Islamsantun.org. Investasi secara umum dimaknai sebagai penanaman suatu modal ‎untuk mendapatkan keuntungan. Istilah investasi ini lazim kita jumpai dalam ‎dunia bisnis. Ketika seseorang berharap mendapatkan keuntungan, baik ‎jangka pendek maupun jangka panjang, maka salah satu cara yang ‎ditempuhnya adalah dengan menginvestasikan modalnya pada suatu usaha ‎atau bisnis tertentu. Atau, bisa juga dia menginvestasikan modalnya untuk ‎membeli barang-barang yang diperkirakan nilai jualnya di masa mendatang ‎akan selalu naik, seperti; properti, tanah, sawah, ladang, kebun dan lain ‎sebagainya. ‎

Kesemua hal yang saya sebutkan di atas adalah investasi dalam ‎bentuk materi atau fisik. Padahal, kehidupan ini tidak melulu fisik atau materi. ‎Ada sisi lain dari kehidupan ini yang tidak kalah pentingnya, bahkan lebih ‎penting dari yang bersifat materi atau fisik tersebut, yaitu investasi dalam ‎bentuk non-materi, yang akan memperkaya kualitas diri dan pribadi kita. ‎Investasi yang saya maksud adalah ilmu.‎

Ya, ilmu adalah investasi tak kenal rugi. Investasi yang pasti dan selalu ‎akan mendatangkan keuntungan. Jika investasi harta atau modal, sangat ‎mungkin kita akan mengalami kerugian karena banyak hal. Bisa karena salah ‎perhitungan, karena faktor lain seperti bencana alam, misalnya, sehingga ‎properti yang kita miliki rusak atau hancur. Atau juga karena kejadian di luar ‎prediksi kita, seperti kebakaran, misalnya, sehingga investasi berupa materi ‎yang kita miliki musnah, atau karena perusahaan tempat kita menanamkan ‎modal gulung tikar dan bangkrut. Singkatnya, investasi berupa materi tidak ‎menjamin keuntungan secara pasti.‎

Sedangkan investasi non-materi, dalam hal ini ilmu pengetahuan ‎menjamin orang yang berinvestasinya merasakan keuntungan. Penjelasan ‎tentang hal ini dapat kita simak dari dialog serta diskusi antara Ali bin ‎Abi Thalib dengan beberapa orang yang datang kepadanya untuk menanyakan ‎tentang perbedaan antara ilmu dan harta.‎

Kita semua mafhum bahwa Ali bin Abi Thalib, salah seorang khalifah ‎rasyidah, yang juga menantu Rasulullah Saw, dikenal sebagai seorang alim ‎yang cerdas dan dalam ilmunya. Rasulullah Saw. menyebut dirinya sendiri ‎sebagai madinatul ‘ilmi (kota ilmu), sedangkan Ali bin Abi Thalib disebut ‎sebagai babul ‘ilmi (pintu / gerbang ilmu).‎

Suatu ketika Imam Ali ditanya oleh sekelompok orang yang ingin ‎menguji kecerdasannya. Mereka mengajukan satu pertanyaan yang sama, tapi ‎menghendaki jawaban yang berbeda. ‎

Ada sepuluh pertanyaan yang sama yang diajukan oleh sepuluh orang, ‎tetapi dijawab dengan sepuluh jawaban yang berbeda. ‎

Pertanyaan tersebut adalah tentang perbedaan antara ilmu dan harta. ‎Berikut penjelasan Imam Ali tentang perbedaan antara keduanya:‎

‎1. Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta warisan si ‎Qorun.‎
‎2. Ilmu akan menjaga kita, sedangkan harta haruslah kita yang menjaganya.‎
‎3. Pemilik ilmu punya banyak teman, sedangkan pemilik harta punya banyak ‎musuh.‎
‎4. Jika ilmu dipergunakan akan bertambah, sedangkan harta dipergunakan ‎akan berkurang.‎
‎5. Ilmu takkan pernah tercuri, sedangkan harta mudah dicuri.‎
‎6. Pemilik ilmu akan selalu disebut mulia dan terhormat, sedangkan pemilik ‎harta akan disebut pelit dan rakus.‎
‎7. Ilmu itu abadi, sedangkan harta akan musnah.‎
‎8. Ilmu akan menyinari hati, sedangkan harta akan mengeraskan hati.‎
‎9. Pemilik ilmu akan diberi syafa’at di akhirat, sedangkan pemilik harta akan ‎dihisab.‎
‎10. Pemilik ilmu akan dimuliakan walaupun sedikit ilmunya, sedangkan ‎pemilik harta disebut besar setelah banyak hartanya.‎

Dari keterangan Ali Bin Abi Thalib tersebut, jelaslah bahwa memiliki ‎investasi berupa ilmu itu jauh lebih mulia dan bermanfaat daripada harta. Ilmu ‎adalah investasi tak kenal rugi.‎

* Ruang Inspirasi, Senin, 28 Februari 2022