Islamsantun.org. Lebih dari satu minggu penulis berada di kediaman kyai Nasrullah di pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Pada hari-hari pertama, kegiatan hanya diam di kamar di lantai atas, kadang ditemani Gus Muh, putra kyai Nasrullah. Penulis tidak diperbolehkan keluar untuk sekadar ikut salat jamaah atau mengaji, karena khawatir tercium oleh aparat. Sampai pada suatu hari, kyai Nasrullah memanggil penulis. Waktu itu tengah malam menjelang dini hari, sepertinya kyai Nasrullah setelah melaksanakan salat tahajud. Saat penulis menghadap, kyai Nasrullah menyerahkan lembaran kertas.

“Ini hizib Gahozali, saya ijazahkan kepadamu. Dibaca setiap habis salat Ashar dan subuh 3x, Ajaztuka” demikian kata kyai Nasrullah sambil menyerahkan foto copy lampiran bertuliskan hizib Ghozali dan menjabat tangan penulis

“Qabiltu, kyai” jawab penulis tegas menerima ijazah tersebut.

Semula penulis tidak tahu apa hikmah dari hizib Ghozali tersebut. Meski demikian, penulis mengamalkan dhawuh kyai Nasrullah, membaca hizib tersebut setiap selesai salat Ashar dan salat Subuh sebanyak tiga kali. Belakangan penulis baru tahu, bahwa hizib Ghozali adalah hizib yang dibaca oleh Imam Ghozali saat beliau menghadapi kesulitan akibat tekanan dari pemerintahan Sultan Yusuf bin Tasyifin dan Ali bin Yusuf, pemimpin kesultanan Murabbithin di Maghribi. Saat penulis matur  ke Gus Dur tentang hizib ini beliau bilang bahwa saat di pesantren Tegalrejo, kyai Chodlori pernah memberikan wadhifah hizib Ghozali kepada dirinya.

Selama berada di kediaman Kyai Nasrullah penulis merasakan langsung sentuhan kasih sayang yang tulus dari Nyai Zubaidah Nasrullah. Beliau selalu memperhatikan penulis, terutama soal kebutuhan sehari-hari. Bahkan penulis selalu diingatkan apakah sudah membaca hizib atau belum. Dari interaksi singkat ini penulis dapat mencatat beberapa hal dari Nyai Zubaidah.

Pertama, beliau adalah sosok yang sabar, penyayang dan peduli pada sesama. Sikap ini merupakan cerminan hati yang bersih karena selalu berzikir dan melafalkan ayat-ayat qur’an. Dalam pengamatan penulis, beliau hampir tidak pernah berhenti berzikir dan melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam setiap waktu dan suasana apapun. Zikir dan ayat qur’an inilah yang memancarkan kelebutan dan sikap welas asih pada sesama

Kedua,  Bu Nyai Zubaidah Nasrullah adalah sosok yang mampu mentransformasikan ayat-ayat qur’an dan lafal zikir dalam laku hidup sehari-hari. Beliau tidak sekadar membunyikan ayat dan melafalkan zikir, tetapi juga mengamalkannya dalam praktik kehidupan. Dengan kata lain, Nyai Zubaidah mampu mentransformasikan teks mati (ayat qur’an dan lafal zikir) menjadi teks hidup (laku hidup sehari-hari). Hal ini terlihat pada sikap kepada penulis, para santri dan tamu-tamu yang menghadap beliau. Semua yang datang diterima dan dilayani dengan sepenuh hati. Tidak pernah dibeda-bedakan. Sikap seperti ini dipertahankan sampai beliau wafat.

Terbukti, tanggal 20 Juni, sekitar sebulan sebelum kepergian beliau, penulis sempat sowan menghadap beliau. Saat itu penulis ingin sowan sekalian jenguk anak yang mondok di pesantren yang diasuh oleh beliau. Sampai di pesantren penulis dapat kabar bu Nyai sedang istirahat dan tidak bisa terima tamu karena kecapean. Penulis sangat memahami kondisi ini.

Tapi tiba-tiba ada santri yang memberi tahu agar penulis menunggu, karena  bu Nyai berkenan menerima kami. Terus terang, penulis merasa terharu dan tersanjung, dalam keadaan cape dan perlu istirahat, beliau masih menyempatkan diri menerima penulis beserta istri dan anak-anak.

