Taliban sedang menjadi sorotan dunia. Kelompok ini sudah menguasai lebih dari separuh wilayah di Afganistan, sebentar lagi negeri yang didiami penyair Nadia Anjuman akan dikuasi oleh kelompok yang dicap sebagai teroris dunia ini.

Taliban adalah nama dari sebuah kelompok pergerakan (harkah) bersenjata yang berada di wilayah Afganistan. Kelompok ini bermadzhab Hanafi dan tidak mengakui madzhab lainnya. Misi besarnya adalah menjadikan Afganistan sebagai negara Islam dengan asas Al-Qur’an dan hadis, demikian pula hukum-hukumnya dengan berasaskan “syariah Islam”. (AlHayah)

Yang menarik adalah, kelompok ini menggunakan kata Taliban, bagi pembelajar bahasa Arab kata tersebut tidak asing. Kata Taliban mirip dengan kata Tholiban (طالبا) dalam bahasa Arab, yang artinya adalah siswa (peserta didik), namun penulisan di media berbahasa Arab kata Taliban pada akhir katanya menggunakaan Alif dan Nun, طالبان. Antara Taliban (harkat dhammah, mansub) dengan Thaliban (ditambah alif dan nun) dalam arti yang berbeda, yang pertama bermakna “satu siswa” dan yang kedua “dua siswa”.

Tetapi, arti Taliban dalam AlJazeerah adalah jamak (plural), berarti banyak siswa, bukan hanya satu dan dua siswa. Karena kata ini diserap dari bahasa Arab yang artinya pembelajar (siswa, murid), tetapi memiliki bentuk yang berbeda. Dalam bahasa Pusthun (nama daerah di wilayah Afganista, atau marga yang berada di Afganistan) juga bermakna banyak siswa. Sedangkan dalam bahasa Arab, Taliban bermakna “satu siswa”, dan jamaknya adalah Thullab (طلاب), Thalabah (طلبة), Thawalib (طوالب), Thalibuna (طالبون) dan Thalibat (طالبات untuk siswi).

Maka, kalau diartikan secara tekstual kata Taliban adalah para siswa (para pembelajar di madrasah). Dan ternyata benar, kelompok ini dilahirkan dari sekolah-sekolah agama (madrasah), mereka adalah para pembelajar yang mendalami ilmu agama.

Dalam el-Jazeera, Taliban adalah Gerakan Islam yang diprakarsai oleh para siswa madrasah (sekolah agama) yang dikenal sebagai Taliban (jamak dari kata Taliban dalam bahasa Pashto) gerakan ini muncul pada tahun 1994 di provinsi Kandahar (Afghanistan barat daya) yang berbatasan dengan Pakistan, di tangan Mullah Muhammad Omar Mujahid ( 1959-2013). Gerakan ini berdiri awalnya adalah ingin memperbaiki moral, dan pemulihan suasana keamanan dan stabilitas di negeri Afghanistan yang tidak stabil pada waktu itu, dan gerakaan ini banhak dibantu oleh para siswa sekolah agama yang berjanji setia kepada Mullah sebagai Amir mereka pada tahun 1994.

Para pembelajar (siswa) yang masuk dalam kelompok Taliban, mereka adalah melakukan gerakan belajar di sekolah-sekolah agama Deobandi (kata ini dinisbatkan pada sebuah desa yang bernama Deobandi India) karena beberapa kurikulumnya dipengaruhi oleh kurikulum yang berada beberapa sekolah tersebut. Sekolah-sekolah tempat mereka belajar banyak mengkaji dan lebih berfokus pada ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir, hadits dan biografi, di samping beberapa ilmu modern yang diajarkan dengan cara lama dan tradisional.

Siswa yang berada di sekolah-sekolah agama tersebut mengikuti beberapa jenjang atau tahapan pendidikan dari Marhalah (tingkatan) pertama sampai marhalah selanjutnya, yaitu dari tingkat (marhalah) dasar, tingkat menengah, tingkat tinggi dan tingkat akhir (takmiliyah). Selama siswa belajar, tahapan ilmiahnya berubah (derajat, gelar, pangkat) dari satu tahap ke tahap lainnya.

Pertama tahap “Talib” yang dalam bahasa Pashto digabungkan dengan “Taliban”, yaitu setiap orang yang masuk sekolah dan memulai belajar, kemudian “Mullah” adalah seseorang yang gagal dari beberapa disiplin ilmu dan belum lulus dari sekolah, dan berikutnya adalah “Mawlawi” adalah seseorang yang menyelesaikan pendidikan dan lulus dari Daurah (pelatihan, sekolah) hadits, yang kemudian diwisuda dan disematkan di kepalanya sorban, dan berhak menyandang gelar gelar dan menerima ijazah.