Ketika banyak yang menyebut Hari Raya Idul Fitri sebagai hari kemenangan, perkenankan saya sekadar bertanya, kemenangan dari apa?

Menang karena selesai berpuasa sebulan lamanya? Menang karena mengkhatamkan Al-Qur’an? Menang karena salat tarawihnya tidak pernah putus sebulan penuh? Menang karena salat subuh berjamaah sepanjang Ramadan? Menang karena semakin rajin beribadah di bulan penuh berkah?

Jika itu makna kemenangan yang dimaksud, betapa sederhana dan remehnya makna kemenangan itu? Bukankah semua aktivitas ibadah tersebut baru terlihat hanya dalam satu bulan terakhir saja? Itu pun jika benar-benar ikhlas melakukannya. Itu pun jika bukan karena ingin dipuji orang agar dianggap rajin beribadah.

Bukankah masih ada sebelas bulan ke depan untuk membuktikan makna kemenangan yang sesungguhnya? Bukankah masih ada berbilang tahun ke depan, jika Allah mengizinkan kita untuk kembali menjalani hidup hingga ajal datang menjemput.

The show is about to begin. Pertunjukan yang sesungguhnya baru saja akan di mulai.

Syawwal, yang makna harfiahnya adalah ‘peningkatan’, adalah starting point untuk membuktikan makna kemenangan itu. Inilah saatnya kita tunjukkan hasil training spiritual (riyadhah batiniyyah) yang kita jalani selama mengikuti Madrasah Ruhaniah Ramadan sebulan lamanya.

Jika memulai bulan Syawwal ini penuh dengan peningkatan kualitas diri; kualitas intelektual, emosional, dan spiritual dan mampu secara istiqamah (konsisten) kita jaga hingga akhir hayat nanti, maka inilah makna kemenangan yang hakiki.

Sebaliknya, jika di bulan Syawwal ini, hingga bulan-bulan selanjutnya justru kita mengalami degradasi dan kemunduran diri; kemunduran intelektual, emosional, dan terutama spiritual, maka alih-alih kemenangan yang kita dapat, justru kekalahan yang kita peroleh.

So, Hari Raya Idul Fitri, benarkah menjadi hari kemenangan, atau justru menjadi hari kekalahan, just wait and see… Kita lihat diri kita masing-masing.

* Ruang Inspirasi, Jumat, 14 Mei 2021/ 2 Syawwal 1442 H.