Dalam pertemuan ini, beliau sempat memberikan pesan dan nasehat kepada penulis dan keluarga. Beliau memberikan petuah pada putri-putri kami yang mondok di tempat beliau. Salah satu pesan yang masih terngiang hingga saat ini adalah soal akhlak. “Mendidik orang pinter itu gampang, mencari orang pinter itu banyak. Tapi mendidik orang berakhlak itu tidak gampang dan mencari orang berakhlak itu juga tidak mudah” Demikian dawuh beliau pada kami. Penulis merasa beruntung hari itu dapat sowan menghadap beliau dan ternyata itu adalah pertemuan terakhir kami dengan Nyai Hj. Zubaidah Nasrullah. Sikap Nyai Hj. Zubaidah kepada penulis dan keluarga ini menjadi bukti atas akhlak beliau yang mulia, yang selalu menerima siapa saja tanpa membeda-bedakan.

Ketiga, sosok nyai Hj. Zubaidah adalah figur pendidik sejati. Beliau tidak sekadar mengajarkan pengetahuan agama (mu’allim) tetapi juga menata moral dan hati para santri (murobbi). Pola pendidikan yang mengembangkan potensi akademik dan spiritual, antara akal dan akhlak ini memang menjadi ciri khas pesantren. Namun yang menarik, nyai Hj. Zubaidah menerapkan dan mempraktikkan pola ini secara konsisten dan sungguh-sungguh.

Beliau mendidik para santri tidak dengan metode komunkasi verbal semata, tetapi melalui laku hidup dengan pendekatan hati. Kekuatan hati inilah yang mampu menembus perasaan dan jiwa para santri. Sehingga meski tanpa ancaman, tekanan dan intimidasi, santri dapat menerima dan mentaati apa yang dikatakan nyai Zubaidah.

Pendidikan dengan pendekatan hati ini penulis rasakan selama berada dalam persembunyian di rumah beliau. Beliau tidak pernah memerintah apapun pada penulis, apalagi menggurui atau menceramahi penulis. Namun sikapnya, tutur katanya, pilihan katanya saat berbicara mampu menggerakkan kesadaran untuk melakukan sesuatu dan menguatkan hati penulis untuk menerima keadaaan. Inilah hebatnya mendidik dengan  pendekatan hati yang dilakukan oleh bu Nyai Hj. Zubaidah Nasrullah.

Keempat, nyai Hj. Zubaidah Nasrullah adalah sosok yang sangat egaliter. Meski beliau seorang yang alim, menjadi istri kyai besar dan pengasuh pesantren terkenal, namun sikap beliau tetap mencerminkan orang biasa-biasa saja. Bahkan kepada para santri beliau meminta agar dipanggil “Ibu” bukan Nyai. Penulis melihat ada hal penting terkait dengan panggilan “ibu” yang kelihatannya sepele ini. Melalui panggilan “ibu” nyai Zubaidah ingin menghilangkan sekat-sekat prikologis antara dirinya dengan para santri. Beliau menganggap para santri adalah anaknya sendiri dan beliau ingin agar para santri juga menganggapnya sebagai seorang ibu bukan seorang Nyai yang memiliki jarak kultural dengan santri. Melalui panggilan “Ibu” jarak kutural yang bisa menimbulkan hambatan dan sekat psikologis ini dihapus oleh Bu nyai Zubaidah Nasrullah.

Penulis tidak dapat membayangkan, andai pada saat itu kyai Nasrullah tidak bersedia menerima dan memberi perlindungan kepada penulis. Penulis juga tidak dapat membayangkan andai bu Nyai Zubaidah tidak ikut merawat dan mendidik selama penulis dalam persembunyian. Menurut penulis  apa yang dilakukan kyai Nasrullah bersama dengan Nyai Hj. Zubaidah adalah bentuk partisipasi nyata pesantren dalam gerakan mahasiswa.

Perlindungan terhadap aktivis gerakan mahasiswa ini tidak hanya terjadi di pesantren Tambakberas sebagaimana dilakukan oleh Kyai Nasrullah dan Nyai Zubaidah kepada penulis, tetapi juga di beberapa pessantren, misalnya di pesantren Peta Tulungagung asuhan kyai Abdul Jalil, yang pernah melindungi Mimih Chaeruman, aktivis mahasiswa dari Tasikmalaya, pesantren Al-Falah, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, yang pernah menyembunyikan para aktivis Yogya saat diburu aparat dan beberapa pesantren lainnya.

Peran pesantren yang cukup strategis dalam gerakan mahasiswa ini sepertinya kurang mendapat perhatian dari para pengamat, peneliti maupun akademisi. Wafatnya bu Nyai Zubaidah telah mengingatkan jasa-jasa beliau terhadap penulis sebagai aktivis gerakan mahasiswa. Dalam konteks yang lebih luas, kepergian Nyai Hj. Zubaidah mengingatkan kepada kita semua atas peran pesantren dalam gerakan mahasiswa. Laha alfaatihah.