Islamsantun.org. Adalah Chairil Anwar, dalam sajak yang sangat terkenal berjudul “Aku”, yang ia tulis ketika berumur 20 tahun menyatakan, “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Ungkapan tersebut mewakili sebagian besar kita yang pada umumnya ingin diberi umur panjang oleh Allah Swt.

Ya, hampir tidak ada seorang pun di dunia ini yang berharap diberi umur pendek. Setiap manusia berharap diberikan umur panjang. Padahal, belum tentu umur panjang itu baik dan bermanfaat baginya. Boleh jadi dengan bertambahnya umur, justru bertambahnya dosa dan kejahatan yang dilakukannya. Tetapi, demikianlah pada umumnya harapan setiap orang. Semua berharap diberi kesempatan lebih lama untuk hidup di dunia ini.

Dalam Q.S. Al-Baqarah: 96 Allah Swt. menyebut orang-orang Yahudi sebagai orang yang tamak, karena mereka menginginkan agar diberi umur hingga seribu tahun. “Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkan mereka (orang-orang Yahudi) dari siksa. Maknanya secara umum bahwa rentang umur yang panjang tidak menjadi jaminan bagi baiknya seseorang. Untuk apa berharap umur panjang jika hanya diisi dengan kejahatan dan dosa.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya.” (HR. Ahmad)

Dari keterangan hadis di atas, jelaslah bahwa sesungguhnya baik tidaknya seseorang bukan ditentukan panjang dan pendeknya umur yang dimilikinya, tetapi kualitas amal yang diperbuatnya. Panjang umur tidak akan bermakna apa-apa, bahkan bisa jadi justru akan melenakannya, menjadikan seseorang lalai dengan tujuan hidup yang sesungguhnya. Panjang umur justru akan menambah beban yang akan dideritanya kelak di akhirat jika hanya diisi dengan keburukan serta kejahatan perilaku semasa hidupnya.

Umur yang pendek dengan kualitas amaliyah positif yang berlimpah menjadi lebih baik daripada umur panjang dengan perilaku buruk yang tak henti-hentinya dilakukan.

Memang idealnya, jika kita dianugerahi umur panjang, maka itulah kesempatan bagi kita untuk memperbanyak bekal kehidupan akhirat. Semakin bertambah umur, semakin tinggi kualitas ibadah yang kita lakukan, semakin dekat kita dengan Allah Swt. Jika demikian kenyataannya, maka kita akan menjadi manusia-manusia terbaik.

Persoalannya, karena umur adalah rahasia Allah, maka yang harus kita lakukan untuk memaknai nikmat umur adalah, dengan mengabdikan seluruh hidup kita untuk mengabdi kepada Allah dan berbuat baik terhadap sesama.

Pengabdian kepada Allah serta kebaikan dan mafaat yang diberikan kepada sesama manusia akan menjadikan seseorang terus ‘hidup’ dan memiliki usia yang panjang, meskipun tubuhnya sudah terbujur kaku di dalam kubur.

Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa meski umur kita pendek, meski masa hidup kita di dunia ini sangat terbatas dan singkat, tetapi kualitas amal kita harus tidak terbatas dan bertahan lama. Sungguh sangat membahagiakan, jika kita sudah meninggalkan dunia ini, tetapi kebaikan-kebaikan kita masih memberi manfaat bagi orang lain.

* Ruang Inspirasi, Ahad, 26 Desember 2021