Drama terjadi, ketika Tuhan memerintahkan kepada Ibrahim untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail. Betapa ketabahan hati Ibrahim dan keikhlasan Ismail benar-benar diuji kualitasnya. Untuk memperoleh derajat tinggi di mata Tuhan.

Ini adalah sudut pandang pada sisi kehidupan tertentu yang mau tidak mau harus dipahami, juga dijalani. Pokok persoalannya terletak pada ujian-ujian yang bakal menimpa, tidak hanya pada anak-cucu Ibrahim dan Ismail, tetapi juga manusia seluruhnya mulai dari Adam hingga manusia terakhir kelak.

Bahkan tidak hanya manusia, makhluk lain termasuk Iblis pun diuji dengan diberikannya peran antagonis dalam ritme kehidupan alam raya ini diberlangsungkan. Sebagai sparing partner untuk menguji kualitas keimanan dan ketaqwaan kita, sebagai manusia.

Betapa beratnya menjalankan peran tersebut. Kita sebagai manusia, menyangka bahwa Iblis adalah musuh Tuhan. Padahal, sejatinya, tidak seujung kuku pun Iblis berani kepada Tuhan, kecuali yang memang ia harus berperan demikian.

Untuk mengenang peristiwa bersejarah Ibrahim dan Ismail itu, diwajibkanlah untuk menyembelih hewan qurban tatkala momentum Idul Adha. Hari di mana para jama’ah haji sedang berada di tanah suci.

Lantas, seberapa jauh kita memaknai dan memahami peristiwa itu sebagai landasan kita dalam rangka menempuh kehidupan?

Sayangnya, kita selama ini masih belum, atau bahkan tidak pernah sampai memahami sudut-sudut lain, lipatan-lipatan lain dan tikungan-tikungan lain dalam cakrawala kehidupan ini. Sehingga, kita tidak lebih tahu ketimbang rasa keingintahuan itu sendiri.

Kita malah menjadi seonggok makhluk hidup yang naif, padahal derajat kita sangatlah spesial. Kita adalah manusia yang begitu serampangan dalam melihat, memahami, dan menilai sesuatu hal, meski akal kita begitu istimewa. Sehingga segalanya menjadi kabur, dan kita sungguh telah kehilangan makna-makna dalam kehidupan ini.

Umpamanya, kita pahami, Ismail adalah putra tercinta Ibrahim. Sebagai seorang bapak yang baru saja dikaruniai putra, tidaklah lebih berharga apapun saja yang ada di kehidupan seorang Ibrahim melebihi putranya itu. Tetapi, Tuhan justru memerintahkan kepadanya untuk menyembelih sang putra tercinta.

Gundahlah hatinya. Pikirannya berkecamuk, bagaimana mungkin itu bisa dilakukan oleh seorang bapak terhadap putra tercintanya sendiri. Dalam kacamata rasionalitas modern saat ini, hal demikian adalah salah satu tindakan kriminal yang tidak manusiawi. Maka, beliau enggan dan bimbang hatinya. Sebelum akhirnya setelah tiga kali bermimpi tentang perintah tersebut, Ismail justru menyanggupi dan mengikhlaskan jiwanya seraya memantapkan hati sang ayah, apabila memang itu adalah perintah Tuhan langsung, maka segera saja laksanakan.

Sedangkan, fenomena saat ini justru lebih mengharu biru. Tidak ada perintah pun, kita berlagak layaknya algojo yang siap menggorok leher kehidupan tidak saja keluarga kita, tetapi juga manusia-manusia yang lain. Dengan alat, teknik dan metode yang sangat cerdik dan beragam. Tanpa sadar, sebenarnya kita telah memberlangsungkan mekanisme menggorok leher kehidupan manusia-manusia lain.

Kecerdikan kita justru membuat kita kelewat cerdik. Sehingga yang nampak bukanlah semata-mata kecerdikan, tetapi lebih daripada itu, adalah kebengisan terselubung dan sifat tidak manusiawinya kita terhadap sesama manusia.

Di sisi lain, kita bisa memahami, ketabahan dan kepatuhan seorang hamba bernama Ibrahim meski dengan berat hati harus menyembelih putranya, Ismail, justru berujung digantikannya Ismail dengan seekor domba pilihan dari surga. Ismail tidak jadi disembelih lehernya. Malah didatangkan seekor domba pilihan sebagai persembahan atas ketabahan dan keikhlasan dua sosok insan itu, yang kelak menjadi teladan kehidupan umat manusia.

