Islamsantun.org. Bulan September mendatang, pemerintah AS akan memulangkan pasukannya dari Afganistan setelah 20 tahun berada di sana, dengan dalih memburu para teroris dan kaum radikal. Pengiriman pasukan AS ke Afghanistan dimulai setelah peristiwa pengeboman menara kembar Word Trade Center (WTC) pada tanggal 11 September. Menurut pemerintah AS, dalang pengeboman WTC adalah kelompok al-Qaeda pimpinan Osama Bin Laden yang saat itu berada dalam perlindungan Taliban. Demi mengejar kelompok teroris yang dilindungi Taliban inilah AS mengirim pasukan ke Afghanistan pada tahun 2001.

Pengiriman pasukan AS ke Afghanistan ini dilaksanakan berdasarkan resolusi “Otorisasi Penggunaan Kekuatan Militer” yang disetujui oleh Parlemen AS seminggu pasca peristiwa pengeboman WTC. Hampir seluruh anggota parlemen, baik dari kubu partai Demokrat maupun Republik setuju terhadap resolusi tersebut. Hanya ada satu anggota parlemen dari partai Republik, Barbara Lee, yang tidak setuju terhadap resolusi ini.

Menurut catatan BBC, selama 20 tahun pasukan AS berada di Afghanistan telah mengorbankan 2300 nyawa tentara AS, 20 ribuan terluka, 64 ribuan tentara dan politisi Afghanistan terbunuh dan 111 ribuan rakyat Afghanistan tewas/terluka. Dari segi meteriil, total biaya komulatif yang dikeluarkan oleh pemerintah AS selama 20 tahun sebesar US$ 822 milyar  atau rata-rata US$ 41 milyar per tahun. Jika dihitung dengan kerusakan bangunan dan sarana prasarana fisik yang rusak akibat perang maka korban material akan semakin banyak.

Penarikan pasukan AS dari Afghanistan, dianggap bisa dikatakan sebagai kekalahan AS oleh kelompok Taliban. Selama 20 tahun pasukan AS  berada di Afghanaistan ternyata belum bisa membuat negara tersebut lepas dari cengkeraman Taliban. Menjelang ditariknya pasukan AS dari Afganistan, Taliban justru memplokamirkan kemenangannya atas Amerika. Karena operasi yang tidak tuntas ini, kepergian tentara AS dari Afghanistan seperti  meninggalkan bara dalam sekam bagi pemerintah Afghanistan.

Meskipun Joe Biden berjanji akan terus mengupayakan perjanjian damai dengan kelompok Taliban di negeri tersebut, namun hal ini akan sulit dilakukan, karena Taliban sudah tidak percaya lagi pada Amerika. Taliban yang merasa menang akan semakin sulit diajak berunding. Hal ini terlihat pada sikap mereka yang akan segera melakaukan pembersihan terhadap kelompok yang dianggap mendukung AS. Sebagaimana dinyatakan Aamir Shahib Ajmal, Kepala Dinas Intelijen Taliban di distrik Balkh yang dikutip CNN: “Kami akan menangkap dan menahan mereka. Kemuadian kami akan menyerahkan mereka kep pengadilam kami dan pengadilanlah yang akan memutuskan apa yang terjadi selanjutnya”.

Untuk merayakan kemenangan,  milisi Taliban telah unjuk kekuatan di beberapa wilayah yang dikuasai dengan menggelar pasukan di jalan-jalan. Di antara mereka ada yang membawa pelontar granat, peluncur roket dan beberapa di antaranya menenteng Senapan Serbu M4 hasil rampasan dari tentara AS. Dan saat ini Taliban telah berhasil menguasai dan mengambil alih kekuasaan di Afghanistan, setelah presiden Asraf Ghani meninggalkan negerinya. Menjelang penarikan pasukan AS dari Afghanistan, suasana psikologis kelompok Taliban sedang berada di atas angin. Semenara itu, masyarakat Afghanistan yang merasa khawatir atas berkuasanya Taliban berbondong-bondong lari meninggalkan negerinya hingga memenuhi bandara dan kawasan perbatasan.

Penarikan pasukan AS dari Afghanistan ini memiliki dua makna penting. Pertama,  menjadi momentum kebangkitan kaum radikal internasional. Penarikan pasukan AS saat Taliban sedang dalam posisi kuat, menjadi pemantik untuk menyalakan bara api kelompok jihadis yang tersebar di berbagai negara dan saat ini sedang tiarap menunggu momentum yang tepat untuk bergerak. Mereka seperti mendapat suntikan darah segar atas keberhasilan perjuangan para mujahid Taliban dalam menghadapi tentara AS. Kondisi inilah yang perlu diwaspadai oleh negara-negara lain termasuk Indonesia. Sel-sel kaum jihadis radikal di tanah air yang selama ini bergerak secara diam-diam di bawah permukaan akan semakin intensif bergerak karena terinspirasi oleh klaim kemenangan atas pasukan AS yang didengungkan oleh kelompok Taliban di Afghanistan.

Kedua, kegagalan pasukan AS menaklukkan Taliban menunjukkan bahwa kekuatan senjata ternyata bukan menjadi sarana efektif untuk melawan ideologi radikal dan terorisme. Selama 20 tahun tentara AS beroperasi di Afghanistan untuk melawan Taliban sebagai representasi  radikalisme dan terorisme, ternyata tidak membuat Taliban dan teorisme melemah, apalagi hancur. Sebaliknya, kekuatan senjata dan kekerasan justru membuat kaum teroris-radikal menjadi semakin mengeras dan kuat. Para teroris dan kaum radikal adalah kelompok yang terbiasa dengan cara-cara kekerasan untuk memperjuangkan cita-citanya. Oleh karenanya, menggunakan cara kekerasan untuk melawan mereka sama saja dengan nenaklukkan ikan dengan mengajaknya berenang.

