Islamsantun.org – Sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak, Indonesia mempunyai agenda tahunan yang disebut Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka membumikan nilai-nilai Al-Quran di tengah masyarakat. Sejak tahun 1969 di Ujungpandang (Makassar saat ini), MTQ selalu dilaksanakan dengan pelaksanaan yang mengikuti perkembangan zaman. Perlombaan yang pertama digagas adalah melantunkan ayat suci dengan suara merdu (tilawah) dan menghafal ayat demi ayat kalam Tuhan (tahfidz).

Pada perkembangan berikutnya, bermunculan banyak cabang, mulai dari tafsir, syarhil, fahmil, kaligrafi hingga yang terbaru adalah Musabaqah Menulis Kandungan Al-Quran (M2KQ). Cabang ini pertama kali diusulkan oleh Prof. Asep Saeful Muhtadi, Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Bandung tahun 2004. Hingga saat ini, lomba ini terus eksis melahirkan ribuan penulis berwawasan Qur’ani. Meski nomenklatur penamaannya berubah-ubah, setelah M2KQ menjadi M2IQ dengan kata Kandungan diganti menjadi Isi, kemudian berganti menjadi Musabaqah Makalah Al-Quran (MMQ), dan diksi terbaru adalah Karya Tulis Ilmiah Al-Quran (KTIQ).

Menurut penuturan Prof. Asep, KTIQ hadir mengisi kekosongan kajian intelektual Islam berbasis literasi di era digital ini. KTIQ dalam MTQ adalah puncak dari pemahaman dan penghayatan Al-Quran. Kehadiran lomba ini diharapkan melahirkan Gazali dan Ibn Rusyd baru. Di satu sisi kuat dengan turats dan kitab klasik, di sisi lain juga peka dengan permasalahan kontemporer yang mengusik.

Karenanya, semua yang terlibat di KTIQ, baik peserta terlebih lagi dewan hakim, adalah mereka yang sudah selesai dengan ‘tilawah’ lantunan ayat suci Al-Quran yang fasih, ‘tahfiz’ hafalan kalam Ilahi yang sahih, dan ‘tafsir’ pemaknaan firman Tuhan yang jernih. Inilah seni sekaligus yang membedakan KTIQ dengan karya tulis lainnya. KTIQ bukan sekadar ilmiah, tetapi ada nilai Al-Quran yang dieksplorasi. Tak sebatas ditempel atau coba dihafal tanpa pemaknaan apalagi pembacaan yang masih tertatih.

KTIQ adalah level tertinggi dalam mengeksplorasi Al-Quran agar semangatnya salih li kulli zaman wa makan. KTIQ adalah perpaduan antara keresahan intelektual dan kepekaan spiritual, penghayatan karya ulama terdahulu dan inovasi keilmuan terbaru. Karenanya, menulis ilmiah yang disandingkan dengan Al-Quran punya kualitas berkali lipat: tepat secara ilmiah juga akurat dalam uraian kitabiah.

Mengapa perlu menulis ilmiah Al-Quran? Mengapa tidak menulis tafsir saja? Menjawab pertanyaan tersebut, perlu memahami kesinambungan sejarah pengetahuan. Bahwa sebagaimana kata Thomas Kuhn, ada pergeseran paradigma (shifting paradigm) keilmuan. Saat ini manusia berada dalam alam pikir modernitas dengan corak rasionalnya. Agama yang selama ini dipahami secara teologis mendapat tantangan besar. Apakah agama masih relevan di era modern? Alhasil, banyak tokoh yang mencoba mendudukkan relevansi agama dalam pandangan sains modern. Semangat KTIQ pun hadir untuk menjawab tantangan kekinian yang dahulu di zaman Nabi, sahabat dan para ulama belum dibahas.

KTIQ pun dapat dikatakan sebagai corak baru penulisan eksplorasi ayat Al-Quran. Kalau pun hendak dikaitkan dengan metodologi penulisan tafsir, KTIQ lebih dekat dengan analisis mawdhu’i atau tafsir tematik. Artinya KTIQ tidak mengulas ayat Al-Quran secara keseluruhan, ini ranah tafsir tahlili dan ijmali. KTIQ mengangkat tema kontemporer seperti ketahanan keluarga, revolusi mental, jihad melawan korupsi hingga transformasi digital yang diulas dengan menyaring saripati ajaran Al-Quran.

Di sinilah framework KTIQ bermain. Bahwa Al-Quran itu akan selalu sesuai dengan perkembangan zaman yang masalahnya terus berubah. Tetapi, Al-Quran tidak biasa bersuara. Imam Ali menegaskan hal tersebut: ajaklah Al-Quran berbicara atau dengan bahasa lain, suarakanlah ayat-ayat Al-Quran. Menyuarakan ayat Al-Quran bukan sebatas dengan lantunan yang merdu, tetapi mendengungkan spirit Al-Quran yang berorientasi pada keadilan, kesetaraan, kemanusiaan dan kesemestaan.

Mereka yang bisa menyuarakan hal tersebut, di antaranya adalah para penulis KTIQ. Karenanya para penulis punya tugas mulia untuk menggaungkan pesan Ilahi di era modern. Sedangkan untuk bisa menulis, tidak bisa tidak, seseorang perlu membaca. Hal ini selaras dengan perintah pertama yang diajarkan Tuhan kepada Nabi Muhammad, “Iqra”. Membaca tidak sebatas mengeja, tetapi juga melihat realitas yang lebih luas dengan melakukan gerak aktif ke belakang, sekarang dan masa depan.

Gerak ke belakang dengan cara membaca sejarah, karya terdahulu dari para ulama, membuka lembaran khazanah intelektual yang amat kaya. Gerak saat ini adalah dengan membaca apa masalah yang terjadi, bagaimana realitas yang terpotret, dan menghubungkan dengan khazanah kebijaksanaan ulama terdahulu untuk menghasilkan masa depan yang lebih baik.

‘Ala kulli hal, semua yang terlibat dengan Al-Quran itu patut disyukuri. Bisa membaca Al-Quran dengan bacaan dan suara yang merdu adalah anugerah yang patut disyukuri, karena masih ada yang belum bisa. Bisa menghafal Al-Quran adalah anugerah yang perlu disyukuri, karena ada yang belum mampu. Bisa memahami isi kandungan Al-Quran adalah anugerah yang perlu dihayati, karena masih ada yang belum terketuk hatinya. Bisa memahami lantas menuliskan dan menyampaikan kandungan Al-Quran dengan konteks kekinian adalah anugerah yang patut disyukuri, karena masih ada yang tertutup mata dan hatinya untuk melihat kebenaran Al-Quran.

Begitulah setiap bentuk interaksi kita dengan Al-Quran perlu disyukuri. Dan pada saat yang sama, kita pun perlu untuk terus belajar mendekat dengan Al-Quran. Karena Al-Quran tak akan pernah habis untuk dikaji dan selalu nikmat untuk dipahami.

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus/10:58)

 

 

*Tulisan ini dibuat sebagai refleksi penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran Tk. Kab. Berau ke-55 di Kecamatan Gunung Tabur. Secara khusus, penulis terlibat sebagai salah satu dewan hakim cabang lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Quran.

Komentar