Islamsantun.org. Perasaan kehilangan itu masih ada, meski sudah dua hari berlalu. Jumat, Drs. K.H. Ahmad Hudaya, M.Ag., salah seorang dosen di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta yang juga Rais Syuriyah PCNU Karanganyar, telah tiada setelah berjuang menghadapi sakitnya. Saya biasanya memanggil beliau dengan panggilan “Kiai”.

Saya mengenal beliau ketika saya menjadi dosen di UIN Raden Mas Said Surakarta (dulu masih IAIN Surakarta) pada tahun 2016. Meski posisi saya dan beliau sejak saat itu sama-sama sebagai dosen, tetap ada banyak perbedaan antara saya dengan beliau. Beliau adalah dosen senior di kampus tersebut. Suatu sore ketika saya hendak pulang, beliau pernah bercerita tentang awal kariernya. Beliau bercerita bahwa salah satu faktor penting keberhasilannya patuh dan taat kepada orang tua.

Begitulah, meski beliau senior, beliau tidak sungkan dan tidak canggung untuk berkumpul dan bercerita dengan dosen yang baru seperti saya. Beliau tidak mengambil jarak dengan siapapun. Ketidakberjarakan itu juga terlihat dari alur pembicaraan. Beliau selalu mengikuti alur pembicaraan lawan bicara, bukan justru menciptakan alur dan mengikuti orang lain mengikutinya.

Beliau tidak sungkan bercerita dan menyesuaikan tema pembicaraan dengan tema-tema yang relevan dengan usia saya. Dalam berkomunikasi pun, beliau menggunakan bahasa yang baik. Selain menggunakan bahasa Indonesia, beliau juga menggunakan bahasa Jawa krama inggil meski berbicara dengan seseorang yang lebih muda darinya, seperti saya. Setiap kali berbicara dengan saya, beliau selalu menggunakan kata “panjenengan”, meski sebenarnya jika dilihat dari parameter bahasa Jawa beliau bisa menggunakan kata “sampeyan” untuk saya yang jauh lebih muda.

Hal lain yang berkesan bagi saya adalah meski sudah memasuki usia yang cukup sepuh, beliau masih aktif dan memiliki mobilitas yang tinggi. Selain mengajar, beliau aktif di PCNU Karanganyar dan FKUB Karanganyar, juga aktif mengisi berbagai ceramah dan pengajian di berbagai daerah.

Dalam hal ini, saya yang jauh lebih muda pun tidak bisa mengalahkannya. Meski jarak rumah beliau dengan kampus lebih jauh dibandingkan jarak rumah saya dengan kampus, beliau selalu lebih dahulu sampai dibandingkan saya. Sampai-sampai saya merasa malu karena dedikasi dan disiplin beliau yang tinggi tersebut.

Salah satu pesan beliau yang berkesan bagi saya adalah ketika saya dan beberapa teman akan mengurus CPNS pada tahun 2017. Beliau berpesan, “Diniati mencocokkan takdir.” Meski sederhana, pesan tersebut mendalam bagi saya. Mengandung makna yang sangat sarat akan ilmu kalam dan berdampak pada kepasrahan saya, sehingga saya tidak terbebani dengan upaya dalam menjalani proses seleksi CPNS tersebut.

Beliau hendak mengajarkan bahwa berbagai upaya itu adalah cara manusia untuk mencari takdir yang cocok. Tuhan sudah menyediakan takdir setiap manusia. Namun, manusia tidak mengetahui takdir yang cocok dengannya. Oleh karena itu, tugas manusia adalah berupaya setiap kali ada kesempatan. Jika gagal, maka bukan kesalahan siapapun.

Kegagalan hanya disebabkan karena manusia belum menemukan takdir yang cocok. Ada yang sekali mencoba, langsung menemukan takdir yang cocok sehingga berhasil. Namun, ada yang harus beberapa kali mencoba. Di sisi lain, ada yang harus mencoba di tempat lain. Dengan pesan tersebut, saya bisa menjalani seleksi CPNS dengan cukup santai tanpa terbebani harus lulus atau ketakutan terhadap kegagalan.

Kiai Hudaya juga identik dengan tasawuf. Dalam setiap story WA-nya, sering kali mengandung pelajaran-pelajaran bermakna tentang tasawuf, selain tentang cinta kepada Allah swt. dan Rasul-Nya. Kini, beliau telah tiada untuk menuju keabadian dengan meninggalkan berjuta teladan. Meski selama sakit saya dan teman-teman selalu berharap beliau sembuh, Allah swt. memiliki kehendak lain. Beliau berpulang untuk menemui kekasihnya dan hidup abadi dengan berbagai kenikmatan karena banyaknya amal baik yang dikerjakannya di dunia. Terima kasih, Kiai.