OPINI – Di tengah udara sejuk Padang Panjang, sebuah kota kecil yang kerap dijuluki Serambi Makkah, tumbuh sebuah semangat besar yang kelak mengubah wajah pendidikan perempuan di Indonesia. Kota ini sejak lama dikenal sebagai pusat pendidikan Islam, tempat lahirnya berbagai pembaruan pemikiran keislaman. Di sinilah nama Rahmah El Yunusiyyah menemukan panggung sejarahnya.

Jika kita menelusuri jejak pendidikan Islam modern di Indonesia, kita akan menemukan dua lembaga penting yang berakar dari kota ini: Perguruan Thawalib dan Perguruan Diniyyah Puteri. Yang terakhir ini bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan simbol keberanian seorang perempuan dalam menembus batas-batas zamannya. Rahmah El Yunusiyyah lahir pada awal abad ke-20, masa ketika akses pendidikan bagi perempuan masih sangat terbatas. Namun, sejak muda ia telah menunjukkan kegelisahan intelektual: mengapa perempuan tidak mendapatkan kesempatan belajar yang sama? Pertanyaan sederhana ini menjadi bahan bakar bagi perjuangannya.

Terinspirasi oleh kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy (pendiri Diniyyah School), serta gurunya, Abdul Karim Amrullah (pendiri Perguruan Thawalib), ia mulai menempuh jalan yang tidak biasa. Ia tidak hanya belajar ilmu agama—yang saat itu jarang dilakukan perempuan di Minangkabau—tetapi juga membekali diri dengan berbagai keterampilan praktis seperti menjahit dan menenun. Baginya, pendidikan bukan sekadar pengetahuan, tetapi juga kemandirian.

Puncak dari kegelisahan sekaligus visinya terwujud pada 1 November 1923, ketika ia mendirikan sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia. Langkah ini bukan tanpa tantangan. Di tengah sistem sosial yang masih membatasi perempuan, Rahmah justru membuka pintu selebar-lebarnya bagi kaum perempuan untuk belajar. Yang menarik, perjuangannya tidak berhenti pada perempuan muda. Ia juga mendirikan apa yang dikenal sebagai “Sekolah Menyesal”—sebuah kursus singkat bagi perempuan dewasa yang belum bisa membaca. Nama yang unik ini menyimpan makna mendalam: penyesalan karena tidak sempat belajar, yang kemudian diubah menjadi kesempatan kedua.

Upaya Rahmah tentu tidak berjalan mulus. Pemerintah kolonial Belanda bahkan sempat mengeluarkan kebijakan untuk membatasi sekolah-sekolah pribumi melalui Ordonansi Sekolah Liar. Namun, alih-alih mundur, Rahmah justru melawan dengan mengorganisir penolakan. Baginya, pendidikan adalah hak, bukan privilese.

Seiring waktu, kiprahnya semakin meluas. Ia mendirikan berbagai lembaga pendidikan lanjutan, bahkan turut berkontribusi dalam pendirian Sekolah Tinggi Hukum “Pancasila” yang pada gilirannya menjadi embrio dari berdirinya Universitas Andalas. Dedikasinya menunjukkan bahwa perubahan besar tidak lahir dari satu langkah, melainkan dari ketekunan yang terus-menerus.

Namun, Rahmah bukan hanya seorang pendidik. Ia juga terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang hingga perang kemerdekaan, ia aktif membantu perjuangan, bahkan ikut bergerilya. Perannya menunjukkan bahwa pendidikan dan perjuangan politik sering kali berjalan beriringan.

Pengaruh Rahmah El Yunusiyyah bahkan melampaui batas negara. Gagasannya tentang pendidikan perempuan menginspirasi Universitas Al-Azhar untuk membuka fakultas khusus perempuan, Kulliyatul Banat. Sebuah pengakuan langka juga ia terima dari sana, berupa gelar kehormatan “Syaikhah”—gelar yang belum pernah diberikan sebelumnya kepada seorang perempuan.

Di dalam negeri, pengakuan atas jasanya datang, meski tidak secepat perjuangannya. Ia dianugerahi tanda kehormatan negara Mahaputra Adiprana, dan pada akhirnya ia pun diakui sebagai pahlawan nasional sejak tahun 2025. Namun, lebih dari sekadar gelar, warisan terbesarnya adalah perubahan cara pandang terhadap pendidikan perempuan.

Rahmah wafat pada 1969, namun gagasannya tetap hidup. Salah satu pesannya yang sering dikenang menegaskan bahwa dalam Islam, perempuan telah memiliki kedudukan yang setara—tinggal bagaimana manusia memahaminya dan memperjuangkannya. Kisah Rahmah El Yunusiyyah mengingatkan kita bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari kegelisahan yang sederhana. Dari sebuah kota kecil di Sumatra Barat, lahir sebuah gerakan yang menggema hingga ke dunia Islam internasional. Dan di balik gerakan itu, berdiri seorang perempuan yang berani bertanya—dan lebih berani lagi untuk bertindak.*

Komentar