Sejak menjelang bulan puasa kemarin kita dikejutkan kembali dengan kasus-kasus bom bunuh diri yang tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di luar negeri. Di Indonesia bom bunuh diri terjadi di Makasar dengan pelaku pasangan suami istri yang masih terhitung milenial karena usianya yang masih muda. Kemudian di bulan puasa, tepatnya tanggal 21 April, di Pakistan juga terjadi ledakan bom bunuh diri. Kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa perdamaian belum sepenuhnya mewarnai kehidupan di bumi ini.

Perdamaian merupakan impian banyak umat yang mustahil tercipta tanpa adanya kasih sayang yang mewarnai jiwa manusia. Mengasihi dan menyayangi makhluk merupakan inti ajaran (Islam) selain mengagungkan Tuhan. Pengagungan kepada Allah sebagai Pencipta dan berkasih sayang kepada makhluk yang dicipta-Nya harus seiring sejalan. Bukanlah ketaatan yang sesungguhnya jika rajin beribadah puasa namun lupa menghormati sesama. Bukanlah ketaatan yang sesungguhnya jika sibuk salat namun lupa mengusahakan kemaslahatan umat.

Banyak hadits yang menunjukkan betapa Nabi Muhammad sangat menganjurkan umatnya untuk berkasih sayang. “Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya.” (H.R. Turmudzi). Bahkan orang yang hilang rasa kasih sayang dari hatinya Nabi gambarkan sebagai orang yang celaka. “Rasa kasih sayang tidaklah dicabut, melainkan hanya dari orang-orang yang celaka.” (H.R. Ibn Hibban). Saking pentingnya kasih sayang, Nabi sampai mengatakan,  “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Islam tidak hanya mengajarkan kasih sayang kepada sesama muslim, tapi pada semua manusia. “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia)” (H.R. Thabrani). Tidak hanya kepada manusia, Islam bahkan juga mengajarkan kasih sayang kepada semua makhluk-Nya, termasuk hewan, juga seluruh semesta alam. “Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Kasihilah makhluk yang ada di muka bumi, niscaya yang di langit akan mengasihi kalian.” (H.R. Tirmidzi). Dengan kasih sayang yang merata inilah akan tercipta keseimbangan dalam kehidupan. Kedamaian akan mudah terwujud dengannya.

Kasih sayang sangat tinggi nilainya dalam agama (Islam). Banyak kisah para ulama’ yang menggambarkan hal ini. Kiai Maimun Zubair bahkan pernah berpesan, jika melihat semut terpeleset tercebur dalam air, maka hendaklah kita angkat. Bisa jadi ia yang akan menyebabkan turunnya ampunan untuk kita. Jika melihat anak ayam terpisah dengan induknya maka susulkanlah kepada induknya. Bisa saja jadi itu menjadi sebab Allah mengumpulkan kita dengan keluarga di surga kelak.

Imam Ghozali, seorang sufi sekaligus filosof, karena kasih sayangnya ia membiarkan lalat yang kehausan meminum tinta yang biasa ia gunakan untuk menulis kitab-kitab. Bahkan dikisahkan, seorang wali bernama As-Sibly diampuni Allah bukan karena ibadah haji, puasa, maupun sholatnya, melainkan karena kasih sayangnya pada seekor kucing kecil yang menggigil kedinginan lalu ia selamatkan dengan memasukkannya ke dalam jubah yang ia kenakan. Demikian tinggi kasih sayang para ulama’ terhadap binatang, apalagi terhadap manusia.

Kasih sayang yang perlu ditumbuhkan agar tercipta kedamaian dalam hidup adalah kasih sayang yang mutlak. Kasih sayang mutlak, kasing sayang yang ikhlas, sebagaimana dijelaskan oleh Kiai Asrori Al-Ishaqi, seorang mursyid thariqah, merupakan kasih sayang yang tidak ada pamrihnya. Kasih sayang tanpa pamrih ini tidak lagi bicara soal senang atau tidak senang, menguntungkan atau tidak menguntungkan.

Artinya orang akan menyayangi siapa saja meski yang disayangi tidak memberikan keuntungan padanya. Ciri orang yang memiliki rasa kasih sayang mutlak, kata Yi Asrori, antara lain adalah mudah tersentuh hatinya, mudah mendoakan kebaikan meski pada orang yang tidak dikenalnya, pada orang yang tidak menguntungkannya. Kasih sayang atau sakhawatun-nufus yang mutlak ini merupakan bagian dari buahnya tasawuf. Jika dunia dipenuhi oleh pemilik buah ini maka dunia akan damai.

Bangsa Indonesia, dengan berbagai macam kedudukannya mampu berpartisipasi mewujudkan perdamaian dunia umumnya, dan perdamaian bangsa Indonesia khususnya. Dengan sakhawatun-nufusnya, pemusik bisa membawakan pesan perdamaian melalui lagu-lagu, jurnalis melalui tulisan-tulisannya, seniman melalui karya seninya, guru dan dosen melalui pendidikan yang mereka emban, muballigh melalui mimbar-mimbar ceramah yang mereka gunakan, para youtuber melalui konten-konten videonya. Kita semua bisa berkontribusi dalam mewujudkan kehidupan yang damai dengan memperbanyak pesan-pesan perdamaian mengalahkan pesan-pesan permusuhan. Memperbanyak pesan-pesan kasih sayang mengalahkan pesan-pesan kebencian.