“Hidup layak dihayati dalam takaran pas. Seperti ukuran baju kita. Jika ukuran lengan baju kependekan, cara menjadikannya proper pastilah bukan dengan memotong lengan kita sendiri. Begitu juga sebaliknya. Ukran lengan baju memang harus dipermak agar sesuai dengan ukuran lengan kita. Itulah aforisme bahwa manusia dalam dirinya merupakan ukuran. Jabatan dan kekayaan berlimpah, tidak semestinya menjadikan seseorang bersikap melampaui keberadaannya sebagai manusia yang sederajat dengan manusia lain. Orang yang tenggelam dalam jabatan atau kekayaan, ibarat memakai ukuran baju yang tidak proper dengan ukuran badannya. Begitu juga sebaliknya. Seseorang yang tidak dikaruniai jabatan dan kekayaan apa pun, tidak lantas menjadikan dirinya kehilangan harga diri dan tidak setara. Jabatan, kekayaan, kemiskinan, kenestapaan tidak akan mengubah jati diri seseorang yang memahami kadar dirinya sebagai manusia. Itulah istiqamah. Wallahu Al’am” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Permata tetap permata meski terkubur lumpur. Batu tetaplah batu meski dibalut dengan sutera termahal. Emas tetap emas meski tercecer di pinggir kali. Kerikil tetap kerikil meski menempel di alas kaki raja. Kayu jati tetap kayu jati meski berada di tengah hutan belantara. Papan rapuh tetap papan rapuh meski berada di emper istana. Pribadi mulia tetap mulia meski tak berlimpah harta.

Pribadi rendah tetap rendah meski sekujur tubuh bertabur berlian. Hati yang putih tetap putih meski tak sedikit pun jabatan direngkuhnya. Hati yang kelam tetap kelam meski kursi jabatan berjejer-jejer di hadapannya. Orang berilmu tetap berilmu meski kemiskinan tak jemu mendera hidupnya. Orang pandir tetap pandir meski kekayaan tak pernah luput mengelilinginya. Orang bijak tetap bijak meski tak banyak telinga sudi mendengar kata-kata hikmahnya. Orang licik tetap licik meski semua mata tertuju penuh kagum padanya.

Dari kata-kata saya di atas, jati diri atau kesejatian diri saya simbolkan pada kata-kata ini: permata, emas, kayu jati, pribadi mulia, hati putih, orang berilmu, dan orang bijak. Sungguh tak sulit bagi kita mencari sosok manusia sempurna dengan jati diri paripurna. Dia adalah orang yang dipuji Tuhan antara lain dalam QS Al-Azhab: 21 dan al-Qalam: 4. Ya, Kanjeng Nabi Saw. Apakah kesempurnaan diri dan keparipurnaan pribadi Nabi itu karena jabatan dan kekayaan? Bukan. Beliau sendiri lebih suka disebut sebagai Nabi-nya kaum mustadh’afīn yang tidak segan-segan mengendarai keledai, menjahit baju janda tua yang miskin, memeluk orang dusun, memperbaiki sandal anak yatim.

Dialah Nabi kelompok tertindas yang menjawab pertanyaan orang yang ingin mengetahui di mana ia dapat ditemui, “Carilah aku di tengah-tengah kaum dhu’afa. Bukanlah kalian ditolong dan diberi rizki karena bantuan orang-orang dhu’afa kalian?” Inilah Abu al-Fuqara yang tidur di atas tikar kasar, sujud di atas tanah, tinggal di gubuk kecil yang hanya diisi ghariba air, dan berdoa, “Ya Allah, himpunkan aku pada hari kiamat beserta orang-orang miskin.” Dialah pemimpin orang kecil yang wajahnya muram melihat penderitaan mereka, dan bersinar-sinar melihat kebahagiaan mereka.

Suatu hari lewat di depan beliau seseorang. “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” tanyanya. “Ini laki-laki terhornat. Demi Allah, ia orang mulia. Kalau melamar, akan dinikahkan. Kalau minta prioritas, akan didahulukan.” Nabi diam. Lewatlah orang yang lain. “Bagaimana pula pendapat kamu tentang dia?” Tanya Rasulullah Saw. “Ya Rasulullah, orang ini sebagian dari fukara Muslimin. Kalau melamar, tidak dinikahkan; kalau meminta keistimewaan tidak diberikan; kalau bicara, tidak didengarkan.” Nabi berkata, “Ia lebih baik daripada sepenuh bumi orang yang tadi.”

Dialah Nabi akhir zaman yang menghembuskan harapan kepada kaum tertindas, mengangkat derajat mereka di atas para bangsawan dan raja-raja, membangkitkan semangat hidup mereka, menanamkan harga diri mereka, sehingga kelak…mereka memacu kudanya ke sebelah utara dan meruntuhkan tahta Kisra dan Kaisar.

Sejarah menyaksikan langkah-langkah tegap salah seorang di antara mereka ketika memasuki istana Panglima Rustam dan menambatkan keledainya pada kursi yang gemerlapan seraya berkata, “Kami kaum pilihan Allah, yang akan mengeluarkan manusia dari pengabdian kepada manusia ke pengabdian kepada Allah saja, dari kezaliman berbagai agama ke keadilan Islam.”

Sejarawan tertegun ketika kaum yang selama berabad-abad dianggap bodoh (sufaha), bergelimang debu kotor, dan para pekerja kasar, dapat tampil membuka cakrawala peradaban baru selama ratusan tahun. Seorang budak yang pernah dijual seperti hewan—setelah menjadi pengikut Nabi Mustadh’afīn—berhasil mendirikan sebuah dinasti. Sejarah menyebut dinastinya sebagai dinasti budak—Mamluk.

Di berbagai negeri, raja-raja dianggap keturunan dewa, dan Tuhan dinyatakan di dunia lewat tangan-tangan mereka. Maka tangan-tangan kurus dengan penuh kekhidmatan mengangkat batu-batu buat istana atau kuburan para pangeran. Dengan rasa beragama yang dalam, mereka antarkan hasil keringat mereka ke ambang keraton, dan seraya mengunjuk sembah, mereka bergumam, “Nyawa dan harta kami di bawah duli tuanku, duhai putra para dewa.”

Di saat itu, ketika Tuhan dianggap memihak para raja, Muhammad Saw. berdoa di kebun ‘Utbah bin Rabi’ah dengan kaki yang berlumuran darah, “Ya Allah, kepada Engkau kuadukan kelemahan tenagaku, kekurangan diriku, dan kerendahanku di hadapan manusia. Ya Allah, yang paling kasih dari segala yang mengasihi, Engkaulah Tuhan yang memelihara kaum tertindas, Engkaulah Rabb al-Mustadh’afīn.” Allah kini tidak dipanggil sebagai “ayah” para bangsawan; Allah kini menjadi Rabb al-Mustadh’afīn.