Puasa memang bukan sekadar menahan dahaga dan lapar, tetapi menahan diri dari hal yang negatif, baik secara niat, ucapan. Nah apakah artinya sosial media adalah sesuatu yang negatif dan perlu salam goodbye untuk selamanya? Tidak sampai goodbye kok.

Nyatanya sosial media tidak semua membawa hal negatif. Terutama untuk generasi digitalized yang menggunakan sosial media untuk mengucapkan Marhaban Ya Ramadan dan mohon maaf lahir batin sampai berbagai infomasi dari A-Z seputar kegiatan Ramadan, kini semua bisa di akses lewat sosial media. Wah canggih bukan?

Eits, tak semua orang bisa dengan mudah menyikapi penggunaan sosial media dengan hal-hal positif saja. Ada kalanya tangan-tangan tak bertanggung jawab dengan mudahnya membuat hal-hal seperti konten, narasi yang mengundang kontroversi kegaduhan. Seruan untuk puasa sosial media dilakukan guna menciptakan suasana adem ayem. Sosial media telah menjadi kompor dalam isu-isu terkini. Kini saatnya suasana adem diciptakan oleh semua pihak, khususnya para warga digital.

Melalui beragam platform sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram, Line, hingga WhatsApp, kabar kebencian dan berita bohong terus diproduksi dan dibagi-bagi. Sejumlah kabar yang tak jelas kebenarannya itu tak sedikit yang jadi sumbu tersulutnya perseteruan di tengah masyarakat. Tak sedikit pihak yang menghujat merebaknya hoaks di sosial media. Namun tak banyak orang yang mampu membendung beragam narasi kebencian itu. Sosial media yang idealnya menjadi sarana membangun pertemanan justru menjadi pemicu merebaknya bibit-bibit kebencian. Sosial media yang seyogyanya menjadi sarana tumbuhnya kohesi sosial justru memicu keterbelahan sosial.

Narasi cepat saji yang diproduksi sejumlah orang dan diviralkan melalui medsos. Kalau pesan-pesan yang diunggah dan beredar di sosial media itu sebuah pesan bijak yang bermanfaat mungkin tak jadi soal. Namun narasi yang banyak muncul lewat sosial media justru lebih banyak yang tak punya manfaat positif. Tak jarang beragam narasi yang beredar di medsos dibuat dengan instan seperti layaknya makanan cepat saji. Berbagai narasi yang dibuat dengan kilat tersebut kecenderungannya tanpa memperhatikan kebenaran terhadap informasi yang disampaikan.

Apalagi bila diperparah oleh banyaknya pengguna sosial media yang tanpa memeriksa akurasi informasi yang diterimanya dan dengan cepat turut membagi-bagikan informasi tak akurat tersebut. Sering narasi dalam medsos dibuat dalam waktu super cepat, disajikan dan diviralkan. Lihat saja sejumlah pesan-pesan seperti dunia kesehatan mengenai vaksin Covid-19 yang tersebar lewat medsos, termasuk yang viral lewat whatsApp. Ternyata menurut hasil verifikasi sejumlah pihak, hampir 90 persen informasi vaksin yang beredar di medsos itu tidak benar.

Hal inilah yang bikin berinteraksi melalui medsos bikin tak adem dan tak menyejukkan. Tak jarang narasi yang dibuat oleh sejumlah orang dengan sengaja untuk menebar kegaduhan. Tak jadi penting bahwa narasi itu berasal dari sebuah kebohongan. Bahkan narasi kebohongan itu telah tersamarkah oleh viral nya pesan itu karena telah dibaca dan disebarkan oleh banyak orang. Dalam logika medsos, apa yang telah viral itu selanjutnya dipercaya sebagai sebuah kebenaran walaupun aslinya kebohongan.

Kalau sudah begini, lantas bagaimana menghentikan produksi dan merebaknya narasi cepat saji yang diusung lewat sosial media? Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah stop narasi-narasi kebohongan itu cukup di gadget kita saja. Kita tak perlu peduli walau pun pada pesan yang kita terima itu meminta kita turut memviralkan nya. Ketika kita tak ikut memviralkan pesan yang kita tak tahu kebenarannya tersebut maka narasi-narasi hoaks itu lambat laun pasti akan sirna. Narasi-narasi yang mampu menyulut kemarahan dan perpecahan terbukti telah cukup berdampak pada ketenteraman masyarakat.

Momentum menahan haus dan lapar selama bulan Ramadan juga dimaknai sebagai puasa mengakses sosial media. Puasa sosial media ini kalau mau diambil positifnya adalah agar kita, para warga negara dan warga internet untuk sementara berpuasa dari sosial media. Setidaknya, mari kita menahan diri dari menyebarkan hal-hal yang belum tentu benar. Menahan diri dari berkata-kata dan mengetik hal-hal yang belum tentu bermanfaat. Apalagi saat ini bulan Ramadan. Bulan menahan diri.