Pada awalnya, peristiwa Isra’-Mi’raj mungkin masalah iman an sich. Seorang Nabi mengabarkan pada kaumnya bahwa tadi malam ia melanglang perjalanan amat-sangat jauh secara horisontal dan vertikal. Horisontal dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha, lalu secara vertikal naik dari al-Aqsha ke ujung langit tertinggi; Sidratul Muntaha (Pohon Bidara di Batas Terjauh).

Mereka yang sejak awal mengimani kenabian Muhammad langsung percaya tanpa bertanya bagaimana atau seperti apa. Keimanan kepada pangkal kenabian berkonsekuensi keimanan kepada segala yang dikabarkan oleh sang pemanggul nubuwah. Ini soal iman yang pertama-tama menyentuh kalbu ketimbang menyapa akal; menyentuh bagian terdalam akidah sebelum merambah lorong-lorong logika dengan segala postulatnya.

Pada perkembangannya, seluruh perjalanan kenabian Muhammad didekati dengan beragam pendekatan dan ditinjau dari banyak sudut. Peristiwa Isra’-Mi’raj tidak dikecualikan dari perkembangan ini. Bagi para pengiman kenabian Muhammad, semua pendekatan dan sudut pandang tetang Isra’-Mi’raj tentu saja harus “tunduk” pada tuntutan iman. Mereka yang percaya peristiwa Isra’-Mi’raj dijalani Nabi secara utuh; ruh dan jasad, memiliki tugas lebih “berat” dalam meyakinkan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi. Semua pendekatan dan beragam sudut pandang harus ditempuh guna meneguhkan Isra’-Mi’raj terjadi dalam makna hakiki, bukan cuma kiasan atau sekadar perjalanan ruhani.

Telah saya singgung, pada perkembangannya Isra’-Mi’raj dikaji dari berbagai aspek. Annemarie Schimmel dalam “And Muhammad is His Messenger: The Veneration of The Prophet is Islamic Piety” membantu kita memetakan dinamika kajian dan pendekatan atas Isra’-Mi’raj. Kata Schimmel, peristiwa Isra’-Mi’raj Nabi telah mengilhami literatur yang bahkan lebih komprehensif dibandingkan kisah tentang berbagai keajaiban yang menyertai kelahirannya. Dari sudut pandang teolog maupun sufi, Mi’raj Nabi ke langit jauh lebih penting dalam Heilsgeschichte (Kisah Kudus) Ilahi dibanding maulid.

Bagi kaum orientalis dan sejarawan agama, perjalanan Nabi ke langit merupakan aspek paling menarik dari kehidupan beliau. Bagi mereka, Mi’raj Nabi tampak sebagai Berufungserlebnis atau penahbisan yang sejajar dengan pengalaman orang-orang Shaman Siberia yang mencapai pohon-dunia dalam penerbangan ekstatik mereka. Arda Viraf Nâmak Persia Tengah dan berbagai kisah dari India juga dikemukakan sebagai purwarupa atau paling tidak fenomena religius yang mirip. Visi apokaliptik Yahudi dan Kristen, tak perlu disebutkan lagi, tampil sebagai paralel-paralel yang sangat menarik.

Perjalanan Nabi ke langit juga merupakan topik polemik para teolog Islam. Seperti mudah diduga, mazhab Mu’tazilah menganggap seluruh peristiwa itu sebagai suatu penglihatan batin dan hanya mengakui kemungkinan perjalanan itu sebagai bersifat spiritual. Pada perjalanannya, kaum modernis sejalan pikiran dengan mazhab Mu’tazilah; perjalanah Nabi ke langit itu sebagai suatu penglihatan batin.

Kaum sufi dalam tradisi Ibnu ‘Arabi sering mengulang-ulang gagasan bahwa tidak akan ada mi’raj sejati dalam artian spasial (ruang), karena Allah Mahahadir: “Bagaimana bisa hamba-Ku bepergian menuju Aku? Aku selalu bersamanya.” Tafsir yang benar-benar mistis atas mi’raj diungkapkan dengan sangat tajam dalam sebuah kuatrain yang digubah oleh seorang sufi Persia yang banyak difitnah, Sarmad, yang dieksekusi di Delhi pada 1661 karena dituduh berbuat bid’ah: “Kata Mullah, Ahmad pergi ke langit. Kata Sarmad, langit turun ke dalam Ahmad!”

