Sejak kepulangan Habib Rizieq Shihab ke Indonesia, berbagai media dipenuhi oleh pemberitaan dirinya. Mulai dari sambutan oleh banyak pengikutnya yang tidak mematuhi protokol kesehatan, gelaran hajatan pernikahan putrinya yang melibatkan kerumunan tanpa protokol kesehatan, label negatif Habib Rizieq Shihab terhadap salah satu artis Indonesia yang mengomentari kepulangannya, pemasangan baliho tentang dirinya, penembakan enam pengikutnya, sampai dengan ditetapkannya dirinya sebagai tersangka akibat menciptakan keramaian massa tanpa protokol kesehatan.

Medan Jihad dan Dilema

Dari berbagai peristiwa tersebut, penembakan enam anggota laskar FPI oleh kepolisian yang paling menyita perhatian. Sebagian dari masyarakat mendukung sikap kepolisian yang dianggap tegas. Namun, tak sedikit pula yang justru membela keenam anggota laskar FPI yang tewas ditembak secara khusus dan membala FPI secara umum.

Saya tidak akan membahas soal pemihakan. Saya hanya tiba-tiba teringat pesan Ali Imron, terpidana kasus Bom Bali I yang sedang menjalani masa hukumannya berupa tahanan seumur hidup. Ali Imron dulu pernah menjadi teroris. Bahkan, ia merupakan alumni Afghanistan dan memiliki peran sentral di Bom Bali I. Ia tidak seperti ketiga terpidana lainnya (Ali Ghufron, Imam Samudera, dan Amrozi) yang dihukum mati.

Ali Imron terbebas dari hukuman mati karena mengakui kesalahannya, bahkan ia menyadari bahwa pengeboman tersebut tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, sambil menjalani masa hukuman, ia menjadi kolaborator kepolisian untuk mengedukasi masyarakat agar tidak terjebak pada radikalisme dan terorisme, terlebih lagi atas nama agama.

Pesan Ali Imron yang saya ingat adalah jangan sampai ada konflik di Indonesia, terutama konflik yang disulut atas nama agama. Mengapa? Karena para teroris dan radikalis di Indonesia sedang berupaya menuju ke arah konflik. Apabila konflik sudah terjadi, maka mereka menganggap sudah tercipta medan jihad. Jika medan jihad sudah ada, maka kesempatan mereka untuk berjihad. Pada akhirnya, Indonesia akan dipenuhi oleh peperangan seperti halnya sebagian negara di Timur Tengah.

Konflik dan Akibatnya

Beberapa waktu terakhir, kita sering menemukan pesan yang mengatasnamakan agama Islam namun cenderung mengarah pada konflik. Bahkan, beberapa waktu lalu ada seseorang yang mengubah lafad azan menjadi “hayya ‘alâ al-jihâd”. Kemudian, beberapa hari lalu juga ditemukan baliho yang dibuat oleh salah satu masjid di Yogyakarta, yang menganggap keenam laskar FPI yang tewas ditembak sebagai syuhada pembela Islam dan akan ada banyak pemuda lainnya yang akan meneruskan perjuangannya menyelamatkan Indonesia.

Narasi-narasi semacam ini tidak bisa dianggap remeh. Hal ini disebabkan meskipun mengarah pada konflik, narasi semacam itu dibalut dengan agama sehingga terkesan legal dan baik. Ditambah lagi, sebagian kelompok selalu membangkitkan perasaan teralienasi dan terzalimi sebagai umat Islam. Maka, ketika kita tidak menyadari penuh ada yang salah dari narasi tersebut, kita akan dengan sangat mudah terpengaruh.

Lalu, bagaimana jika kita terpengaruh? Hal yang ditakutkan oleh Ali Imron pun bisa terjadi. Pertanyaannya, apakah kita mau jika Indonesia menyusul seperti berbagai negara di Timur Tengah yang dilanda konflik atas nama agama dan tak kunjung usai? Maka, tidak ada jalan lain bagi kita untuk menahan diri dan berpikir mendalam agar konflik bisa terhindarkan dan Indonesia menemukan kedamaian.