“Tuhan dan manusia memiliki dua sisi ruhaniyah. Sisi kemanusiaan (nasutiyah) dan sisi ketuhanan (lahutiyah). Ketika sisi nasutiyah manusia berelasi dengan sisi lahutiyah Tuhan, atau sisi lahutiyah manusia dengan sisi nasutiyah Tuhan, maka mewujudlah ruhaniyah-lahutiyah manusia dan nasutiyah Tuhan. Itulah momentum wahdah, manunggal. Kemanunggalan yang sepenuhnya lahutiyah. Manusia dan Tuhan kembali pada situasi primordialnya. Orang Jawa menyebutnya manunggaling kawula-Gusti, Gustine-kawula, kawulane-Gusti. Wallahu A’lam” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Dalam hemat saya, term yang paling relevan untuk manunggaling kawula-Gusti adalah wahdah al-wujud. Yang disebut terakhir merupakan salah satu tema dalam ajaran tasawuf-falsafi yang tokoh-tokohnya antara lain Abu Yazid al-Bistami (w. 261/875), Husayn ibn Mansur al-Hallaj (w. 309/922), dan Muhyi al-Din ibn Arabi (w. 638/1240). Ajaran wahdah al-wujud sendiri diusung oleh Ibnu Arabi di mana sebelumnya masing-masing dari al-Bistami dan al-Hallaj juga mengajukan ajaran yang mirip dengan wahdah al-wujud. Al-Bistami mempelopori ajaran ittihad, sedang al-Hallaj mengajukan ajaran hulul.

Rasanya tidak keliru jika dikatakan bahwa ajaran wahdah al-wujud merupakan ajaran paling membetot perhatian di antara ajaran-ajaran lainnya dalam tasawuf-falsasi. Selain paling menarik perhatian juga sepertinya paling banyak disalahpahami. Itu wajar belaka. Sebab tasawuf-falsafi sendiri tergolong rumit dibanding tasawuf-sunni. Belum lagi ajaran wahdah al-wujud yang terbilang rumit dengan sentuhan filsafat yang amat kental. Beda dengan tasawuf-sunni yang memang sejak awal berorientasi pada pembinaan moral, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa dengan riyadlah (latihan mental) dan langkah takhalli, tahalli, serta tajalli.

Sebelum ke manunggaling kawula-Gusti yang menjadi tema utama quote Pak Rektor kali ini, ada baiknya sekilas kita sebutkan inti dari ajaran wahdah al-wujud yang diintrodusir Ibnu ‘Arabi. Menurut Ibnu ‘Arabi, terdapat hubungan-keterikatan antara Allah, alam dan manusia.

Hubungan itu tidak dapat dipahami kecuali melalui konsep wahdah al-wujud. Seperti ini “skema”-nya: Allah tidak semata-mata mengadakan alam kecuali bahwa Dia ingin dilihat “penampakan”-Nya; Dia ingin Diri-Nya dilihat. Alam yang diadakan-Nya merupakan perwujudan dari nama dan sifat-Nya yang berasal dari-Nya.

Setelah Allah menciptakan alam yang keberadaan awalnya seperti wujud tanpa ruh, bagaikan cermin kosong, lalu Allah tiupkan padanya dari ruh-Nya sehingga alam siap menerima limpahan-Nya yang suci, ketika itu alam tak lagi wujud tanpa ruh, bukan lagi cermin kosong, melainkan cerminan-Nya. Di antara wujud alam itu, Adam (manusia) adalah pusat dari penampakkan yang ada di cermin. Adam adalah ruh dari wujud alam.

Wahdah al-wujud tidak sama dengan panteisme. Ajaran wahdah al-wujud sebenarnya penegasan bahwa yang mempunyai wujud hakiki hanya satu, yaitu Tuhan. Wujud selain dari Tuhan adalah wujud bayangan. Kata Haidar Bagir, wahdah al-wujud tidak bersifat panteistik yang menggangap segala sesuatu sebagai Tuhan, tapi tidak juga monoteistik (ketunggalan Tuhan yang transenden, mengatasi dan sepenuhnya berbeda), melainkan monorealistik. Yakni, menegaskan ketunggalan segala yang ada dan mengada.

Dalam kerangka ini kita dapat memahami quote Pak Rektor kali ini. Jika alam merupakan pancaran atau bayangan wujud Tuhan, di mana manusia merupakan inti atau puncak dari pancaran atau bayangan itu, maka sejatinya pada manusia terdapat sisi ketuhanan (lahutiyah) di samping tentu saja sisi kemanusiaan (nasutiyah). Pun sebaliknya, jika Tuhan ingin Diri-Nya diketahui; jika Dia ingin wujud-Nya dilihat, lalu Dia menciptakan alam, di mana manusia sebagai pusatnya, sebagai gambaran atau bayangan-Nya, maka tidak sulit dipahami bahwa Tuhan memiliki sisi “kemanusiaan (nasutiyah)”.

Nah, dalam hal ini yang coba diformulakan oleh Pak Rektor adalah apa yang terjadi ketika sisi-sisi itu berelasi, ketika sisi-sisi itu saling terkoneksi. “Ketika sisi nasutiyah manusia berelasi dengan sisi lahutiyah Tuhan, atau sisi lahutiyah manusia dengan sisi nasutiyah Tuhan, maka mewujudlah ruhaniyah-lahutiyah manusia dan nasutiyah Tuhan. Itulah momentum wahdah, manunggal. Kemanunggalan yang sepenuhnya lahutiyah. Manusia dan Tuhan kembali pada situasi primordialnya. Orang Jawa menyebutnya manunggaling kawula-Gusti, Gustine-kawula, kawulane-Gusti.”

Untuk memudahkan, penjelasan tentang manunggaling kawula-Gusti ini saya ambilkan dari Ranggawarsita, yang intinya: manunggaling kawulo lan gusti akan dicapai oleh manusia yang sempurna, yaitu manusia yang segala tingkah laku dan perbuatannya mencermikan perbuatan Tuhan.

Manusia yang seperti ini adalah manusia yang hidup pribadinya telah diserahi kekuasaan Tuhan sehingga ia melihat, mendengar, mencium dan berbicara atas nama kuasa Tuhan. “Sadjatine manungso ikoe rashaingsoen, lan ingsoen iki rashaning manoengsa…” Bahwa sebenarnya manusia itu adalah rasa-Ku, dan Aku ini rasa manusia.” Ini menunjukan adanya kesatuan antara manusia dan Tuhan, di mana hakikatnya merupakan kesatuan antara sifat dan dzat Tuhan, karena sifat dan dzat tidak dapat dipisahkan, dzat meliputi sifat, sifat menyertai nama (asma), asma menandai af`al. “….sadjatining Dhat Kang Maha Soetji, angliputi ing sipatingsoen. Anatani ing asmaingsoen. Amratandani ing apngalingsoen.”