Islamsantun.org. Manusia dianugerahi dua macam mata. Yaitu, mata kepala dan mata hati. Mata kepala sanggup menyaksikan berbagai macam rupa, warna dan bentuk. Penglihatan mata kepala dibatasi oleh tabir atau jarak geografis. Tidak bisa menembus keduanya.

Mata hati juga disebut dengan mata batin. Dianugerahi potensi untuk memandang berbagai nilai dan makna yang bersemayam di balik segala sesuatu. Di hadapan mata batin, yang menjadi obyek adalah berbagai metateks yang dapat dipastikan tidak empiris.

Puncak dari metateks yang berada di balik segala sesuatu itu tentu saja adalah Allah Ta’ala. Tidak ada apa atau siapa pun yang lain. Dialah awal segala sesuatu. Dialah beking bagi segala sesuatu. Dialah tempat kembali segala sesuatu.

Mata batin yang suci dan terasah tidak saja sanggup menangkap sekian makna dari metateks yang bersemayam di balik segala sesuatu, tapi terutama menyaksikan hadiratNya ketika mata kepala tertuju terhadap apa pun di dunia ini.

Maka ketika terutama yang gamblang adalah Allah Ta’ala, dapat dipastikan bahwa segala yang metateks di balik semua yang konkret juga akan menjadi nyata. Itulah sebabnya, Nabi Muhammad Saw mengetahui secara detail berbagai tingkatan keimanan dari masing-masing umatnya.

Maka tidak heran kalau ada seorang wali yang bisa mendengarkan dengan pasti bisik hati seseorang yang ada di dekatnya. Juga bukan merupakan hal yang mustahil jika seorang kekasih Allah Ta’ala bisa mendeteksi identitas seseorang yang baru saja dilihatnya.

Karena sesungguhnya ketajaman penglihatan mata batin itu tidak bisa ditutup-tutupi, tidak bisa dihalang-halangi, tidak dihadang oleh hijab apa pun. Ia lebih tajam dibandingkan pikiran yang paling liar sekalipun. Di hadapannya, tindakan menutup-nutupi adalah perbuatan yang muspra, adalah perbuatan yang sia-sia. Sama dengan membeli jajan dan dibungkus dengan plastik yang paling transparan.

Karena itu, di hadapan para wali, bukan hanya sikap lahiriah yang semestinya kita jaga, tapi terutama sikap batin kita. Jangan sampai hati kita berisi buruk sangka atau berbicara yang bukan-bukan. Itu sama saja dengan mencoreng wajah kita sendiri.

Syaikh Junaid al-Baghdadi sedang mengisi ceramah ketika salah satu orang di antara jama’ahnya ada yang bertanya kepada beliau tentang hadis Nabi Muhammad Saw yang menyatakan: “Hati-hatilah terhadap firasat orang beriman. Karena sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allah.”

“Kini sudah waktunya engkau masuk Islam,” kata Syaikh Junaid al-Baghdadi. Dan si penanya yang ternyata beragama Yahudi itu kaget tidak kepalang. Sebuah pertanyaan tentang kandungan sebuah hadis yang ternyata dijawab dengan kenyataan, dijawab dengan realitas dari makna hadis tersebut. Sangat mengagumkan. Wallahu a’lamu bish-shawab.