Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah Saw mengatakan bahwa di antara amal yang paling utama adalah memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman.

Membuat orang lain bahagia adalah amalan mulia. Sebaliknya, membuat orang lain menderita adalah amalan tercela. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membahagiakan orang lain. Di antaranya, yang sangat sederhana adalah ketika berjumpa seseorang, kita menyapanya dengan ramah disertai seulas senyuman yang tulus. Ya, sebuah senyuman tulus yang kita berikan kepada seseorang, mampu menghadirkan kesejukan dan kedamaian di hati orang tersebut.

Demikian sederhana dan mudahnya membahagiakan orang lain, tetapi yang sederhana dan mudah seperti ini pun sering tidak kita lakukan. Lebih-lebih, ketika orang yang kita jumpai adalah orang yang kita benci, atau yang sedang bermasalah dengan kita. Sesungging senyuman terasa susah sekali untuk diberikan.

Padahal, Nabi Saw pernah mengatakan, “Senyummu untuk saudaramu adalah sedekah…”, demikian bunyi sebuah hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi berkaitan dengan pentingnya sikap ramah kepada orang lain.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah Saw juga pernah mengatakan, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (HR Muslim).

Beberapa pesan Nabi di atas menunjukkan betapa pentingnya sikap ramah dan bersahabat kepada orang lain. Jelas, Islam tidak mengajarkan kebencian, apalagi dendam. Islam mengajarkan kedamaian dan persahabatan. Karena pada hakekatnya, semua manusia bersaudara. Perbedaan suku, agama, ras, bahasa dan budaya, alih-alih dipertentangkan, justru menjadi aset berharga yang makin memperkaya warna-warni kehidupan ini.

Ayat ke-13 dari Q.S. Al-Hujurat menegaskan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal…”

Sebuah ungkapan populer yang sering kita dengar menyatakan, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Untuk dapat saling mencintai dan menyayangi satu sama lain, maka proses awal yang harus dilalui adalah saling mengenal. Jika sudah saling kenal, maka kita akan lebih mudah untuk mencintai dan menyayangi satu sama lain.

Rasulullah Saw adalah sosok manusia yang penuh cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Kehadirannya selalu memberikan kesejukan untuk sekelilingnya. Tutur katanya lembut, membuat damai hati orang yang mendengar dan diajak bicara. Sikapnya ramah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Selalu menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang muda. Beliau tidak pernah membeda-bedakan seseorang berdasarkan suku, agama, ras, warna kulit dan lainnya. Semua orang diperlakukan dengan ramah dan santun. Sikap lembutnya tidak hanya kepada para sahabat yang selalu bersamanya, bahkan kepada orang yang membencinya sekalipun, beliau tetap bersikap lembut.

Demikianlah, kehadiran Rasulullah di mana pun beliau berada selalu mampu memberikan kedamaian dan kesejukan. Begitu juga seharusnya akhlak kita kepada sesama. Kehadiran kita harus selalu memberikan kesejukan dan kedamaian terhadap orang-orang di sekeliling kita. Keberadaan kita di tengah-tengah masyarakat harus dapat memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain.

* Ruang Inspirasi, Jumat, 16 Juli 2021.