar, ketidakpercayaan publik trhdp vaksin tergolong tinggi. Menurut sebuah survei, bulan Oktober 2020, mereka yang enggan divaksin mencapai 46%.

Maka, bisa dimengerti jika pemerintah menggunakan berbagai cara untuk menjelaskan dan mengedukasi publik tentang vaksin dan kenapa masyarakat perlu divaksin. Para ahli dan dokter tampil memberikan informasi ke publik. Hal2 simbolik juga dilakukan, seperti pemimpin dan tokoh masyarakat divaksin dgn diliput media.

Pada bulan Maret 2021, ketidakpercayaan publik dapat ditekan dan menurun hingga 35%. Itu pun sebenarya masih tinggi. Fasilitas vaksin dipermudah. Tempat2 vaksin banyak tersedia. Farmasi/apotek atau pusat perbelanjaan menyediakan penyuntikan vaksin, asalkan mereka mau.

Saat ini ketika vaksin tersedia berlimpah-ruah, persoalan lain muncul. Anak-anak muda enggan divaksin karena merasa imun tubuh mereka cukup kuat sehingga virus covid dianggap tidak membahayakan. Di AS, dengan semua fasilitas dan kampanye informasi yang begitu gencar, baru 50% masyarakatnya yang sudah divaksin penuh.

Ancaman pandemi covid belum mereda, karena masih banyak kalangan yang tidak (mau) divaksin. Ada banyak alasan mereka enggan divaksin. Selain alasan imun tubuh anak muda yang kuat, sebagian orang menggantungkan diri pada nasib: Jika Tuhan menghendaki, mereka akan terjangkit virus. Alasan lain, vaksin yang ada sekarang baru diperbolehkan digunakan dalam situasi emergency.

Itulah sebabnya, saya katakan, tugas terberat pemerintah ialah meyakinkan publik untuk mau divaksin. Saya tidak meragukan pemerintahan Pak Jokowi diisi oleh orang-orang pinter: Gunakan segala cara untuk menjelaskan ke publik tentang keharusan vaksin. Masyarakat, terutama di kampung, belum mendapatkan penjelasan meyakinkan soal vaksin ini.

Saya teringat, pemerintahan Biden di AS mengajak public figures (artis, penyanyi) yang menjadi idola anak-anak muda untuk ikut menjelaskan pentingnya vaksin. Dua hari lalu, penyanyi country Olivia Rodrigo berbicara di Gedung Putih, bersama juru-bicara Presiden, mendorong anak-anak muda untuk suka rela divaksin. (Itu anak-anak muda kreatif yang direkrut Pak Jokowi kerja apa ya?) Perlu diketahui, juru-bicara Gedung Putih setiap hari memberikan briefing untuk menginformasikan kebijakan/kerja pemerintah. Setiap hari!

Jika di Amerika saja perlu kampanye serius meyakinkan publik tentang vaksin, saya kira situasi di Tanah Air lebih mendesak dilakukan. Bbrp anggota keluarga dan teman dekat saya sendiri cenderung tak percaya vaksin, namun setelah saya jelaskan mereka berjanji akan segera cari tempat di mana tersedia vaksinasi.

Pemerintah perlu mengorkestra jaringannya untuk menginformasi publik. Soal kepercayaan publik pada vaksin harus menjadi prioritas pemerintah. Saya lihat, saat ini ada dua krisis sebagai turunan dari krisis pandemi: krisis kepercayaan terhadap keamanan dan efektifitas vaksin dan krisis kepercayaan terhadap cara pemerintah mengatasi krisis covid dan/atau mengelola vaksinasi.

Dua bentuk krisis kepercayaan itu, sebagiannya, bersumber dari mis/disinformasi yang tersebar luas di tengah masyarakat kita. Persoalannya menjadi tambah rumit karena ketidakjelasan “penjelasan resmi” pemerintah yang didukung lembaga keilmuan yang otoritatif. Siapa yang bicara atas nama pemerintah? Terus-terang, saya berharap Badan POM atau lembaga pemerintahan sentral yang relevan diberi tugas mengkomunikasikan vaksin ini secara lebih massif. Jika tidak briefing setiap hari, minimal seminggu sekali menjelaskan ke publik.

Sumber krisis kepercayaan lainnya ialah munculnya wacana yang kontra-produktif yang dikembangkan elemen-elemen kekuasaan yang tidak sensitif dengan situasi krisis, termasuk ide “vaksin berbayar” itu atau kemewahan hidup elit di tengah kesulitan yang mendera rakyat. Tanpa kepercayaan publik terhadap vaksin dan institusi pemerintah untuk mengelola vaksinasi, krisis pandemi covid akan berlangsung sangat dan sangat lama dgn konsekuensi ekonomi, politik dan kultural yang akan menyengsarakan dalam waktu yang panjang.

Karena itu, pemerintah perlu memprioritaskan keeping the public informed. Itu lebih bermanfaat bagi kemaslahatan umum daripada sibuk mempertimbangkan permintaan MUI supaya para da’i memperoleh insentif. Sungguh usulan yg memalukan dan memuakkan! Apa mereka ndak punya malu ya?

Friends, jika ada kesempatan vaksin, please get vaccinated. It’s good for you, for your loved ones, and people around you. Siapa yg akan menolak divaksin jika yang mengajak Olivia Rodrigo?