Islamsantun.org. Apa yang dikhawatirkan semua orang telah terjadi. Pasca kemenangan Taliban di Afghanistan, sorot mata bukan pada meja dan kursi kuning yang diduduki para punggawa Taliban di Istana. Melainkan sebaliknya, yakni gerakan apa yang bakal terjadi setelah ini.

Dan yang terjadi, hari lalu, benar-benar menyayat hati. Dor! Bom bunuh diri dan tembakan membabi buta terjadi di jantung kota Afghanistan: Kabul. Semua kekejaman itu dilakukan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dan ISIS, secara berani mengatakan bertanggung jawab atas kejadian bengis itu.

Politik dan Pembelolat ISIS

Setelah Taliban bernegoisasi politik sama Amerika Serikat, ISIS menyatakan musuh dengan Taliban. Semua berjalan begitu cepat. Dan kecepatan itu, memporak-poranda kedamaian dan kenyamanan semua orang Afghanistan dan dunia.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (27/8/2021), sejauh ini 13 tentara AS dan 60 warga Afghanistan tewas akibat dua ledakan yang didalangi oleh ISIS. Serangan bom yang mengguncang bagian luar bandara Kabul itu terjadi dua kali. Satu bom meledak di dekat Gerbang Abbey dan satu bom lainnya meledak di dekat Baron Hotel. Ledakan bom itu terjadi di tengah kerumunan yang berkumpul di gerbang bandara Kabul (VIVA, 27/8/21).

Tubuh-tubuh tercabik terbang. Darah dalam tubuh manusia mengairi bumi. Kantung-kantung kemi berubah merah. Kesaksian orang: “Saya melihat tubuh dan bagian tubuh terbang di udara seperti tornado membawa kantong plastik … ke udara. Saya melihat tubuh, bagian tubuh, pria tua dan terluka, wanita dan anak-anak berserakan di lokasi ledakan. Tidak mungkin melihat kiamat dalam kehidupan ini, tetapi hari ini saya melihat hari kiamat, saya menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Mayat dan luka-luka tergeletak di jalan dan di saluran pembuangan. Air kecil yang mengalir di dalamnya telah berubah menjadi darah” (Detiknews, 27/8/21).

Anda mungkin sama perasaannya seperti hamba: tak tega. Tetapi, betapa teganya pemboman yang dilakukan ISIS, hanya karena sumbatan ideologi dan politik. Dua di antara itu, telah mampu menewaskan ratusan orang. Telah bisa menghilangkan sisi kemanusiaan saudaranya, yang seiman dan sealiran, bahkan sesukuan.

ISIS ini mengatur segala praktik ajaran dan sikap dengan hukum Islam dan menggunakan taktik penegakan kekerasan, seperti melakukan eksekusi publik, membunuh tetua suku dan menutup sekolah. Mengapa ISIS kini membelok daripada Taliban, salah satunya dengan alasan tersebut.

BACA JUGA  Anak Muda Jadi Teroris Buntut dari Tafsir Ekstrem
BACA JUGA  Teroris JAD Mau Ngebom Gereja, Maunya Apa Sih?

ISIS tidak puas. Karena Taliban dianggap munafik. Kendati itulah, Anggota pendiri termasuk militan yang meninggalkan Taliban Afghanistan dan Taliban Pakistan.

“ISIS telah mengirim perwakilan ke Pakistan dan Afghanistan. Mereka pada dasarnya dapat mengkooptasi beberapa Taliban Pakistan yang tidak puas, dan beberapa (anggota) Taliban Afghanistan untuk bergabung dengan perjuangan mereka,” kata Seth Jones, Analis Afghanistan di Center for Strategic and International Studi dilansir NPR, Jumat, 27 Agustus 2021.

Dalam sebuah video tahun 2015, pemimpin kelompok ISIS-Kpada saat itu, Hafiz Saeed Khan, dan komandan tinggi lainnya berjanji setia kepada Abu Bakr al-Baghdadi, yang saat itu menjadi pemimpin Negara Islam, dan menyatakan diri mereka sebagai administrator wilayah baru ISIS di Afghanistan. Khan terbunuh pada 2016 dalam serangan pesawat tak berawak AS. Baghdadi meninggal pada 2019 setelah ia meledakkan rompi peledak selama serangan oleh pasukan AS (VIVA, 27/8/21).

ISIS-K adalah kependekan dari ISIS Khorasan, dibentuk pada akhir 2014 dan beroperasi sebagai afiliasi ISIS di Afghanistan dan Pakistan. Khorasan adalah nama wilayah yang mencakup Afghanistan, dan sebagian Timur Tengah dan Asia Tengah. Kelompok ini juga dikenal sebagai ISIS-K atau IS-K.

Antisipasi di Indonesia

Setelah kejadian di atas, barangkali kita mulai bertanya tesis pengkaji terorisme dunia yang selama ini mereka paparkan. Bahwa teror akan terjadi apabila kelompok radikal kalah dan sistem yang dianut non-muslim mengalami kejayaan. Tatapi apa yang terjadi, Taliban (yang bisa dibilang kelompok konservatif) menang, justru ISISlah kini membuat teror baru.

Sungguh, kejadian itu yang berangkali bisa memantik teror di Indonesia juga setelah di Afghanistan. Teror-teror dan serangan lanjutan tak mungkin berhenti dengan kejadian hari Kamis itu. Jelas bakalan berlanjut di hari-hari mendatang. Bukan cuma tentara Amerika dan Taliban yang harus siap, melainkan Indonesia juga harus siap melihat gejolak anak buah ISIS yang berada di Indonesia. ISIS ngebom jantung Afghanistan dan siap-siap untuk Indonesia.

Selengkapnya baca di I