Kisah Mi’raj juga tidak luput dari perhatian para penyair. Maulana Rumi misalnya, secara khusus merumuskan rahasia shalat (sebagai “oleh-oleh” terpenting Mi’raj) dalam sebuah jawaban masyhur untuk sebuah pertanyaan yang diajukan salah-satu muridnya: “(Ritual) shalat tubuh bersifat terbatas, tetapi shalatnya ruh tak terbatas. Shalat ruh adalah tenggelam dan tak sadarnya ruh hingga segenap bentuk sirna. Pada saat itu, tak ada ruang bahkan bagi Jibril, sang ruh murni itu.”

Dalam “Matsnawi”-nya, Rumi menunjuk Jibril sebagai lambang akal yang bisa membawa orang ke pintu Sang Kekasih, tetapi tidak diizinkan untuk mengalami kemanunggalan cinta. Akal harus berhenti di ambang cinta, karena, seperti Jibril, ia harus takut jangan sampai cahaya Ilahi yang terang-benderang itu membakar sayap-sayapnya.

Saya bukan teolog, sufi, atau pun penyair. Seraya berterima kasih pada mereka atas wawasan dan ulasannya tentang Isra’-Mi’raj, saya lebih memilih menyorot peristiwa yang sedang kita peringati pada 27 Rajab ini dengan sorotan historis dalam bentang sejarah dakwah Nabi. Isra’-Mi’raj terjadi tahun kesepuluh kenabian. Jarang disebutkan, setidaknya oleh para penceramah, bahwa peristiwa ini terjadi setelah berbagai kedukaan menerpa Nabi: Kematian sang istri tercinta, Khadijah, sebaik-baik pembela, lalu kematian paman terkasih, Abu Thalib, sebaik-baik tameng, penghinaan dan pelecehan kaumnya yang memaksanya pergi ke Thaif, lalu kepulangannya dari Thaif yang ternyata penduduknya tidak lebih baik dari penduduk Mekkah.

Secara kronologis kejadian, Isra’-Mi’raj terjadi setelah Nabi menawarkan dakwah ke penduduk Thaif. Mereka bukan cuma menolak, tapi bahkan melukai Nabi. Kesedihan demi kesedihan menimpa pribadi agung itu. Duka lara menggunung di pundak manusia mulia itu.

Pejuang-penegak kebenaran itu letih dan merasa tidak berdaya jua. Ia berlindung di kebun Utbah dengan kaki berlumuran darah:

“Ya Allah, kepada-Mu aku adukan kelemahan diriku, ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di mata manusia. Wahai yang Mahakasih dan Mahasayang, wahai Tuhan orang-orang yang tertindas. Kepada tangan siapa akan Kau serahkan daku? Kepada orang jauh yang memperlakukanku dengan buruk? Atau kepada musuh yang Kau berikan kepadanya kekuasaan untuk melawanku? Semuanya aku tidak peduli, asalkan Engkau tidak murka kepadaku. Anugerah-Mu bagiku lebih agung dan lebih luas. aku berlindung pada cahaya ridha-Mu, yang menyinari kegelapan. Janganlah murka-Mu turun kepadaku. Janganlah marah-Mu menimpaku. Kecamlah daku sampai Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan, kecuali melalui-Mu.”

Dalam kerangka historis dan kondisi psikologis Nabi seperti itu, Allah mengundang beliau ke satu perjalanan paling mengagumkan dalam sejarah manusia. Sebuah perjalanan dengan isyarat bahwa Allah senantiasa memperhatikan Rasul-Nya dan bahwa risalah-Nya menembus ufuk terjauh. Allah mengundang Nabi menghadiri upacara penganugerahan kehormatan umum yang disaksikan manusia-manusia pilihan di Masjid Aqsha, dan penganugerahan kehormatan khusus di mana tak ada di sana selain pecinta dan Kekasih-nya. Kala itu, hati Nabi bertabur cinta, jiwanya penuh dengan keridhaan, kesabaran, keteguhan dan keyakinan bahwa risalah yang diembannya akan merengkuh kemenangan sejalan dengah sunnah kehidupan bahwa orang-orang sabarlah pada akhirnya yang akan menjadi pemenang.

Sumbergempol, 27 Rajab 1442 H