Dalam sebuah catatan terhadap disertasi saya enam tahun lalu, promotor saya, bertanya, “berapa lama di lapangan penelitian?” “Sekitar tiga bulan pak,” “tambah sekitar satu minggu menginap di sana,” suruhnya. Hal ini dikarenakan kehadiran di lapangan tidak intens dan cenderung berpusat pada salah satu tokoh tertentu. Suatu riset memang membutuhkan satu kejelian dan satu keterlibatan yang intens antara peneliti dengan informan, dengan begitu suatu penelitian akan menghasilkan satu pola, rumusan hingga suatu deskripsi padat yang layak dan penting.

Meneliti itu harus meresapi dan memiliki chemistry dengan yang diteliti. Ini pelajaran yang sangat penting yang saya dapatkan dari beberapa penelitian mulai tesis dan disertasi. Meresapi maksudnya adalah peneliti mendalami betul riset yang dilakukan. Riset atas sesuatu yang memang menjadi minat dan passion peneliti. Meneliti itu ibarat kita sedang mencari tahu dan menyelidiki seseorang yang kita sukai, sehingga focus dan konsentrasi kita betul-betul dapat tercurah kepadanya.

Sementara yang dimaksudkan dengan chemistry adalah adanya kemelekatan, yang membuat minat kita meneliti itu tumbuh dan senantiasa terjaga api semangatnya. Dua hal ini penting dimiliki oleh seseorang yang sedang melakukan penelitian.

Selama masa pandemi setidaknya terdapat beberepa miniriset mengenai beberapa isu terkait Covid yang telah kami lakukan. Riset tersebut kami lakukan secara kolaboratif baik bersama kolega dosen maupun mahasiswa.  Setidaknya terdapat tiga kategori riset yang telah kami lakukan secara bersama-sama dalam kurun waktu satu tahun masa pandemi ini.

Pertama, Agama dan pandemi sebagai sejarah panjang masa lalu yang terlupakan dalam dunia Islam. Tahukah kita dengan Ibnu Hajar al-Asqalany? Tokoh muslim abad 14 M yang terkenal dengan kitab Tafsir dan hadisnya. Tentu sebagian masih  ingat, namun adakah dalam pengetahuan kita kalau tokoh ini menulis kitab mengenai pandemi yang berjudul Badzlul Maun fi Fadhli al-Thoun? Tentu tidak banyak yang tahu. Ibnu Hajar menulis mengenai pandemi dalam Islam dalam kitab setebal hampir 400 halaman ini. Dia bahkan menulis historiografi pandemi yang terjadi pada masa Islam awal hingga jaman dinasti Abbasiyah.

Kitab ini semasa pandemi menjadi popular dan dikaji dan dikutip oleh para sarjana muslim. Ia menjadi satu permata yang hilang mengenai pandemi dan pola-pola penanganan yang dilakukan pada masa lalu yang berdasar pada model-model pengobatan yang dilakukkan oleh Ibnu Sina, sang dokter muslim berpengaruh di masa Andalus. Kitab ini kemudian banyak dirujuk dalam berbagai artikel yang menulis tentang pandemi pada masa lalu.

Kedua, Agama dan Pandemi di Sosial media. Pandemi telah melahirkan berbagai bentuk pemaknaan dan pembacaan ulang mengenai keberagamaan masyarakat muslim di Indonesia. Pesan-pesan keagamaan melalui meme semakin gencar dilakukan karena bentuk-bentuk pengajian di masa pandemi melalui fasilitas online dan social media. Akhirnya meme-meme bermunculan dalam beragam ekspresi dan pesan. Salah satunya adalah pesan-pesan al-Qur’an dan hadis mengenai pandemi.

Pola menyampaikan pesan pada masa pandemi juga berubah. Dunia online yang merupakan satu dunia yang terpisah dari dunia offline, maka di masa pandemi dunia online berubah menjadi nyata dan menjadi ajang yang semakin kuat dalam menyampaikan pesan-pesan tertentu dengan tampilan gambar tertentu yang disebar melalui media social seperti Instagram, FB, Twitter, dsb. Di masa pandemi, ruang ekspresi di dunia online telah menjadi nyata dan menjadi bagian dari kehidupan riil.

Ketiga, Pesantren dan Penanganan Pandemi. Sebagai anak yang tumbuh di pesantren, minat untuk melihat bagaimana pesantren di masa  pandemi adalah satu hal yang telah melekat pada diri saya. Pesantren yang tidak mampu melakukan phsycal distancing akan menjadi satu problem yang solusinya akan ditemukan sendiri oleh masyarakat pesantren. Banyak hal yang berubah di pesantren pada masa pandemi. Di antaranya, pola menjaga kebersihan yang lebih diperhatikan. Pesantren jadi kenal dengan apa yang disebut dengan higienis, ia jadi kenal dengan peningkatan gizi, dan pentingnya istirahat yang cukup.

Pesantren yang oleh almarhum Gus Dur disebut sebagai subkultur ini juga memiliki cara-cara teologis tersendiri yang dilakukan dalam menangani pandemi. Sebagai satu pusat belajar agama, pesantren memiliki bentuk-bentuk wirid tersendiri yang dibaca sebagai satu cara pesantren berdialog dan berkomunikasi dengan pandemi. Rapalan-rapalan shalawat khas pesantren banyak dilantunkan dalam keseharian santri semasa di pesantren. Dalam penjelasan yang lebih spesifik, health theology di pesantren diaplikasikan sebagai ekspresi dari cara orang pesantren menangani pandemi.

Ketiga tema besar yang telah menghasilkan sekitar 9 tulisan untuk jurnal itu tampaknya memang meminta saya untuk secara empirik merasakan bagaimana sih rasanya menjadi orang dengan Covid. Sehingga saya menjadi orang positif Covid. Sama seperti disertasi itu, aku dipaksa sadar untuk menjalani secara empiric dan merasakan betul apa yang dialami oleh masyarakat yang tidur tanpa Kasur di masyarakat Kasuran itu. Saya dipaksa untuk merasakan apa yang dirasakan oleh penderita Covid yang telah menginfeksi lebih dari setengah juta orang masyarakat Indonesia.

Dalam konteks ini, saya berpikir bahwa meneliti tanpa adanya keterlibatan yang empiris tampaknya kurang sah dilakukan, sehingga mau tidak mau, tampaknya, saya diminta untuk merasakan betul apa itu makna menjadi positif Covid, apa sih isolasi dan karantina, serta sekaligus bacaan-bacaan atau rapalan-rapalan doa yang dibaca saat sedang terinfeksi pesantren. Suatu pengalaman yang sangat berharga menjadi seorang penyintas Covid, dan saya yakin ini bagian dari proses inaugurasi dan kelulusan saya sebagai orang yang bergelut dengan riset pandemi ini. Ketika riset-riset itu sudah 90% selesai, ternyata saya diwisuda dan menjadi alumni Covid sepenuhnya.