Islamsantun.org. Saat memberikan testimoni dalam acara tahlil hari ke lima wafatnya Nyai Hj. Zubaidah Nasrullah (Istri amaghfurlah KH. Achmad Nasrullah Abd. Rochim), pengasuh Pesantren Tambakberas, Jombang, penulis menyampaikan penggalan peristiwa 30 tahun silam, saat masih menjadi aktivis gerakan mahasiswa.

Di awal tahun 1990an, penulis sedang diburu aparat karena terlibat dalam gerakan advokasi korban pembagunan waduk Kedungombo. Semua yang terlibat dalam gerakan itu dianggap sebagai musuh negara, subversif  dan dicap sebagai Komunis. Sehingga harus ditangkap dan dipenjara. Bahkan beberapa di antaranya ada yang “dihilangkan”.

Dalam kondisi yang mencekam karena diburu aparat, beberapa aktivis mencoba mencari perlindungan. Atas perantara Gus Upul (syaefullah Yusuf), penulis dapat bertemu Gus Dur dan meminta perlindungan. Alhamdulillah, Gus Dur menanggapi permohonan penulis dan sejak saat itu belia selalu menjadi tempat berlindung para aktivis ketika diburu aparat. Penulis sendiri sering disembunyikan di makam keramat dan di rumah kyai saat diburu aparat setelah melaksanakan aksi demontrasi melawan kebijakan pemerintah Orde Baru.

Ketika penulis meminta perlindungan karena diburu aparat, Gus Dur memerintahkan agar penulis sowan ke Kyai Ahmad Nasrullah di pesantren Tambakberas Jombang.

“Bilang saja ke kyai Nasrullah, salam dari saya dan kamu saya perintah untuk tinggal di sana beberapa hari” demikian kata Gus Dur pada penulis

Setelah mendapat perintah dari Gus Dur, penulis langsung berangkat ke Jombang dengan kereta ekonomi. Sekitar jam 6 pagi penulis sampai di kediaman kyai Nasrullah. Beliau baru saja selesai memberikan pengajian pada para santri. Penulis agak ragu menghadap beliau, karena di mata penulis beliau sosok yang berwibawa. Tatapannya penuh kharisma, meski wajahnya teduh dan sejuk tapi membuat grogi yang memandangnya. Apalagi saat itu penulis datang dengan pakaian dekil, celana lusuh dan robek-robek, rambut gondrong khas aktivis gerakan mahasiswa. Penulis tidak pernah takut dan gentar menghadapi aparat yang garang dan sangar saat aksi, tapi nyali menjadi ciut dan bergetar justru saat menghadap kyai Nasurullah yang wajahnya teduh dan sejuk.

Dalam suasana panik dan grogi, tiba-tiba terdengar suara memecah keheningan: “Sampean mau cari siapa?”  tanya kyai Nasrullah lembut.

“Maaf, saya mau menghadap kyai Nasrulah” Jawab penulis tanpa berani menatap wajah kyai Nasrullah

“Oh… ayo masuk” ajak kyai ramah.

Setelah duduk di ruang tamu kami diperlakukan dan dilayani sebagaimana layaknya tamu pesantren. Bahkan kyai Nasrullah terlihat santai dan akrab. Penulis memang terbiasa datang dan bertamu ke kyai-kyai sepuh untuk memohon doa dan berkah. Akar sosiologis dan kultural penulis memang dari pesantren. Tapi penulis tidak pernah sowan menghadap kyai dengan pakaian seperti ini dan dalam posisi mau mencari perlindungan, inilah yang membuat penulis menjadi canggung dan sungkan.

