“Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yunus : 57).

Salah satu nama Al-Qur’an adalah ASy-Syifa, yang berarti penawar atau obat. Al-Maraghi menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa makna “Syifa” pada ayat ke-57 surah Yunus adalah penawar atau obat untuk penyakit-penyakit batin, seperti syirik, nifaq, dan seluruh penyakit yang menjadikan dada terasa sempit, seperti ragu dalam keimanan, pembangkangan, permusuhan, gemar melakukan kezaliman, membenci kebenaran dan kebaikan.

Dalam sejumlah riwayat hadis dijelaskan bahwa al-Qur’an, selain berfungsi sebagai Syifa’ atau penawar untuk penyakit-penyakit batin, juga berfungsi sebagai penawar serta obat penyakit lahir.

Kisah tentang seorang sahabat Nabi yang mengobati seorang kepala suku yang tersengat kalajengking dengan membacakan surat al-Fatihah, dan atas izin Allah orang tersebut sembuh, yang disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya, misalnya, merupakan penegasan bahwa al-Qur’an juga bisa menjadi penawar atau obat penyakit lahir (fisik).

Dalam riwayat shahihnya yang lain, Al-Bukhari juga menerangkan tentang Rasulullah Saw. yang pernah mengobati sakitnya dengan membaca al-mu’awwidzatain, yaitu surat al-Falaq dan al-Nas.

Beberapa keterangan ini menjadi dasar pijakan bahwa al-Qur’an sebagai syifa, tidak hanya berfungsi mengobati penyakit-penyakit batin, sebagaimana disebutkan al-Maraghi di atas, tetapi juga bisa berfungsi mengobati penyakit lahir.

Akhir-akhir ini banyak masyarakat modern yang mengalami gangguan jiwa, depresi bahkan stress karena tekanan hidup; beban pekerjaan, persaingan bisnis, masalah keluarga, dan pelbagi persoalan kehidupan lainnya, yang alih-alih mencari penawar serta solusi dengan kembali ke ajaran al-Qur’an, justru mendatangi paranormal, guru spiritual, ‘orang pintar’ dan yang sejenisnya.

Tidak jarang, saran serta nasehat yang diberikan para guru spiritual dan ‘orang pintar’ itu jauh dari ajaran agama, bahkan melanggar ajaran agama.

Padahal, seperti ditergaskan al-Qur’an melalui sejumlah ayatnya, bahwa salah satu fungsi al-Qur’an adalah sebagai syifa’ (penawar, obat, pemberi solusi) atas segala penyakit; lahir-batin, fisik-non-fisik, jasmani-rohani.

Jika saja mereka mau kembali kepada ajaran al-Qur’an, niscaya penawar dan solusi atas segala persoalan yang dihadapinya akan segera terselesaikan.

So, marilah kita kembali kepada ajaran serta nilai yang diajarkan al-Qur’an, sehingga setiap persoalan yang kita hadapi dapat segera ditemukan solusi serta jawabannya.

* Ruang Inspirasi, Rabu, 2 Juni 2021.