Ramadan sebentar lagi, bulan penuh berkah di mana setiap hal baik akan mendapatkan pahala berlipat ganda. Pada bulan Ramadan diwajibkan bagi umat muslim untuk berpuasa sesuai dengan perintah Allah pada surat Al-Baqarah ayat 183, diawali dengan sahur dan diakhiri dengan berbuka. Biasanya saat bulan Ramadan dianjurkan menyantap hidangan sebelum berpuasa, dan hal ini memunculkan kebiasaan masyarakat untuk keliling desa atau menyiarkan di masjid agar masyarakat bangun melaksanakan sahur. Namun, ada beberapa masyarakat yang sulit untuk melaksanakan sahur karena mungkin susah bangun jika hanya mendengar siaran di masjid dan masyarakat yang keliling di desa atau gugah-gugah sahur.

Sulitnya bangun saat sahur membuat masyarakat yang kebo (susah bangun) khususnya para remaja sekarang ini membutuhkan seseorang untuk membangunkannya. Seseorang yang dimaksud di sini ialah orang terdekat. Namun, jika  seseorang terdekat tersebut merupakan keluarganya, mereka cenderung mengabaikan ajakan untuk bangun sahur. Sehingga mereka membutuhkan seseorang terdekat selain keluarga mereka sebagai Alarm Sahur. Kemudian, hal ini membuat para remaja berpikir untuk mencari pacar dan beranggapan jika pacaran ini untuk kebaikan.

Pacaran yang dimaksud disini yaitu pacaran hanya untuk penyemangat atau saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Pacaran syar’i ini memang tidak saling bersentuhan, duduk berdua, melainkan tujuan pacaran ini untuk saling mengingatkan kepada Allah SWT. Kesalahan ini terus dilakukan oleh para remaja padahal apapun alasannya hal itu tetap saja haram karena zina bukan hanya saja bersentuhan tapi banyak jenisnya, seperti zina mata, zina hati, zina pikiran, dan zina lisan. Perlu digaris bawahi, kegiatan ini jika menimbulkan rasa senang atau bahkan bisa membuat syahwat. Semua itu hanyalah tipu daya setan agar mereka terjerumus kedalam perzinaan. Perbuatan zina merupakan hal yang dibenci oleh Allah SWT.

Dalam Islam pun tidak mengenal istilah pacaran melainkan dikenal dengan Ta’aruf , yaitu proses pendekatan menuju khitbah atau lamaran. Jika, kita melihat fenomena para remaja masa kini sepertinya pacaran sudah menjadi hal yang lumrah bagi mereka. Tak jarang mereka menunjukkan secara terang-terangan di depan umum seperti mengunggah foto, schreenshot chatting mesra saat mengingatkan untuk beribadah, dan jalan berdua walaupun tidak saling bersentuhan. Meskipun hanya berupa chatting tapi jika tidak ada keperluan mendesak juga termasuk dalam khalwat.

Pada awalnya niatan untuk bisa berpuasa menjalankan perintah Allah SWT namun malah menjadi ancaman berkurangnya pahala puasa bagi mereka. Niatan salah ini dipandang biasa bagi masyarakat umum, dengan adanya pacar ini juga membuat mereka bisa bangun sahur tepat waktu dan merasakan Ramadan yang lebih berkesan.

Padahal, ada banyak cara agar dapat bangun sahur tepat waktu dan menjadikan Ramadan yang bermakna. Jika ingin bangun sahur tepat waktu antara lain kita niat dalam hati sebelum tidur untuk bangun pagi,  tidur tidak larut malam, berolahraga guna menjaga kesehatan tubuh sehingga kita tidak sering merasa lelah dan mengantuk, serta menyalakan alarm mandiri atau meminta tolong keluarga membangunkan walaupun itu perlu banyak usaha.

Sehingga, disini Alarm Sahur dari pacar sudah tidak diperlukan lagi sekaligus menghentikan dosa kita dalam berzina. Sedangkan, jika ingin puasa kita lebih bermakna alangkah baiknya kita melakukan kebaikan agar pahala kita berlipat ganda. Seperti perbanyak doa karena saat berpuasa doa-doa biasanya mustajab, mengaji disela kegiatan karena saat membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan merupakan suatu keistimewaan khusus, berbagi dengan sesama, dan mungkin bisa berkumpul dengan keluarga.

Kita sudah tahu jika pacaran saja dilarang bahkan ada sebagian ulama yang mengharamkannya. Sehingga kalau ditanya apakah ada pacaran syar’i? Jawabannya tentu tidak ada. Tentang pacaran menjaga jarak atau bersentuhan itupun hanya alibi saja.  Lalu apakah diperbolehkan pacaran online saat dibulan Ramadan? Jika dibulan selain Ramadan saja dilarang apalagi saat dibulan penuh berkah ini. Oleh karena itu, agar pahala puasa kita tidak sia-sia, sebaiknya kita menghindarinya.

*Yeni Rahmawati, Mahasiswa prodi Akuntansi Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta.