Islamsantun.org. Ismail bahkan masih bayi ketika memulai perjalannya menuju (ridha)-Nya. Sang Ibu menggendongnya lalu merebahkannya di atas tanah yang kelak kita kenal dengan Sumur Zamzam dekat Ka’bah. Kala itu belum pun ada mata-air. Tanahnya gersang, sejauh mata memandang terlihat hanya hamparan sahara; padang pasir memanjang hingga ujung penglihatan. Ke mana mata melihat, warna kuning belaka yang terlihat.

Hajar menggelayut di baju Ibrahim yang hendak pergi meninggalkan dirinya dan bayi yang masih merah. “Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi meninggalkan kami di lembah tandus ini? Ibrahim, ke mana engkau akan pergi meninggalkan kami? Ibrahim, mau ke mana?” Hajar masih saja bertanya, sementara Ibrahim diam tak satu kata pun terlontar sebagai jawaban. Kita tak tahu pasti seperti apa perasaan Ibrahim ketika meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah gersang; tak ada tetumbuhan, tak ada air barang setetes. Yang jelas, Ibrahim pergi tak lain karena Allah menyuruhnya demikian. Atas perintah-Nya, Ibrahim tak punya pilihan selain menjalaninya dengan segenap jiwa yang ridha.

Ini murni perintah Ilahi yang hikmahnya masih pun tersembunyi. Barangkali Sarah juga heran melebihi Hajar kala Ibrahim meminta Hajar membawa putranya, Ismail, sedang Ibrahim pergi “begitu saja”. Mungkin awalnya Hajar bertanya-tanya, pun demikiah Sarah. Tapi Ibrahim hanya diam. Maka dua perempuan itu pun diam. Pasti ada hikmah di balik ini, tapi Ibrahim sendiri tak berusaha mencarinya. Tuhan pun tidak menunjukkannya. Seperti dua perempuan itu, Ibrahim pun tak tahu apa hikmah dari ini semua. Mereka berdua akhirnya hanya diam penuh adab seperti layaknya istri-istri para nabi.

Tabir mulai tersingkap bagi Hajar ketika ia bersama bayi mungil Ismail berada di lembah kosong nan terasing dan gersang. Ini dia Ismail bayi yang masih menyusu telah memulai perjalanannya menuju-Nya. Itu sungguh ujian bagi Ismail sedang ia masih pun bayi, ujian bagi Sang Ayah yang sudah tua tapi masih dikaruniai putra. Tapi engkau wahai Ibrahim tahu, bahwa tidak boleh ada dalam jiwa seorang insan sesuatu; bahwa sesiapa mencintai Allah maka ia akan serahkan segenap dirinya hanya untuk-Nya, akan berikan apa yang dicintainya pada-Nya tanpa diminta. Itu adalah aturan cinta sejati. Segala pertanyaan dan keberatan lenyap di samudera cinta. Yang terpancang hanya panji-panji ketaatan di semesta cinta.

Kita tak yakin Ibrahim tahu kenapa ia meninggalkan Ismail dan ibunya di tempat tandus itu. Ibrahim hanya taat dan patuh. Di sinilah tampak berat dan sulitnya ujian. Tapi di sini pula tersingkap cinta dari palung terdalamnya, dari kemurnian teragungnya. Allah menguji kekasih-Nya, Ibrahim, dengan sesuatu yang paling dicintai umumnya para ayah. Namun demikian, kecintaan Allah pada Ibrahim dan kecintaan Ibrahim pada-Nya, bukan berarti Ibrahim tidak memiliki sama sekali perasaan-perasaan insani. Kekuatan cinta Ibrahim pada Allah justru bermakna bahwa ia adalah lautan dari perasaan-perasaan insani, lautan luas tak bertepi.

Rasa cinta Ibrahim pada Ismail amatlah besar, murni, dan tulus melebihi kasih ayah mana pun pada anaknya. Kendati begitu, Ibrahim meninggalkan Ismail di sebuah tempat yang berbahaya, tak lain karena Tuhan menyuruhnya begitu. Berkecamuk rasa dalam diri Ibrahim, tapi ia berhasil melewati ujian itu; ia pilih Tuhan atas anaknya. Ketika Ibrahim mencintai anaknya melebihi yang seharusnya, Tuhan memintanya untuk menyembelihnya; Dia tak ingin ada sesuatu di hati para nabi-Nya yang membuat-Nya “cemburu”. Orang yang mencintai Allah harus mencintai-Nya secara hakiki. Pecinta hakiki adalah orang yang memenuhi hatinya dengan cinta hanya pada Sang Khalik semata.

Ismail mewarisi kesabaran Sang Ayah. Dulu Ibrahim pernah berdoa, “Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shalih” (QS 37: 100). Tuhan berfirman, “Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail)” (QS 37: 101). Kesabaran, kesalehan dan ketakwaan Ismail sama persis dengan Sang Ayah. Demikian, mereka para pemilik adab kenabian. Ismail telah mendapat ujian bahkan ketika ia masih bayi. Ujian itu berakhir ketika memancar dari bawah kakinya Zamzam sehingga Sang Ibu dapat minum dengan puas dan menyusui sang bayi. Ismail mendapat ujian keduanya saat sudah menjadi pemuda.

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!'” (QS 37: 102). Gerangan apa jawaban Sang Anak? Ia tidak bertanya seperti apa detilnya mimpi Sang Ayah. Ia tidak menyelidik apakah itu benar mimpi atau cuma bunga tidur. Ia tidak menyoal Sang Ayah tentang mimpinya. Semua yang dikatakannya hanyalah, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) padamu!” (QS 37: 102). Jangan kuatirkan aku, tidak usah sedih atau pun resah! “Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar” (QS 37: 102).

Seperti itulah Sang Anak yang saleh mengarahkan Sang Ayah yang juga saleh pada kesabaran. “Yang punya urusan”, yakni yang akan disembelih sebagaimana titah Tuhan, adalah pribadi yang sabar. Sang Ayah tak kalah sabar. Seakan mereka berlomba siapa yang paling sabar. Perlombaan dengan Allah sebagai tujuan. Firman-Nya dalam surah Maryam, “Dan ceritakanlah (hai Muhammad pada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridhai di sisi Tuhannya” (QS 19: 54-55).