Kamu boleh namai itu rumah

Selama ada m’reka yang kamu cinta

Di dalamnya

Sal Priadi, “Kita Usahakan Rumah Itu”

~~~

Setiap tahun, umat Islam dari penjuru dunia berkumpul di satu tempat untuk melaksanakan ritual ibadah tertua, berziarah ke tanah suci. Ibadah haji, menjadi rukun Islam kelima sekaligus menjadi paripuna bagi seluruh ibadah. Karena itulah, banyak orang yang berjuang untuk bisa mengunjungi rumah Allah (baitullah) itu.

Esensinya setiap manusia memiliki rumah dan akan rindu untuk berpulang ke rumahnya. Kakbah di Mekah adalah manifestasi rumah Tuhan yang menjadi tempat kembali umat beriman. Semua ingin ke sana, tetapi untuk melangkah butuh usaha ekstra. Sehingga ibadah haji memberikan syarat: bagi yang mampu.

Kemampuan itu diusahakan, yang memberikan kemampuan tetaplah Tuhan. Banyak yang mampu, tetapi tak lekas menjadi tamu. Semua yang bertamu adalah mereka yang dipanggil oleh Sang Empu. Dengan demikian, daripada bertengkar atau sampai menempuh prosedur yang ilegal, sudah semestinya kita menata diri untuk dapat dipanggil Tuhan mengunjungi rumah-Nya.

Memang di sisi lain, kerinduan berlebih dengan rumah kampung halaman, bisa membuat orang melakukan segala cara untuk bisa masuk ke dalamnya. Jika pintu depan tertutup, ada jendela atau pintu belakang yang bisa dilalui. Kalaulah kita belum mampu mengunjungi rumah Tuhan, paling tidak kita bisa menghadirkan suasana rumah Tuhan itu dalam rumah masing-masing.

Bagaimana caranya? Dalam Surat Quraisy, Allah Swt mendeklarasikan sifat sebagai pemelihara rumah Kakbah.

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ ٣ الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ ࣖ ٤

  1. maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah) 4. yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.

Dari ayat tersebut, ada tiga karakter utama rumah yang siap huni. Pertama, rumah yang senantiasa diisi dengan menyembah Tuhan. Tak dapat dimungkiri, baitullah adalah tempat umat beriman beribadah. Dari zaman Nabi Ibrahim hingga kini, tak henti rumah Tuhan itu mengagungkan asma-Nya. Inilah karakter rumah yang ideal. Rumah yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Kedua, rumah yang memberikan pangan tercukupi. Fungsi rumah bukan hanya penguat spiritual, tetapi juga pengokoh fisik dan mental. Rumah yang tak memberikan kebutuhan ekonomi yang cukup, akan membuat semangat anggota keluarga di dalamnya menjadi redup.

Ketiga, rumah memberikan rasa aman, terhindar dari ketakutan. Fungsi ini juga yang sering terlupakan saat ini. Alih-alih memberikan rasa tenteram, yang terjadi justru kekerasan berawal dari mereka yang beratap sama. Belum lama ini, publik dihebohkan dengan grup ‘Fantasi Sedarah’ yang beredar di Facebook. Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi rumah tangga yang seharusnya memberikan rasa aman.

Karena kehilangan ketiga fungsi tersebut, saat ini banyak rumah yang menjadi neraka. Bukan lagi semboyan “rumahku, surgaku”, melainkan “ada neraka di dalam rumah”. Sehingga para penghuninya mencoba mencari imajinasi ‘surga’ di luar rumah. Sudah penghuninya jauh dari ajaran Ilahi, kondisi ekonomi tertatih, dan komunikasinya pun saling menghakimi. Ada pula yang ekonominya mapan, tetapi justru jauh dari sinaran ketuhanan, sibuk bekerja siang dan malam, tak ada kasih sayang yang dihadirkan.

Kita menyaksikan pula bagaimana anak yang berasal dari ekonomi stabil justru menjadi pembunuh, pemerkosa, pem-bully, pengedar narkoba, dll. Hal itu bisa terjadi karena rumah tinggallah nama, tetapi tidak mempunyai marwah. Bahkan orang yang tinggal di dalamnya pun ogah untuk pulang ke rumah. Dari sini, kita dapat belajar bahwa yang disebut rumah bukanlah karena kemegahannya, tapi karena kebijaksanaan para penghuninya.

Inilah semangat fondasi rumah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya kala itu. Sebagaimana yang terekam dalam Surat Al-Baqarah ayat 125-127:

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ ١٢٥ وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ١٢٦ وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ١٢٧

  1. (Ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Ka‘bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. (Ingatlah ketika Aku katakan,) “Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.” (Ingatlah ketika) Kami wasiatkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, serta yang rukuk dan sujud (salat)!” 126. (Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali. 127. (Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Memahami ayat tersebut, kita dapat belajar ada tiga pondasi utama yang ditekankan oleh Nabi Ibrahim dalam membangun Kakbah, yaitu ketuhanan yang mendorong kesucian dan kebersihan sikap insan, keamanan yang melahirkan kenyamanan, dan kelapangan rezeki yang membuat penghuninya terbebas dari kelaparan. Itulah rumah impian setiap manusia.

Di samping perlu mempersiapkan bangunan fisik, yang juga penting adalah merancang nilai spiritual, emosional dan finansial rumah yang berkecukupan. Sebelum kita mampu menjadi tamu Allah di rumah-Nya, kita bisa meniru desain rumah Allah. Sehingga setiap saat, kita senantiasa hadir di baitullah. Karena baitullah itu bukan hanya Kakbah, melainkan sikap merendah penuh pasrah seorang hamba dalam menjalani setiap garis takdir Ilahi, juga adalah rumah. Rumah, tempat yang nyaman untuk kita kembali di saat diri ini benar-benar rapuh dan lemah. Adakah rumah itu? Wallahu a’lam.

Komentar