Islamsantun.org. Jika ada orang yang bisa memicu saya bisa menulis seperti ini, maka itu adalah Kang Ahmad Iftah Sidik. Guru ngaji saya ketika di pesanten.

Beliau orangnya agak unik. Suka ngelucu, di saat banyak pengurus-pengurus pondok suka pasang wajah sangar dan galak. Suka bergaul dengan para santri, ketika—pada umumnya—pengurus akan jaga jarak dengan santrinya.

Itulah yang membuat kesan pertemuan dengan Kang Iftah bagi saya sangat membekas sekali. Bahkan ketika usia saya masih baru saja mentas lulus SD.

Selama di pesantren, saya sebagai santri, dan beliau jadi ustaz, ada semacam kecocokan antara kami berdua.

Sejujurnya saya tak menyerap banyak dari kitab-kitab yang selalu diajarkan beliau (terutama kalau bulan Ramadan), hanya saja satu hal yang diajarkan beliau ke saya begitu krusial, begitu penting untuk hidup saya bertahun-tahun kemudian, yakni: nulis.

Kang Iftah adalah inspirasi saya ketika di pesantren untuk belajar nulis.

Di tengah dinding-dinding pagar pesantren, saya tak punya banyak referensi belajar nulis. Yang tersisa adalah belajar dari senior-senior atau guru ngaji. Dan saya benar-benar beruntung, Kang Iftah ternyata seorang penulis yang brilian.

Apalagi ketika masih di pesantren, saya pernah tahu Kang Iftah juga menjadi seorang wartawan profesional, di salah satu majalah tingkat nasional. Itu jelas capaian yang bikin saya melongo kagum saat itu.

Profesinya sebagai guru ngaji di pesantren, sekaligus menjadi wartawan cum penulis, benar-benar membuat saya takjub.

Saya pikir keduanya adalah kutub yang berseberangan saat saya masih anak-anak kala itu. Dan Kang Iftah membuka mata saya, bahwa siapapun bisa jadi penulis, bahkan ketika kamu “hanya” seorang guru ngaji atau saya yang hanya sekadar santri.

Bertahun-tahun kemudian, kami berpisah dan tak bertemu lama sekali.

Saya lulus dari pondok pesantren lantas meneruskan kuliah di jurusan Sastra Indonesia, jurusan yang sangat-Kang-Iftah-sekali dan Kang Iftah (setahu saya) masih kerja jadi wartawan lalu sempat aktif di lembaga semacam LSM.

Sekitar 7-8 tahun setelah lulus, kami sempat dipertemukan kembali di Pekalongan. Dan beliau saat itu sudah menjadi salah satu murid kesayangan Habib Lutfi.

Keadaan sudah berubah. Kang Iftah jadi lebih khusyuk, lebih ‘alim, dan tidak lagi aktif menulis seperti ketika saya pertama kali mengenalnya. Meski begitu, perubahan itu tetap menarik di mata saya.

Segala macam kemegahannya ketika menjadi penulis, melebur menjadi seorang murid yang begitu tawadhu dengan gurunya. Beliau hibahkan dirinya untuk syiar agama. Meninggalkan segala macam kemewahan pada atribusinya.

Sejak saat itu, kami lumayan dekat kembali. Saya tak menyangka, seseorang yang saya anggap legenda dunia penulisan di pesantren ketika saya masih jadi santri itu, mau bergaul dengan saya.

Ya iya lah, mana bisa kamu tidak merasa tersanjung bisa ngobrol dan akrab dengan pahlawan masa kecilmu? Dan Kang Iftah, adalah salah satu pahlawan masa kecil itu.

Dia yang menyelamatkan saya bisa tetap bertahan di pondok pesantren dengan aktivitas yang sangat-sangat membebaskan, yakni menulis.

Artinya, jika bagi Kang Iftah pertemuan kami ini mungkin sekadar reuni, bagi saya itu sebuah pencapaian tersendiri.

Setelah pertemuan di Pekalongan, saya sempat bertemu pula di Jogja sekitar tahun 2014-2015. Dan di titik itu, saya semakin lumayan dekat dengan Kang Iftah secara personal—setidaknya menurut kacamata saya.

Kang Iftah juga makin sering cerita soal keluarga, bagaimana perjalanan hidupnya, dan bagaimana dia rela memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan di LSM untuk kemudian “nyantri total” ke Habib Lutfi.

Juga beberapa ceritanya yang menarik lainnya, seperti soal keputusannya untuk merawat ibunya sampai harus meninggalkan segala macam kerjaannya.

Lantas ceritanya ketika keputusan itu sempat membuatnya dilematis, karena membuatnya sedikit kesulitan untuk menafkahi keluarganya.

Segala keputusan-keputusan yang sangat luar biasa. Yang bahkan ketika saya membayangkannya, saya tak akan sanggup melakukannya.

(Catatan saja: cerita Kang Iftah itu adalah salah satu inspirasi saya pada beberapa tahun kemudian, ketika saya lebih memilih menuruti permintaan ibu saya ketimbang meneruskan pekerjaan saya di ibukota).

Tak lama setelah itu, saya kemudian mendengar Kang Iftah “dipasrahi” untuk mengelola Pondok Pesantren Fatahillah di Bekasi. Instruksi ini konon datang langsung dari Habib Lutfi.

Saya dan beberapa teman, alias murid-muridnya Kang Iftah, merasa senang karena Kang Pondok kami yang keren itu akhirnya jadi kiai. Jadi pengasuh pondok pesantren di Bekasi.

Dari seorang guru ngaji, wartawan, penulis, aktivis LSM, kembali jadi santri, lantas tiba-tiba jadi kiai. Kiai yang benar-benar kiai: punya pondok, punya santri, dan ngajar ngaji.

Benar-benar sebuah laku hidup yang luar biasa. Apalagi ketika mengingat kembali, Kang Iftah tak memiliki darah biru untuk mewarisi sebuah pondok pesantren.

Dari atas sebuah jalan yang berliku, Tuhan ternyata menakdirkan Kang Iftah jadi kiai. Tak sekadar kiai, tapi sosok peletak dasar Pondok Pesantren Fatahillah, Bekasi.

Jika ada satu hal yang tak sesali dari kepergian beliau hari ini adalah… saya sempat menuliskan salah satu cerita Kang Iftah ketika mengasuh pondok pesantren Fatahillah Bekasi.

Kamu bisa baca itu di sini https://tirto.id/dompet-nyai-dan-satpam-yang-takut-masuk-pesantren-cq4

Sebagai murid, saya merasa berguna ketika akhirnya bisa menceritakan salah satu kisah hidup guru saya, di salah satu media nasional pula.

Sebuah capaian yang barangkali cukup menggembirakannya. Bagaimana salah satu muridnya, ternyata bisa mengejarnya… dalam soal nulis—tentunya ya.

________

Jika ada jariyah beliau yang saya yakin akan terus mengalir terus pahalanya ke beliau, selain soal doa-doa dari para santri-santrinya, juga ilmu yang sedang saya pakai untuk menafkahi keluarga saya ini. Ilmu yang juga sedang kamu baca ini.

Terima kasih, Kang Iftah. Sampean tidak tahu seberharga apa ilmu yang sampean transfer ke santrimu yang mbeling ini. Terima kasih.

Insya Allah sampean khusnul khotimah. Bekal sampean sudah banyak sekali. Saya yakin. Yakin sekali.

Titip salam kagem Rasulullah ya, Kang.

Alfatihah.