Sebenarnya, kalau kita memahami, apa yang disembelih oleh Ibrahim adalah sisi egonya sendiri, keterikatannya terhadap pengaruh kenikmatan dunia, dan rasa ragu-ragunya dalam meng-iman-i keyakinannya. Sedangkan, apa yang dilakukan oleh Ismail adalah kepasrahan dirinya atas sebuah jalan kehidupan, dia menyadari bahwa dia sebenarnya bukanlah milik, dia bukanlah milik dirinya sendiri. Dia tidak memiliki dirinya, apalagi terhadap kemegahan dunia beserta isinya ini, tidaklah semua itu adalah miliknya yang harus digenggamnya secara erat-erat. Yang justru akan menjeratnya dalam tali kekufuran.

Saya ulangi sekali lagi, seberapa jauh kita memahami dan memaknai peristiwa itu sebagai landasan kita dalam rangka menempuh kehidupan?

Termasuk dalam keadaan tidak adanya haji tahun ini. Sehingga membuat makna kehidupan manusia, khususnya umat Islam, semakin kosong. Relung terdalam jiwa kita seolah-olah menemui ruang hampa yang sedemikian tak berasa. Entah virus, entah pandemi, atau entah ketololan kita sendirilah yang membikin kita terjerembab ke dalam lubang yang mencekam ini, meski di luar sana gegap gempita dunia amatlah riuh-rendah.

Penyekatan, pembatasan, termasuk pelarangan tak ubahnya sebuah dinding-dinding tebal yang membuat kita semakin tak berdaya oleh tekanan raksasa bernama kenyataan. Tak bolehnya berkerumun, maka tak bolehnya merayakan hegemoni Idul Adha, seraya mengumandangkan alunan takbir  sebagaimana kondisi normal. Selain hanya mendalami nuansa gema takbir itu dalam dada kesadaran kita sendiri, di relung terdalam hati kita.

Adapun tidak bisanya berangkat haji, tidak lantas membuat jiwa spiritualitas kita putus dan menjadikan atmosfer batin kita hilang kendali. Sebab, masih ada baitullah amat intim di dalam masing-masing kalbu kita yang selama ini seringkali kita lupakan. Bahwa, Rabb itu tidak hanya berada di Ka’bah, juga tidak hanya ada di masjid-masjid, mushola ataupun mihrab lain, tetapi Ia juga ada di dalam sirr terdalam kalbu kita. Bahkan, seharusnya Ia selalu ada dalam kesadaran hidup kita.

Falya’budu rabbahadzal baiit, maka hendaklah menyembah Tuhan, Sang Pemilik rumah kehidupan ini, di dalam nurani dan jiwa masing-masing hamba. Alladzi ath’amahum min juu’iw wa amanahum min khouf. Yang telah memberi makan dan mengamankan kita dari rasa takut.

***

Akan tetapi, selama ini, tatkala Iduladha tiba, kemudian banyak kambing dan lembu kita sembelih. Tak pernah ada indikasi implisit sekalipun dalam kesadaran kita, bahwa yang sejatinya kita sembelih adalah muatan egoisme kita, egosentrisme kelompok, dan sentralisme ideologi kita yang begitu membelenggu nurani.

Kita tak benar-benar belajar dan mengambil hikmah terhadap peristiwa Ibrahim dan Ismail tersebut. Selain hanya sekadar membagikan daging dan memakan daging.

Alhasil, yang kita gorok adalah benar-benar leher-leher kambing dan lembu. Bukan leher-leher kambingisme keegoisan dan leher-leher lembuisme keangkuhan serta ketamakan kita sebagai manusia. Sehingga dapat mengubah kesadaran dari yang dulunya “aku individu” menjadi “aku orang banyak”, yang dulunya “aku kelompok” menjadi “aku bersama”, dan akhirnya sama-sama punya kesadaran “aku rakyat”.

Dengan demikian, kalau kesadaran itu terwujud, maka akan ada hal yang benar-benar dapat berubah ketika telah selesai diberlangsungkannya proses ber-qurban itu untuk sama-sama membangun kesadaran persatuan. Sama-sama menjadi satu-kesatuan utuh yang berjalan dalam garis nilai yang luhur guna menciptakan kehidupan yang lebih rukun dan damai. Sekaligus, sama-sama menjadikan apa yang telah kita qurbankan itu sebagai wasilah untuk kedekatan hidup kita kepada Allah. Tuhan Yang Maha Esa.

Entahlah, kita memang belum sungguh-sungguh mengabdikan diri kita layaknya seorang hamba. Bahkan menjadi manusia saja, kita belum benar-benar lulus, apalagi sampai derajat cumlaude. Akselerasi intelektualitas kita juga tidak sampai bisa menembus sisi spiritual dari keberlangsungan hidup ini. Kita hanya berhenti di permukaan pantai, kemudian kita begitu terlena menikmati ilusi optik yang dilakukan fakta-fakta semu, sehingga mutiara yang terdapat di dalam dasar lautan itu belum pernah kita sentuh, alih-alih kita dapatkan. Bahkan sampai sekarang. []