Islamsantun.org. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun yang di mana seluruh umat manusia merayakannya dengan penuh gembira dan kebahagiaan. Persiapan-persiapan pun mulai berdatangan demi memberikan kemeriahan yang nyata. Sehingga setiap orang berbondong-bondong merasa puas memasuki pergantian tahun. Apalagi kalau bukan tahun baru masehi yang setiap harinya penuh moment-moment krusial.

Mulai dari penjual kaki lima yang sudah mulai siap, para desainer baju yang jauh-jauh hari sudah update, pedagang mainan di mana-di mana, serta penjual kembang api. Itu semua dilakukan untuk memperjuangkan daya ekonominya membaik. Namun bagaimana pandangan islam tentang tahun baru?. Haramkah?. Atau malah menghalalkan?

Pertanyaan ini sangat realistis mengingat para dai muda maupun tua sama-sama menyiapkan materi tahun barunya guna membuat jama’ah sadar tentangnya. Ada yang menyebutkan “tahun baru haram dirayakan”, tapi malah membelikan mainan anaknya. Seakan-akan semuanya baik-baik saja karena membahagiakan anaknya adalah nomor satu. Namun yang lebih anehnya mengharamkan tahun baru masehi dengan cara bersembunyi-bunyi biar para jama’ahnya nggak tahu sama sekali. Ada-ada saja bukan? Melihat fenomena-fenomena tentu kita sebagai umat islam harus bijak dalam keputusan. Apakah keputusan ini berlaku umat islam saja? Apa umat agama lain?

Tahun baru masehi memang bukan hari kebangaan umat islam. Melainkan kepercayaan-kepercayaan orang-orang romawi atas kemenangan dewa langit babilonia marduk vs dewi laut jahat dan menjalankan tujuan politik yang penting (baca www.suara.com/lifestyle/2020/12/17/195000/ternyata-ini-asal-usul-sejarah-tahun-baru-masehi?page=all) Memang ini menjadi salah satu yang paling disorot di media massa. akibatnya sebagian umat islam mengangap tahun baru termasuk harinya kaum yahudi kepada para bintang-bintang. Sulit dipercaya bukan?

Dalam anggapan islam, tahun baru masehi bisa dikatakan tidak diperbolehkan lantaran kepercayaan terhadap dewa-dewa. Seperti dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 76 “Mengapa menyembah selain daripada kepada Allah swt? sesuatu yang tidak dapat memberi mudhorot kepadamu dan tidak pula memberi manfa’at? Dan Allahlah yang lagi Maha Pemberi lagi Maha Pendengar “.

Sangat jelas jika tahun baru masehi hanya mendatangkan keburukan apabila seseorang muslim menyalagunakan dengan hal-hal dibenci oleh Allah swt. Akan tetapi tahun baru masehi dirayakan sebaik-baiknya bisa berupa: menghabiskan penjual-penjual, dan membantu orang susah menjual bukan tidak mungkin itu sangat mendatangkan kemanfaatan bagi sesama muslim atau kemanusiaan. Itulah mengapa islam memberi pelajaran berharga pentingnya merayakan tahun baru masehi pada orang-orang yang susah. Ditambah era pandemi saat ini juga dibatasi rekreasi untuk mencegah kerumunan.

Tentunya kita tidak boleh mengharamkan sesuatu diluar syariat islam. Seolah-olah merasa benar sendiri dan menyalahkan orang lain yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Tidak pandang bulu “pokokke haram hukume” (“pokoknya haram hukumnya”). Sering sekali kejadian-kejadian seperti ini terus diungkit-ungkit padahal jelas-jelas tidak diperbolehkan. Maka hal yang paling kita ajarkan adalah mengalihkan perhatian dengan menyenangkan. Karena cara ini sungguh ampuh dan selalu saya lakukan ketika berhadap seorang yang berbeda pandangan.

Dan kita bisa ambil hikmah tahun baru masehi ini menjadi sesuatu keistimewaan kegembiraan dalam peningkatan kualitas rasa bersyukur. Benar rasa bersyukur yang selalu diajarkan dalam islam “Dan (ingatlah juga), tatkala tuhanmu memaklumkan “Sesunggunnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari ( nikmatku), maka sesungguhnya adzab-ku sangat pedih” ( surat ayat 7).

Dengan begitu hidup kita merasa tentram dan penuh rasa cinta terhadap sesama. Syukur bukan untuk dijadikan nilai-nilai perbandingan antara kaya dan miskin, melainkan rasa terima kasih kita terhadap Allah swt yang telah mengajarkan arti keberagaman. Semoga tahun baru masehi besok membawa keberuntungan bagi semua umat manusia. Amin.