“Jika engkau menghadapi musuh, lalu seluruh jiwamu berasyik-masyuk sebagai sahabat, atau ketika engkau berasyik masyuk bersama karib, dan engkau merasa seolah menghadapi musuhmu, maka sesungguhnya engkau mulai membuka diri untuk kesejatian. Bahkan, mulai merayakan kesadaran diri yang tinggi, kewaspadaan tingkat dewa. Tapi yakinlah, jalan menuju ke sana sangatlah berliku dan terjal. Tak jarang orang kadang tergelincir ke jurang dan hancur berkeping-keping. Tapi jika engkau bangkit dan terus mendaki tanpa henti hingga mencapai puncaknya, maka menjadilah dirimu manusia setengah malaikat. Wallahu a’lam” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Dalam hemat saya, renungan Pak Rektor kali ini masih senafas dengan renungan beliau yang ke-13 yang syarahnya saya beri judul “Kesejatian Hidup dan Kesempurnaan Jiwa”. Secara umum renungan Pak Rektor ini terbagi dua: Pertama, tentang salah satu ciri orang yang telah sampai pada taraf kesejatian diri. Kedua, perjuangan yang harus ditempuh demi menggapai kesejatian diri. Kesejatian diri, dalam amatan Pak Rektor, merupakan perpaduan dari kesaradan diri tinggi dan kewaspadaan tingkat luar biasa. Orang yang telah mencapai maqam ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain dapat melihat hakikat diri orang yang ada di hadapannya.

Di mata kebanyakan, orang yang sedang berada di hadapan kita adalah musuh kita. Tapi jika kita telah sampai pada maqam kesejatian diri, bisa saja orang yang sedang di hadapan kita itu sejatinya sahabat. Pun sebaliknya, di penglihatan awam, orang yang sedang berada di hadapan kita adalah karib kita. Tapi jika kita telah sampai pada maqam keawasan dan kewaspadaan diri, bisa jadi orang yang sedang di hadapan kita itu sejatinya adalah musuh belaka.

Hakikat kehidupan seringnya terhijab bagi orang-orang yang belum berhasil menyingkirkan renik-renik kotoran dari diri mereka. Rahasia kehidupan seringnya masih diliputi tabir bagi orag-orang yang hatinya masih tertutupi ego dan karat-karat keangkuhan. Mengulang apa yang sudah dikatakan, hanya orang-orang yang telah sampai pada tingkat kesejatian yang mampu menyingkap hijab dan mengenyahkan tabir-tabir itu.

Setiap kita dituntut untuk berupaya menyingkap hijab dan mengoyak tabir. Semampu dan sekuat tenaga kita. Tidak boleh ada kata menyerah dalam perjalanan menuju kesejatian ini, meski, seperti kata Pak Rektor, “jalan menuju ke sana sangatlah berliku dan terjal.” Apakah setiap kita harus benar-benar sampai pada kesejatian itu? Iya, harus, dalam takaran dan kualifikasinya masing-masing, lantaran memang kesiapan serta kualitas setiap diri kita juga berbeda-beda satu sama lainnya.

Kesejatian sejauh yang dapat diraih oleh kaum awam dan para pemula tentu di mata kaum khawash hanya langkah permulaan saja. Dan begitu seterusnya. Hanya saja, di sisi lain, pada setiap diri kita juga hendaknya tidak tertanam sifat “berpuas diri”.

Maksud saya, jika kita sejauh ini sadar bahwa kita masih berada di level awam dan pemula, maka kita harus berusaha sedemikian rupa untuk meningkatkan level itu, dan begitu seterusnya hingga tergapai level terjauh yang dapat kita rengkuh, hingga tercapai maqam tertinggi yang dapat kita raih.

Dan pada setiap pencapaian, tentu Tuhan tidak akan menyia-nyiakan setiap butir keringat yang menetes dari tubuh kita di jalan menuju kesejatian; Tuhan tidak akan mengabaikan setiap peluh yang mengucur di jalan menuju kesejatian. Mengapa harus sampai menetaskan keringat atau mengucurkan peluh? Karena, mengulang kata-kata Pak Rektor, “jalan menuju ke sana sangatlah berliku dan terjal.”

Apa yang harus kita sediakan sebagai bekal dalam menempuh perjalanan berliku dan terjal? Lagi-lagi kata Pak Rektor, “engkau bangkit dan terus mendaki tanpa henti hingga mencapai puncaknya.” Tapi haruskah kita mendapat predikat sebagai “manusia setengah malaikat” ketika merasa telah sampai di puncak perjalanan? Predikat itu tidak untuk kita sematkan sendiri atas diri sendiri. Biar Tuhan atau orang-orang khawash tertentu yang menyematkannya atas siapa yang layak mendapatkannya.

Kita tidak dituntut untuk merebut predikat itu. Sejauh yang harus kita lakukan adalah berupaya dan terus berupaya, berjalan dan terus berjalan, menyusuri dan terus menyusuri perjalanan menuju kesejatian tanpa peduli predikat apa yang bakal kita dapatkan sesampainya kita di ujung perjalanan.

Lepas dari itu, Ramadhan merupakan salah satu tahapan perjalanan menuju kesejatian; tahapan di mana Allah banyak sekali memberi kita kesempatan untuk berjalan lebih kencang; melangkah lebih teguh, dan menatap ke depan lebih terfokus. Semoga kita termasuk golongan mereka yang bisa memanfaatkan kesempatan itu.