Melihat sikap kyai Nasrullah yang ramah, familiar dan terbuka, perlahan-lahan sikap grogi penulis mulai hilang. “Sampean siapa?” Tanya kyai Nasrullah

“Saya Zastrouw, kyai”

“Jadi kamu yang namanya Sastro, temannya Arvin?” Kata kyai Nasurullah sambil menyebut nama seorang alumni pesantren Tambakberas yang jadi teman akrab penulis di IAIN Sunan Kalijaga. “Kata  Arvin, kamu yang sering bikin aksi demontrasi dan menggerakkan mahasiswa turun ke jalan ya?” lanjut kyai Nasrullah

“Nggih, kyai, mas Arvin senior saya di IAIN Sunan Kalijaga, kami bersama dia aktif di gerakan mahasiswa..” Jawab penulis dengan suara pelan. Rasa grogi dan panik yang hampir hilang tiba-tiba datang kembali, menyergap lebih keras dari sebelumnya. Nyali kembali ciut mendengar ucapan Kyai Nasrullah. Rupanya beliau sudah mendengar cerita tentang apa yang sudah dilakukan penulis.

“Waduh alamat bakal dimarahi dan ditolak, nih” demikian kata penulis dalam hati. Perasaan ini muncul karena pengalaman penulis yang selalu mendapat marah atau paling tidak saran untuk menghentikan gerakan jika menghadap seorang tokoh dan menceritakan gerakan yang penulis lakukan. Menurut orang-orang tersebut, apa yang kami lakukan itu berbahaya dan bisa menutup masa depan.

“Bagus itu” suara kyai Nasrullah memecah keheningan. “Sebagai anak muda dan mahasiswa harus berani menyuarakan kebenaran dan membela keadilan. Mahasiswa memang harus kritis, tidak boleh diam melihat ketidakadilan. Kalau mahasiswa diam dan hanya peduli pada dirinya sendiri lalu siapa yang akan membela rakyat?”

Byaarrr… mendengar kata-kata dan komentar kyai Nasrullah yang sama sekali di luar dugaan, rasa grogi hilang seketika, nyali yang hampir melayang tiba-tiba kembali membesar. Perasaan penulis saat itu seperti bateray yang sudah habis setrum kemudian mendapat tambahan daya yang berlipa-lipat, seperti ikan menggelepar di daratan yang sudah mengap-mengap dimasukkan ke dalam kolam air jernih. Pelan-pelan penulis mulai berani menatap wajah kyai Nasrullah yang teduh dan sejuk.

“Penulis sowan ke sini disuruh Gus Dur, dan beliau titip salam kepada kyai” demikian penulis mulai berani bicara setelah ketakutan dan rasa grogi hilang

Wa’alaiku salam.… kapan ketemu Gus Dur?”

“Kemarin sore, di Kantor PBNU”

Kemudian penulis menceritakan maksud dan tujuan menghadap kyai Nasrullah. Selain itu juga bercerita tentang keterlibatan penulis dalam berbagai gerakan mahasiswa. Kyai Nasrullah mendengarkan cerita yang disampaikan penulis dengan penuh antusias, tidak menyanggah apa yang penulis sampaikan. Bahkan beliau sesekali bertanya tentang situasi politik dan beberapa kasus yang menjadi perhatian dan memicu gerakan mahasiswa, sehingga terjadi dialog yang santai dan terbuka antara kyai Nasrullah dan penulis. Sikap kyai Nasurullah ini semakin menambah kekaguman penulis pada beliau.

Singkat cerita, kyai mempersilahkan penulis untuk tinggal di kediaman beliau selama beberapa hari, sampai Gus Dur menjemput penulis. Perlu penulis sampaikan, Gus Dur selalu menjemput penulis dari tempat persembunyian jika keadaan sudah dirasa aman. Dan penjemputan ini selalu dilakukan malam atau dini hari.

Ketika bersembunyi di kediaman Kyai Nasrullah inilah penulis bertemu dengan ibu nyai Hj. Zubaidah Nasrullah, istri kyai Nasrullah. Beliaulah yang merawat dan membimbing saya selama berada di persembunyian. Dari sini penulis melihat secara langsung bagaimana Nyai Zubaidah merawat dan membimbing para santri, mendidik orang-orang yang ada di dekatnya. Suatu perempuan hebat yang sangat menginspirasi dan berperan penting dalam dunia pendidikan pesantren. Dari Kyai Nasrullah dan Nyai Zubaidah Nasrullah inilah penulis menyaksikan dan merasakan  bagaimana peran penting pesantren dalam gerakan mahasiswa. Suatu realita yang jarang diperhatikan oleh masyarakat bahkan para peneliti dan akademisi.