Kegagalan operasi militer AS di Afghanistan merupakan pelajaran penting dalam melawan radikalisme dan terorisme melalui cara kekerasan. Sudah saatnya dipikirkan operasi kebudayaan yang dapat merajut dan melembutkan hati sebagai strategi melawan radikalisme dan terorisme. Kekerasan hanya bisa dilawan dengan cinta dan kelembutan. Jika kekerasan dilawan dengan kekerasan maka akan dapat menimbulkan kehancuran dan melahirkan kekerasan baru. Inilah yang oleh Dom Halder Camara (2000) disebut sebagai spiral kekerasan, violence beget violence (kekerasan akan berbuah kekerasan pula), demikian kata Camara. Sebaliknya jika kekerasan dilawan dengan cinta dan kelembutan melalui pendekatan kesejahteraan dan keadilan maka akan luluh.

Sikap radikal dan teror hanya bisa dilaksanakan oleh orang-orang yang berhati keras. Orang yang  berhati lembut tidak akan mampu bersikap radikal dan melakukan tindakan teror. Karena itu, untuk bisa menghilangkan sikap radikal dan teror perlu strategi melembutkan hati seseorang. Cara efektif untuk melembutkan hati adalah melalui sentuhan budaya dengan cara dialog dari hati-ke hati. Cara-cara ini pernah dilakukan oleh PBNU di Afghanistan. Melalui diplomasi budaya dan pendekatan dari hati ke hati, PBNU berhasil merintis perdamaian di Afghanistan.

Jalan damai melalui jalur kultural dimulai dengan memfasilitasi dialog damai antara beberapa pihak yang terlibat konflik. Dimulai dengan dialog dari hati-ke hati dengan para pihak yang berkonflik, akhirya PBNU ini berhasil mengajak mereka, termasuk para aktivis Taliban datang ke Indonesia untuk berunding. Pada bulan September 2018, NU yang dimotori oleh Kyai As’ad Said Ali, berhasil melaksanakan pertemuan antar pihak yang berkonflik di Afghanistan. Pertemuan dilaksanakan di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut dua tokoh Taliban, Mr. Ahmad Mutawakkil (Mantan Menlu Taliban) dan mantan Dubes Taliban di Pakistan Mr. Abdul Salam Zaef menyatakan Taliban percaya Indonesia sebagai juru damai bersama dengan Arab Saudi dan Turki.

Untuk memperkuat jalur kebudayaan ini, NU Indonesia juga merintis berdirinya NU Afghanistan (NUA). Kehadiran NUA ini disambut baik oleh Taliban, bahkan salah satu pemimpin Taliban Maulana Qolamudin (mantan Menteri Agama Taliban) menjadi pengurus NUA. Organisasi NUA ini berbeda dengan PCI NU.  PCI NU adalah organ NU Indonesia yang ada di luar rnegeri, yang semua pengurusnya adalah orang Indonesia yang ada di suatu negara. Sedangkan NU Afghanistan adalah lembaga NU yang dikelola oleh warga Afghanistan, seluruh pengurusnya berkebangsaan Afghanistan dan tidak ada hubungan struktural organisatoris dengan NU Indonesia. Hubungan antara NU Indonesia dengan NU Afghanistan hanya pada aspek ideologis dan kultural.

Para pemimpin Taliban ini sangat terkesan dengan cara-cara beragama NU. Inilah yang membuat mereka dapat menerima keberadaan NUA. Sebagaimana dinyatakan Kyai As’ad Aly, hubungan antara NUA dengan Taliban, khususnya faksi Akhunjada cukup baik. Saat ini NUA yang dipimpin Dr. Badul Ghani Kakar telah ada di hampir seleuruh propinsi di Afghanistan. Jika dikelola dengan baik, NUA bisa menjadi kekuatan penyangga dan juru damai di Afghanistan. Ini semua mebuktikan kekuatan budaya dan pendekatan hati dalam menyelesaikan konflik. Simpati para tokoh Afghanistan terhadap cara beragama NU yang mengedepankan aspek kultural ini pernah disampaikan kepada penulis secara langsung saat penulis menampingi Dr. Kakar dan keliling bertemu dengan tokoh NU di Indonesia.

Kita memang perlu mewaspai konflik yang akan terjadi pasca penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Bukan tidak mungkin resonansi konflik tersebut akan sampai dan terasakan di Indonesia, karena adanya kelompok radikal dan intoleran yang setiap saat dapat melakukan teror di negeri ini. Namun kewaspadaan tersebut jangan sampai membuat bangsa ini  terjebak dalam tindakan kekerasan, karena sudah terbukti secara nyata selama 20 tahun operasi militer yang sarat dengan tindak kekerasan ternyata tidak dapat menghancurkan terorisme dan radikalisme.

Beberapa fakta di atas menunjukkan, strategi kebudayaan yang lebih mengedepankan pendekatan kemanusiaan, kesejahteraan, pendidikan dan dialog dari hati ke hati rasanya lebih tepat untuk melawan terorisme dan radikalisme, karena pendekatan ini lebih terasakan manfaatnya sehingga lebih mudah menyentuh dan melembutkan hati. Menghadapi situasi Afghanistan yang kian memanas, rasanya perlu dilakukan upaya memperkuat jalan kebudayan untuk mencitakan perdamaian di Afghanistan.