Islamsantun.org. Sudah terang benderang bahwa Munarman berjejaring dengan teroris global. Dan itu menjadi fakta tak terbantahkan ketika kita melihat apa yang terjadi di persidangan pada Senin (24/1) lalu. Munarman dinyatakan ikut melakukan pembaiatan kepada ISIS dengan cara-cara tertentu.

Di sini, Munarman tidak bisa mengelak lagi. Dalam foto-foto yang beredar luas, di mana Munarman berswafoto secara sadar dengan gerombolan ISIS, bahkan bersama dengan pelaku bom bunuh diri di gereja Filipina, Rullie Rian Zeke, adalah fakta akurat bahwa ia juga termasuk dalam kelompoknya. Apalagi, ditambah dengan pengakuan beberapa saksi bahwa segala kekerasan sebenarnya itu otaknya adalah Munarman.

Jejak Munarman di Jaringan ISIS

Menurut beberapa saksi, Munarman dan seluruh laskar FPI Makassar mendukung ISIS. Itu terlihat dari jejak rekamnya dan naskah “Maklumat FPI tentang ISIS” yang ditandatangani Imam Besar FPI, Habib Rizieq pada 8 Agustus 2014.

Tertulis secara jelas bahwa maklumat FPI ini dibuat karena sehubungan dengan ISIS yang mendeklarasikan Khilafah Islamiyyah. Bahkan karena ISIS ingin menegakkan Khilafah Islamiyyah, bagi FPI itu sesuai dengan visi-misi FPI sejak didirikannya pada 17 Agustus 1998, yaitu Penerapan Syariah Islam dan Penegakan Khilafah Islamiyah melalui Jalan dakwah, Hizbah, dan Jihad sesuai manhaj Nabawiyah.

Inilah maklumat FPI yang mendukung teroris ISIS dan Al-Qaeda. Pertama, FPI tetap istikamah memperjuangkan penerapan syariat Islam secara kaffah di NKRI melalui koridor syari dan konstitusi. Kedua, FPI tetap setia mendukung gerakan jihad Islam di seluruh dunia dalam melawan segala bentuk kezaliman hegemoni global (new imperialism) menuju terbentuknya khilafah universal sesuai manhaj nubuwwah.

Ketiga, FPI menolak keras peperangan dan kekerasan sektarian antarsesama Muslim karena perbedaan mazhab yang tidak berakar pada masalah ushuluddin dengan mengatasnamakan jihad. Keempat, FPI Menyerukan seluruh gerakan jihad Islam agar bersatu dan bahu-membahu melaksanakan jihad yang syari tanpa membunuh atau menganiaya warga sipil yang tidak terlibat dalam peperangan, apa pun mazhab dan agamanya.

Dan Kelima, FPI mendukung seruan dan nasihat pemimpin Al-Qaeda, Syekh Aiman al-Zawahiri, bahwa seluruh komponen jihad Al-Qaeda baik pasukan Syekh Muhammad al-Jaulani di Syria maupun pasukan Syekh Abu Bakar al-baghdadi di Irak, agar bersatu dan bersaudara dengan segenap mujadihin Islam di seluruh dunia untuk melanjutkan jihad di Syria, Irak, Palestina, dan negeri-negeri Islam lainnya yang tertindas.

Setelah Seruan Mendukung ISIS

Maklumat FPI terhadap dukungan ISIS dan Al-Qaeda mengkomfirmasi bahwa FPI secara kelembagaan mendukung ISIS. Artinya, Rizieq Shihab, Munarman dan semua lini FPI juga secara sah menjadi kelompok teroris global: ISIS dan Al-Qaeda. Apakah semua kelompok FPI kini harus dipenjara sebagaimana keterlibatan teroris lainnya? Ini tergangung kebijakan negara.

Namun yang pasti, ketika saksi Ustad Basri, tokoh ISIS Makassar mengatakan bahwa Munarman menjadi otak kekerasan dan bahkan pernah mengajak mahasiswa UIN Sumatera Utara untuk mendukung ISIS (24/12015), ini sudah jelas harus dihukum seberat-beratnya. Dan harus lebih berat daripada pelaku teror. Mengapa?

Pelaku teror dan otak teroris lebih berbahaya otak teroris. Karena ia yang bisa mendesain dan memerintah semua teror-teror di dunia. Bahkan ia juga yang punya jejaring kuat dengan teroris handal di dunia global. Otak teroris ini juga yang secara pasti menjadi ujung tombak dari semua pembiayaan, perakitan, termasuk bagaimana teroris di Indonesia bekerja.

Maka tidak heran bila banyak anggota FPI yang bergabung dengan ISIS dan Al-Qaeda. Ditengarai FPI sempat mengirimkan laskarnya ke ISIS, Suriah. Dari sini bisa dilihat, semua kekerasan yang dilakukan anggota FPI menjadi jelas bagaimana kekerasan itu bekerja. Kekerasan lahir dan terinspirasi dari otak licik di mana ketuanya mengizinkan melakukan kekerasan layaknya ISIS.

Tak ada yang bisa membantah ketika semua bukti tereng benderang di depan mata kita. Jika mendekamnya Rizieq Shihab dan Munarman masih penuh sangkalan dengan alibi “kebencian pada ulama, benci terhadap Islam”, sungguh tidak masuk akal. Bahkan dengan mendekamnya mereka ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa mereka bermasalah dan tidak layak diulamakan.