Islamsantun.org. Hari Raya Idul Adha merupakan Hari Raya istimewa, karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya tersebut, yaitu Ibadah Haji dan Ibadah Kurban.

Pada hakekatnya, dua ibadah agung nan mulia yang terdapat dalam bulan Dzulhijjah ini merupakan napak tilas perjalanan hidup salah seorang nabiyullah. Ikon manusia yang begitu dekat dengan Allah, yang karenanya diberi gelar Khalilullah (kekasih Allah), dialah Ibrahim as. Sosok Ibrahim, dengan kedekatan dan kepatuhannya secara paripurna kepada Allah tampil sekaligus dalam dua ibadah di hari raya Idul Adha, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban.

Dalam ibadah haji, peran nabi Ibrahim tidak bisa dilepaskan. Tercatat bahwa syariat ibadah ini sesungguhnya berawal dari panggilan nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah swt dalam firmanNya: “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ serta sujud. Dan kemudian serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 26-27).

Ibadah ini harus diawali dengan kesiapan seseorang untuk menanggalkan seluruh atribut dan tampilan luar yang mencerminkan kedudukan dan status sosialnya dengan hanya mengenakan dua helai kain ‘ihram’ yang mencerminkan sikap tawaddu’ dan kesamaan antar seluruh manusia. Dengan pakaian sederhana ini, seseorang akan lebih mudah mengenal Allah karena dia sudah mengenal dirinya sendiri melalui ibadah wuquf di Arafah.

Dengan penuh kekhusyu’an dan ketundukkan seseorang akan larut dalam dzikir, munajat dan taqarrub kepada Allah sehingga ia akan lebih siap menjalankan seluruh perintahNya setelah itu. Dalam proses bimbingan spiritual yang cukup panjang ini seseorang akan diuji pada hari berikutnya dengan melontar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap setan dan terhadap setiap yang menghalangi kedekatan dengan Rabbnya. Kemudian segala aktifitas kehidupannya akan diarahkan untuk Allah, menuju Allah dan bersama Allah dalam ibadah thawaf keliling satu titik fokus yang bernama ka’bah. Titik kesatuan ini penting untuk mengingatkan arah dan tujuan hidup manusia: “katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam”. (Al-An’am: 162)

Akhirnya dengan modal keyakinan ini, seseorang akan giat berusaha dan berikhtiar untuk mencapai segala cita-cita dalam naungan ridha Allah swt dalam bentuk sa’i antara bukit shafa dan bukit marwah. Demikian ibadah haji sarat dengan pelajaran yang kembali ditampilkan oleh Ibrahim dan keluarganya.

Dalam ibadah kurban, kembali Nabi Ibrahim tampil sebagai manusia pertama yang mendapat ujian pengorbanan dari Allah swt. Ia harus menunjukkan ketaatannya yang totalitas dengan menyembelih putra kesayangannya yang dinanti kelahirannya sekian lama.

Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat: 102).
Dalam rangkaian ayat tersebut Allah Swt. menguji sejauh mana kualitas keimanan Nabi Ibrahim. Apakah kecintaannya kepada anak semata wayangnya—yang menyimbolkan kesenangan duniawi—- itu menghalangi ketaatannya kepada Allah, ataukah justru sebaliknya, ketaatannya kepada Allah melebihi kecintaannya kepada apapun juga, termasuk kecintaannya kepada buah hati belahan jantungnya.

Dalam peristiwa tersebut dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim berhasil mengalahkan egonya, ia mampu membebaskan dirinya dari belenggu nafsu kebendaan (materi)– berupa kecintaannya kepada anaknya— dengan kesediaan mengurbankan anaknya demi memenuhi perintah Allah. Untuk itu, Allah kemudian menggantinya dengan hewan sembelihan yang besar.

Kisah ini bukanlah mitos, atau cerita fiktif belaka, namun suatu fakta sejarah kehidupan seorang rasul Allah yang benar adanya. Dari peristiwa dramatis inilah kemudian ibadah kurban yang disimbolkan dengan menyembelih hewan kurban disyariatkan.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa prosesi pengurbanan yang disimbolkan dengan penyembelihan hewan kurban melambangkan dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi vertikal-spiritual (hablun min Allah) dan dimensi horisontal-sosial (hablun min an-nas). Dengan kata lain, ibadah kurban selain sebagai upaya taqarrub dan pemantapan tauhid seorang hamba terhadap penciptanya, juga merupakan usaha pembelajaran atas nilai-nilai solidaritas sosial terhadap sesama.

Ritual haji yang disimbolkan dengan mengenakan pakaian ihram, menanggalkan segala bentuk kemewahan duniawi, mengakui persamaan derajat manusia dapat dimaknai secara luas. Selain sebagai upaya taqarrub (pendekatan diri) seorang hamba terhadap Penciptanya, juga dapat diartikan sebagai upaya menumbuhkan sikap kesadaran akan eksistensi kemanusiaan serta solidaritas sosial terhadap sesama.

Demikian halnya dengan ibadah kurban, yang disimbolkan dengan menyembelih hewan kurban, dapat dimaknai sebagai bukti ketaatan dan penyerahan diri secara total kepada sang Khalik, Allah Swt. Kita pangkas semua bentuk egoisme, kesombongan serta keserakahan kita. Kita tundukkan diri, hati dan jiwa kita hanya kepada Allah Swt semata. Inilah inti ajaran tauhid yang sesungguhnya.

Ibadah haji dan kurban merupakan simbol komitmen bersama untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mengajarkan kepekaan sosial, empati terhadap pelbagai persoalan yang menimpa orang lain, sehingga setiap individu ataupun kelompok sosial terjamin hak-haknya sebagai manusia yang merdeka dan bermartabat. Singkatnya, ritual ibadah haji dan kurban mengajarkan kita untuk melakukan transendensi, merefleksi, mengapresiasi, sekaligus mentransformasikan nilai-nilai moral ilahi yang suci dan sangat mulia ini menuju nilai-nilai insani dalam realitas sosial.

* Ruang Inspirasi, Selasa, 20 Juli 2021.